Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Sama Politik Kok Phobia?

Semakin ke sini semakin runyam saja bangsa Indonesia. Korupsi dimana-mana, yang benar dibilang salah yang salah dibilang benar. Kamu mungkin juga merasakan yang sama. Lama-kelamaan kamu jadi males denger berita politik. Berasa isinya orang munafik semua. Apalagi kalau menjelang pemilu, timeline facebook penuh sama berita politik semua ya?

Saya juga prihatin sama bangsa Indonesia. Kayaknya pemimpin kita gak ada yang bener. Awalnya kita kira penyelamat, eh ujung-unjungnya ditangkep KPK juga. Padahal ketua umum partai Islam. Duh.. maluu..! Kamu jadi bingung tujuh keliling? Sama kaya saya dulu. Sekarang enggak. Setelah saya tahu bahwa kita gak bisa menghindar dari kegiatan perpolitikan.

Hidup Berpolitik Adalah Keniscayaan

Kita hidup di negara Indonesia. Kamu tahu negara itu apa? Negara adalah organisasi politik terbesar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Bangsa kalau tidak membentuk organisasi bernama ‘Negara’ berarti dia adalah bangsa yang terpecah belah. Sebab tidak ada kepemimpinan yang menyatukan bangsa Indonesia. Mirip jaman dulu dimana Bangsa Indonesia masih terpecah jadi beberapa kerajaan. Yang ada malah perang satu sama lain bukan?

Beruntunglah Bersyukurlah para pahlawan bangsa kita bisa bersatu melawan penjajah dan akhirnya membentuk negara kesatuan bernama Indonesia. Jadi saat ini kita punya Presiden, MPR, DPR, dan DPRD dan hidup merdeka adalah hasil jerih payah pahlawan nasional kita. Wajib kita apresiasi jasa mereka.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun ’45 membawa pesan besar bagi para pemuda Indonesia untuk bisa mengisi kemerdekaan dengan proyek-proyek pembangunan. Ibarat kita sudah mengusir ketombe dari rambut kita, udah saatnya tuh rambut dijaga dan dipelihara bukan. Jangan sampai berketombe lagi di kemudian hari. Sama juga dengan Indonesia, kamu harus sadar bahwa kehidupan setelah merdeka harus diisi dengan semangat pembangunan. Jangan sampai kita dijajah lagi. Capek tahu dijajah itu.

Ada banyak cara untuk membangun negara. Bisa secara sendirian, bisa secara bersama-sama atau berjamaah. Khusus cara membangun negara secara berjamaah, ada etikanya yaitu kamu harus direstui oleh bangsa Indonesia untuk membangun bangsa ini. Konkritnya, harus ada sebuah mekanisme yang membenarkan sekelompok orang untuk memimpin bangsa dan negara. Proses menuju kekuasaan dan menggunakan kekuasaan inilah yang kita sebut dengan ‘Politik’.

Arti Politik Menurut Aristoteles

Secara etimologis, politik berasal dari kata Yunani ‘polis‘ yang berarti kota atau negara kota. Kemudian arti itu berkembang menjadi polites yang berarti warganegara, politeia yang berarti semua yang berhubungan dengan negara, politika yang berarti pemerintahan negara dan politikos yang berarti kewarganegaraan.

Aristoteles (384-322 SM) dapat dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan kata politik melalui pengamatannya tentang manusia yang ia sebut zoon politikon. Dengan istilah itu ia ingin menjelaskan bahwa hakikat kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah pasti akan melibatkan hubungan politik. Aristoteles melihat politik sebagai kecenderungan alami dan tidak dapat dihindari manusia, misalnya ketika ia mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika ia berusaha meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia berupaya memengaruhi orang lain agar menerima pandangannya.

Aristoteles berkesimpulan bahwa usaha memaksimalkan kemampuan individu dan mencapai bentuk kehidupan sosial yang tinggi adalah melalui interaksi politik dengan orang lain. Interaksi itu terjadi di dalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan konflik sosial dan membentuk tujuan negara. Dengan demikian kata politik menunjukkan suatu aspek kehidupan, yaitu kehidupan politik yang lazim dimaknai sebagai kehidupan yang menyangkut segi-segi kekuasaan dengan unsur-unsur: negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy, beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation).

Arti Politik dalam Islam

Karena istilah ‘Politik’ itu diperkenalkan oleh Aristoteles, otomatis dalam Islam kita tidak akan menjumpai istilah itu. ‘Tidak menjumpai‘ bukan berarti Islam tidak memiliki konsep tentang menyelenggarakan negara, cara merebut kekuasaan, atau menjadi pemimpin negara. Di SMA juga kita sudah diajarkan bahwa Rasulullah adalah salah satu pemimpin negara paling berpengaruh sepanjang zaman, jadi tentu saja dalam Islam pasti ada konsep terpadu mengenai kegiatan ‘Politik’ yang dalam bahasa Arab diistilahkan dengan kata ‘Siyasii‘.

