Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Ramadhan, Dari Dulu Hingga Kini

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kamu bertakwa” (Al-Baqarah:183).

“Sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu”, berarti puasa ini sudah dikerjakan oleh umat-umat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Bahkan sejak Nabi Adam Alaihi sallam turun ke bumi.

Ibadah puasa mulai dilaksanakan Nabi Adam ketika terjadi tragedi pohon khuldi dan Nabi Adam di turunkan ke bumi. Nabi Adam bertaubat dan melaksanakan puasa selama 3 hari dalam satu bulan. Kemudian puasa tersebut kita kenal sebagai puasa ayyamul bidh yang dikerjakan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. Ada juga beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Nabi Adam hanya berpuasa pada hari jumat, sebagai pengingat akan peristiwa diturunkannya ke bumi dan ketika Allah menerima taubatnya.

”Sesungguhnya Allah menjadikan Adam pada hari Jumat, diturunkan di bumi pada hari Jumat, dia bertobat kepada Allah atas dosanya memakan buah khuldi pada hari Jumat dan wafat pun pada hari Jumat.” (HR Bukhari).

Ibadah puasa ini kemudian dilanjutkan oleh Nabi Nuh Alaihi salam. Nabi Nuh melaksanakan puasa tiga hari dan beliau pun memerintahkan kaumnya untuk berpuasa ketika mereka berbulan-bulan hidup terkatung-katung di dalam perahu besar di tengah samudera luas akibat bencana banjir besar.

Nabi Ibrahim juga terkenal sering melaksanakan ibadah puasa, terutama ketika akan menerima wahyu dari Allah. Puasa yang dilaksanakan Nabi Ibrahim ini diikuti pula oleh putranya, Ismail dan Ishaq.

Perintah puasa juga diberikan pada Nabi Musa Allaihi salam. Sebelum menerima kitab sebagai petunjuk bagi umatnya, Nabi Musa Allaihi salam berpuasa 30 hari kemudian pergi ke bukit Tursina. Setelah selesai 30 hari berpuasa penuh, Nabi Musa merasa segan akan bermunajat dengan Allah dalam keadaan mulutnya berbau kurang enak akibat puasanya, maka ia mengosok giginya dengan mengunyah daun-daun dalam menghilangkan bau mulutnya. Ia ditegur olah malaikat; “Hai Musa, mengapakah engkau harus mengosokkan gigimu untuk menghilangkan bau mulutmu sedang mulut orang-orang berpuasa bagi kami adalah lebih wangi dari kasturi? Maka akibat tindakanmu, Allah memerintah kepadamu agar berpuasa lagi lebih sepuluh hari sehingga lengkaplah masa puasamu 40 hari.“ Selain itu, Nabi Musa Alaihi Salam dan kaum yahudi melaksanakan puasa yang pada tanggal 10 Muharram, sebagai ungkapan syukur atas kemenangan yang diberikan oleh Allah SWT dari kejaran Firaun.

Berbeda dengan cara berpuasa Nabi Daud, beliau biasa berpuasa secara berselang, yakni sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa. “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Nabi Daud dan shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (Muttafaqun ‘alaih).

Di kalangan masyarakat arab, khususnya orang-orang Quraisy, kebiasaan puasa bukan sesuatu yang asing. Di dalam Shahih Bukhari sebagai mana dirayatkan oleh Aisyah radiallahu’anha disebutkan bahwa sejak jaman jahiliyah, orang-orang Quraisy biasa berpuasa di hari Asyura’ (10 Muharram).

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau melihat orang-orang yahudi berpuasa di hari Asyura sebagai peringatan atas selamatnya Nabi Musa dari kejaran Firaun. Namun Rasull berpendapat umat muslim lebih berhak dalam meneladani Nabi Musa, maka beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh para Sahabat berpuasa juga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mensyariatkan puasa sunnah setiap tanggal 9 dan 10 Muharram (puasa Hari Asyura), untuk membedakan puasa kaum Yahudi, dan juga ungkapan simbolik kemenangan kebenaran atas kebatilan. Begitu perintah puasa Ramadhan tiba, puasa Asyura ini kemudian menjadi puasa sunnah.

Puasa Ramadhan mulai diperintahkan pada tanggal 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah atau satu setengah tahun setelah umat Islam berhijrah dari Mekah ke Madinah, atau setelah umat islam diperintahkan untuk memindahkan kiblatnya dari masjid Al-Aqsa ke Masjidil Haram. Kewajiban puasa diturunkan sejarah bertahap, awalnya bersifat pilihan seperti dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 184, "Dan bagi yang berat menjalankan puasa maka wajib membayar fidyah dengan cara memberi makan orang-orang miskin", ayat ini diturunkan ketika Qaish bin Said yang sudah lanjut usia tidak mampu menjalankan puasa.

Kewajiban puasa pada bulan ramadhan juga dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 183 dalam, yang menarik dari ibadah puasa adalah bahwa semua amal ibadah sejatinya diperuntukkan bagi hamba yang melakukan ibadah itu kecuali puasa, puasa adalah untuk Allah dan Allah sendiri yang akan membalasnya (HR. Bukhari-Muslim)

Puasa adalah ibadah yang dijalankan para Nabi, puasa menjadi sarana untuk mendekatkan diri pada Allah dan jalan untuk menjadi hamba yang dicintainya. Kewajiban berpuasa mengajarkan kita akan keikhlasan dari yang tadinya terpaksa berpuasa menjadi menikmati berpuasa, bahkan berpuasa menjadi sebuah kebutuhan. Puasa mengandung banyak hikmah, puasa ditujukan untuk melatih jiwa, untuk mengendalikan nafsu dan mendidik jiwa untuk memegang amanah. Puasa juga melatih kesabaran dan ketabahan.

Terutama puasa Ramadhan yang memiliki banyak keutamaan. Ramadhan, adalah bulan yang paling dicintai Allah di antara dua belas bulan dalam setahun. Ramadhan juga bulan kesabaran. Ramadhan, datang dengan membawa penghormatan dan pemuliaan Ilahi. Ramadhan adalah nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah Azza wa Jalla kepada kita setelah kita melewati masa yang penuh dengan ujian dan cobaan dalam hidup. Ramadhan tidak lain adalah hari-hari yang cepat datang dan cepat pergi. Sudah berapa banyak Ramadhan menghampiri kita tanpa kita merasakannya. Siapa yang menang dan siapa yang rugi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda,

“Celaka dan rugilah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dia tidak mendapatkan ampunan.”

Berniatlah dari sekarang. Menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah, berpuasa dari dosa-dosa, beristigfar meminta ampun kepada Allah di waktu sahur (menjelang subuh), berdesak desakan berebut untuk mendapatkan takbiratul ihram (shalat jamaah) dan rindu di shaf pertama, senantiasa bersama al Quran, memeluk erat amal-amal sunnah, mendatangi majlis orang-orang shaleh dan berlomba dalam amal-amal kebaikan.

Sumber:

– Muhammad Lili Nur Aulia, Ramadhan Sepenuh Hati

– Fadiatur Rahmi, Portalsatu.com

Leave a reply