Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Selain Taaruf, Ada Juga Mencari Jodoh Islami ala Koboy. Mau Tahu?

Bagikan, insya Allah jadi amal kebaikan

Di tulisan saya mengenai Tutorial Lengkap Membuat Biodata Taaruf saya berjanji akan membahas cara mencari jodoh ala Islam lainnya yang saya namakan cara koboy. Caranya lebih sederhana dari taaruf dan lebih singkat. Tapi kemungkinan berhasilnya juga 50:50 alias “gimana Allah aja”, soalnya banyak faktor X yang gak bisa kita prediksi sebelumnya.

“Tembak” Walinya

Proses mencari jodoh ala Koboy itu sesederhana kamu dateng ke Ayah sang akhwat (atau Wali) kemudian kamu “Tembak” beliau dengan sebuah perkataan jitu :

Pak saya bermaksud menikahi anak Anda…

Sedaaapppp! Bisa gak kamu lakukan itu?! Hihi.. saya sih gak berani. Nyali saya kurang tinggi dan kewarasan saya masih di bawah rata-rata untuk melakukan hal itu. Tapi percaya atau tidak di masa Rasulullah justru cara Koboy ini yang sering dipake. Contohnya kisah Salman al Farisi ini berikut ini :

“Saya,” katanya dengan aksen Madinah memperkenalkan diri pada pihak perempuan, “Adalah Abud Darda’.”

“Dan ini,” ujarnya seraya memperkenalkan si pelamar, “Adalah saudara saya, Salman Al Farisi.” Yang diperkenalkan tetap membisu. Jantungnya berdebar.

“Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya,” tutur Abud Darda’ dengan fasih dan terang.

“Adalah kehormatan bagi kami,” jawab tuan rumah atas pinangan Salman, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada putri kami.” Yang dipinang pun ternyata berada di sebalik tabir ruang itu. Sang putri shalihah menanti dengan debaran hati yang tak pasti.

Ngeri ya šŸ˜€ . Di cuplikan kisah di atas Salman tidak sendiri. Dia ditemani Abu Darda’ dan memohon bantuan Abu Darda’ untuk menyampaikan maksud Salman meminang putri sang Ibu (Ayahnya sudah tidak ada, jadinya Ibunya yang mewakili). Dibolehkan kok, kamu bawa temen kalau emang nyali kamu masih tersekat ditenggorokan hehe.. šŸ™‚ Yang penting kan niatnya bagus.

Kemungkinannya 50 : 50

KIra – kira apa tanggapan sang Ibu? Banyak hal yang bisa terjadi. Mungkin sang Ibu langsung menerima. Bisa juga langsung menolak. Atau bisa juga si Ibu memohon waktu untuk memikirkannya lebih jauh. Bisa jadi Ibunya setuju tapi Akhwatnya enggak. Atau bisa jadi juga Akhwatnya butuh waktu untuk melakukan shalat Istikharah dulu. Wah, banyak banget kemungkinan ending ceritanya! Oleh karena itu, sewaktu kamu melakukan cara Koboy ini, kuatkan dulu niat dan mental Kamu. Mental diterima, sekaligus mental ditolak. Ya, seperti kisah lanjutan dari Salman dan Abu Darda’ ini :

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili putrinya. ”Tapi, karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman.”

Ah, romansa cinta Salman memang jadi indah di titik ini. Sebuah penolakan pinangan oleh orang yang dicintainya, tapi tidak mencintainya. Salman harus membenturkan dirinya dengan sebuah hukum cinta yang lain, keserasaan. Inilah yang tidak dimiliki antara Salman dan perempuan itu. Rasa itu hanya satu arah saja, bukan sepasang.

