Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Persiapan Mental menuju Pernikahan : Ujian & Tanggungjawab

Oleh: Euis Kurniawati
(Ibu 2 putri, ketua to be wow)

Persiapan mental kita menuju pernikahan adalah dengan membangun wacana yang benar, meletakkan paradigma yang proposional tentang sebuah organisasi bernama pernikahan. Bahwa ia tidak hanya berisikan sebuah keindahan dan segala hal yang menyenangkan semata. Akan ada ujian dan tanggung jawab besar disana.

Kita dapati sosok mulia Ibunda Khadijah, misalnya. Lembut, keibuan, dermawan, kaya, support perjuangan dsb. Semua laki-laki pasti tidak menolak jika dapat sosok istri seperti itu. Tapi tidak semua laki-laki siap beristri dengan wanita yang rentang usianya jauh diatasnya. Jika ia bersedia, belum tentu keluarga besar kedua belah pihak bisa menerimanya. Apalagi budaya masyarakat saat ini yang ada stigma kurang pas kalau anak gadisnya menikah dengan laki-laki yang lebih muda.

Ngomong-ngomong saya termasuk yang ini lho. Kebetulan Allah menjodohkan saya dengan berondong ganteng yang usianya lebih muda 2 tahun dari saya. Hhehehe,

Kita dapati pula sosok Aisyah yang tidak hanya shalihah, tapi juga cantik, cerdas, dan lincah. Semua laki-laki pasti ingin mendapatkan sosok demikian, tapi tidak semua laki-laki siap menghadapi sikap cemburu beliau yang bisa banting piring di depan tamu..

Dalam pernikahan selalu ada ujian. Ujian tentang bagaimana beradaptasi dengan laki-laki asing yang menjadi suami kita berikut keluarga besar beliau dengan karakter atau latar belakang yang tak sama, misalnya.

Contoh, saya beberapa kali menjumpai ada diantara kawan-kawan yang sering update status di FB ataupun status di bbm dan berkeluh kesah tentang sikap suaminya. Terkadang bahkan masalah yang sangat sederhana tapi bisa memicu ketidaknyamanan. Misal pencet pasta gigi dari tengah, padahal kebiasaan kita pencet dari bawah. Misal kalau habis makan kotoran di piring tidak pernah dibuang langsung ke tempat sampah padahal kebiasaan kita sebaliknya. Misal suami tidak pernah mengembalikan barang-barang di tempat semula dan ditaruh berserakan, padahal kita memiliki kebiasaan rapi. Dan sebagainya.

Yang jadi pertanyaan; Kenapa di publish di medsos? Entahlah, beberapa mengaku biar suaminya tersindir dan sadar. Beberapa mengaku suaminya gak bakal tahu karena memang gak punya FB, postingan itu sekedar untuk menyalurkan emosi dan bikin plong.
Tapi apakah memang demikian penyikapan yang tepat? Apakah tidak justru memicu permasalahn lain di kemudian hari?

Kita juga berbicara Tanggung jawab yang tak ringan terlebih saat telah dikaruniai keturunan, misalnya. Itulah kenapa dikatakan menikah itu memenuhi setengah agama. Karena tanggung jawabnya pun tak ringan.

Itulah kenapa paradigma yang benar dalam memandang pernikahan harus benar-benar kita siapkan sejak awal, biar ndak terkejut dan shock saat menghadapinya. Biar kita juga siap dengan berbagai sikap yang bijak dan tepat saat menghadapinya. Bahwa menikah tak sekedar berbicara tentang cinta dan romantisme, tapi ada ujian dan tanggung jawab besar yang menyertainya.

Leave a reply