Lafal siyaasi diambil dari lafal “Saasa”, dan isim fa`il “Saa`is”, dan mashdar (akar katanya)-nya “siyaasah” yang artinya penjagaan, maka “Saa`is Al-Khail” berarti penjaga kuda, dan “Saasa Al-`Ummah” berarti menjaga urusan ummat.

Politikus (Siyaasi): adalah orang yang memberikan perhatian kepada urusan-urusan ummat dan memahaminya dengan teliti, mengerti dan mencarikan solusinya berdasarkan ide dan pemikirannya yang benar.

Jadi, kalau diistilahkan, ‘Politik’ atau Siyaasi merupakan suatu amal baik berupa penjagaan terhadap urusan umat dan negara. Siyaasi ini ditandai dengan adanya lembaga-lembaga pemerintahan yang spesifik mengurusi bidang-bidang tertentu. Ada urusan keuangan, pangan, rumah, hubungan internasional dan lainnya. Biasanya tiap urusan dipimpin oleh seorang mentri yang menjadi bawahan langsung dari kepala pemerintahan. Dengan begitu semua permasalahan umat akan dikelola ileh mentri dan dipertanggungjawabkan ke kepala pemerintahan atau negara. Kepala pemerintahannya bisa berupa perdana mentri, raja, atau presiden. Perbedaan istilah itu merujuk pada perbedaan hak wewenang diantar ketiganya. Kalau di Indonesia kita mengenal Presiden. Kalau di Inggris ada Raja dan Perdana Mentri.

Dimana ‘Busuk’nya Politik?

Dari penjelasan saya di atas tidak tampak kebusukan politik kan? Justru politik kita perlukan agar urusan-urusan umat bisa dikelola dengan baik. Namun, mengapa masih banyak di antara kita yang phobia dan antipati terhadap politik?

Insya Allah hadits ini bisa menjawab keresahan itu:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015)

Keadaan akan berubah total jika orang-orang yang memimpin pemerintah bermental bejat dan munafik. Mereka menyelewengkan uang pajak untuk mengisi perut sendiri. Mereka biarkan rakyat kelaparan, dan memperkaya keluarga dan sanak saudara. Mereka berjanji manis di televisi tapi melupakannya saat dilantik jabatan. Itulah yang menyebabkan politik seperti panggung sandiwara yang menjijikan. Orang yang mengkhianati amanat rakyat memang bikin perut mual. Lama kelamaan orang awam jadi bosan dan enggan berpolitik.

Tapi tahukah kamu apa yang terjadi saat kita tak peduli dengan politik? Politik tidak akan mati, namun keadaan akan lebih buruk lagi : Negara dan pemerintahan akan dikelola oleh orang – orang bejat sebagai akibat tidak adanya orang baik yang mau mengelola negara. Yang rugi ujung-ujungnya bakal kamu juga. Kalau kementrian pendidikan dijabat orang bejat, maka jangan menyesal kalau tiba-tiba uang sekolah kamu naik hingga tiga kali lipat karena dikorupsi. Kalau kementrian perdagangan dijabat orang fasik maka jangan stres kalau tiba-tiba di warung kopi beredar minuman keras dan makanan haram. Itu hanya gara-gara kamu gak peduli sama politik.

Makanya benarlah apa kata salah seorang tokoh nasional kita berikut ini :

Masih banyak yang berpendapat bahwa politik itu kotor dan harus dijauhi. Padahal, politik itu keharusan yang tak bisa dihindari.

Tak ada orang yang bisa menghindari politik karena setiap orang pasti hidup di suatu negara, sedangkan negara adalah organisasi politik tertinggi. Orang yang ingin memengaruhi kebijakan negara haruslah merebut kekuasaan politik. Orang yang menyatakan tidak mau terlibat dalam politik dan membiarkan kekuasaan politik diambil orang, maka dia terikat pada kebijakan-kebijakan pemenang kontes politik, betapa pun tak sukanya dia pada kebijakan itu. Karena itu, dapat dikatakan bahwa politik itu adalah fitrah atau sesuatu yang tak bisa dihindari. ~Mahfud MD

So, Ignorance is a crime. Ketidakpedulian kamu terhadap politik adalah kejahatan yang akan menyebabkan keburukan bagi bangsa ini. Makanya mau tidak mau kamu harus ada kemauan memperbaiki bangsa ini lewat jalur politik. Hal yang paling mudah adalah dengan menggunakan hak suara saat pemilihan umum. Pilihlah wakil rakyat atau presiden yang terbaik atau yang paling sedikit kesalahannya. Syukur-syukur kamu mau jadi politikus yang jujur. Tapi butuh mental baja untuk menjalaninya. Luluslah SMA dulu lalu aktiflah di berbagai organisasi untuk mengasah kemampuan berpolitikmu. Saya pribadi menggolongkan pekerjaan politikus sebagai jihad fisabilillah, karena berjuang dengan seluruh jiwa dan raga agar negara tidak dikuasai oleh orang fasik apalagi orang kafir.

Masihkah kamu merasa politik itu kotor? Layangkan pertanyaan dan komentarmu di bawah ini ya. Siapa tahu saya keliru..

Leave a reply