Salman ditolak. Padahal dia adalah lelaki shalih. Lelaki yang menurut Ali bin Abi Thalib adalah sosok perbendaharaan ilmu lama dan baru, serta lautan yang tak pernah kering. Ia memang dari Persia, tapi Rasulullah berkata tentangnya, “Salman Al Farisi dari keluarga kami, ahlul bait.” Lelaki yang bertekad kuat untuk membebaskan dirinya dari perbudakan dengan menebus diri seharga 300 tunas pohon kurma dan 40 uqiyah emas. Lelaki yang dengan kecerdasan pikirnya mengusulkan strategi perang parit dalam Perang Ahzab dan berhasil dimenangkan Islam dengan gemilang. Lelaki yang di kemudian hari dengan penuh amanah melaksanakan tugas dinasnya di Mada’in dengan mengendarai seekor keledai, sendirian. Lelaki yang pernah menolak pembangunan rumah dinas baginya, kecuali sekadar saja. Lelaki yang saking sederhana dalam jabatannya pernah dikira kuli panggul di wilayahnya sendiri. Lelaki yang di ujung sekaratnya merasa terlalu kaya, padahal di rumahnya tidak ada seberapa pun perkakas yang berharga. Lelaki shalih ini, Salman Al Farisi, ditolak pinangannya oleh perempuan yang dicintanya.

Apa saya bilang juga! Keshalehan Salman gak jaminan bahwa “Tembakan” nya akan menembus langit ke tujuh dan menuliskan kata “YA” dalam kitab Lauhul Mahfudz. Takdir lebih mengikuti kemauan si Akhwat. Salman ditolak. šŸ™

Jangan terlalu pede dengan kemampuan diri, sebab Allah maha membolak-balikkan hati. Banyak faktor X yang gak bisa kita kendalikan. Jadi kalau cara koboy mu berhasil segeralah bersyukur dengan keputusan Allah. Tapi kalau gagal ya bersabarlah. Di dunia ini masih banyak akhwat shalihah yang mau menjadi pendampingmu. Masih banyak juga janda shalihah yang mau menerima cintamu. Percayalah.. šŸ™‚

Semua Gimana Allah Aja

Sengaja saya pilih kisah Salman ini, karena ibrohnya yang lengkap dan bisa menjelaskan esensi dari mencari jodoh dengan cara Koboy ini. Cara koboy ini gimana Allah aja, jadi suka-suka Allah melanjutkan kisah Salman ini dengan kejadian yang tidak pernah disangka Salman (bahkan saya) sebelumnya :

Salman ditolak. Alasannya ternyata sederhana saja. Dengarlah.

“Namun, jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan,” kata si ibu perempuan itu melanjutkan perkataannya.

Anda mengerti? Si perempuan shalihah itu menolak lelaki shalih peminangnya karena ia mencintai lelaki yang lain. Ia mencintai si pengantar, Abud Darda’. Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak.

Sakit.

Kalau kata Ruben Onsu : Sakiiiiiitittttttt!!!

Begitulah keteladanan Salman dan Abu Darda’ dalam mencari jodoh Ala Koboy. Kita gak tahu endingnya gimana, bahkan bisa jadi ending ceritanya benar-benar di luar dugaan kita. BIsa jadi pengantar si lelakilah yang akan diterima pinangannya.

Tapi bukan berarti cara koboy ini selalu gagal. Ada juga contoh yang berhasil. Misalnya kisah Rasulullah meminang Aisyah kepada bapaknya, Abu Bakar, berhasil. Ada juga kisah Ali bin Abi Thalib yang meminang Fathimah kepada bapaknya, Nabi Muhammad SAW, berhasil. Jadi banyak juga yang berhasil.

Tapi ya kesimpulannya tetep : Jodoh itu di tangan Allah, gimana Allah aja membolak-balikkan hati mempertemukan dua jiwa yang Dia kehendaki.

Ajak Saya ya

“Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia.” Rasulullah memaksudkan perkataannya tentang lelaki shalih yang datang meminang putri seseorang.

“Apabila engkau tidak menikahkannya,” lanjut beliau tentang pinangan lelaki shalih itu, “Niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.”

Semoga hadits di atas bisa menguatkanmu dalam mencari Jodoh. Lelaki shalih hanya berhak berdampingan dengan wanita yang shalih. Percayalah bahwa niat baik pasti akan berbuah baik. Derapkan langkah mu menuju rumah wanita shalihah itu. Awali dengan doa dan penuhkanlah ikhtiar. Insya Allah jalanmu kan diberkahi-Nya.

Oya, kalau butuh teman buat mendampingi boleh juga minta tolong saya huehehe šŸ˜€

Related Posts

Leave a reply