Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Perbedaan Halaqahnya anak SMP, SMA dan Kuliah

Saya sudah pengalaman mementor 3 generasi yang berbeda : SMP, SMA dan Kuliah. Ada kalanya saya mementor adik mentor yang sama sejak SMP sampai Kuliah (bayangin kurang lebih dia mentoring 7 tahun sama saya!) Ada kalanya saya mementor adik mentor yang fresh sejak SMP, atau sejak SMA atau sejak Kuliah. Yah, macem – macem deh pengalamannya.

Pengalaman saya itu menjadi ilmu tersendiri bagi saya. Saya lalu faham, bahwa berdakwah ke 3 generasi ini caranya benar- benar sangat berbeda. Anak SMP lebih kekanak-kanakan. Kalau SMA masa – masanya galau. Nah, kalau Kuliah mereka sudah mulai kritis. Seringkali materi yang dibahas pun berbeda tingkat kedalamannya. Meskipun judul materinya sama, tetap saja keluasan wawasan dan teknik menjelaskannya beda sama sekali.

Berikut ini penjelasan singkat saya mengenai pengalaman saya mementor di 3 generasi : SMP, SMA dan Kuliah. Ceritanya konteksnya adalah baru ikutan mentoring bukan yang sudah cukup lama mengikuti mentoring. Sebab, kalau sudah lama mentoring materi dan kegiatannya bisa lebih “menarik” dan “menantang” hehe.

Halaqahnya anak SMP

Saya gak nyangka kelas 1 SMP banyak juga yang tertarik ikut mentoring. Tapi ya, itu juga pengaruh dari kakak-kakak Rohis yang kreatif dalam melakukan recruitment. Anak-anak SMP suka main. Makanya untuk Rohis SMP harus dibanyakin program games dan simulasinya. Kalau gak ada games, biasanya anak-anak akan cepat bosen. Abis itu gak mentoring lagi deh.

Sewaktu halaqah kita gak banyak kasih materi. Paling 10 menit beres. Abis itu games, atau simulasi. Makanya dulu Badan Mentoring Rohis di SMP saya punya buku kumpulan games. Insya Allah cukuplah dimainkan selama 6 semester (3 tahun). Games biasanya berdurasi 30 menit sampai 1 jam. Sesudah itu ada yang pulang atau main sendiri dengan adik mentor lainnya. Kalau mentoring mulai jam 8 pagi, biasanya jam 10 udah pulang. Atau ada juga beberapa yang mau nunggu shalat dhuhur sampai jam 12.

554 crew 54

Jadi keywordnya adalah : Materinya bentar, mainnya yang lama.

Tapi ada tapi-nya. Biasanya kalau udah kelas 3 SMP mereka sudah mulai berubah. Mainnya jadi jarang dan sudah mulai serius. Sewaktu kelas 3 SMP mentor/murobbi udah bisa membahas materi yang lebih dalam atau lebih berbobot. Cuman jangan terlalu berat. Kan mereka siap – siap  mau ujian kelulusan juga. 🙂

Halaqahnya anak SMA

Rata-rata kalau sudah SMA sudah pada puber ya. Makanya selain dasar keislaman, materi tentang pergaulan remaja juga harus intensif diberikan. Banyak kasus anak Rohis pacaran ya karena masih belum faham adab menjaga hijab antara lawan jenis.

Kalau sudah SMA, biasanya materinya masih dasar keislaman. Tapi kalau sudah kelas 2 sudah bisa diajak bahas mengenai amal jama’i. Tapi ya itu liat – liat dulu adik mentornya. Kalau baru masuk Rohis jangan dikasih dulu. Belum siap mereka. Kalau dasar keislamannya sudah bagus, barulah sedikit – sedikit diajak membahas amal- jama’i.

Tempat mentoring bisa di luar sekolah. Mungkin mesjid dekat sekoah atau di rumah adik mentor. Sekalian silaturahim juga dengan orang tuanya.

Bakar Jagung 5

Durasi materi bisa lebih lama. 2 jam sudah komplit dengan Tilawah, Materi, diskusi dan curhat. Tapi diperpanjang gak masalah. Karena anak SMA banyak yang suka ngobrol panjang lebar. Terutama yang kritis –kritis. Untuk Program Rohis tetap adakan program gamesnya. Tapi buat juga kegiatan – kegiatan yang menantang seperti rihlah, tafakur alam, mabit dan lainnya. Biasanya program yang menantang bisa membuat adik mentor betah dan suka dengan kegiatan Rohis.

Halaqahnya anak Kuliah.

Sebenarnya sedikit rancu istilah “anak Kuliah” ya. Mereka bukan anak-anak lagi! 🙂 Tapi karena memang SMP, SMA dan Kuliah itu digolongkan sama yaitu Dakwah Sekolah, maka untuk alasan ini kita benarkan saja ya. (maksa haha).

Kalau mementor anak Kuliah lebih asik dan menantang lagi. Di satu sisi kitanya yang harus banyak wawasan. Harus sering baca buku. Pembawaannya juga harus dewasa, untuk mengimbangi daya berfikir adik mentor. Pertemuan sudah bisa dilakukan malam hari (untuk ikhwan). Biasanya orang tua sudah percaya kalau anaknya pergi malam untuk mengikuti halaqah. Jadi sangat fleksibel dari sisi waktu ketika mementor anak Kuliah.

Materi juga fleksibel. Mau bahas ringan hayu. Bahas yang berat dan bertele-tele juga sikat aja. Ya asal itu tadi; mentor harus banyak baca. Bagi anak kuliah diskusi ilmiah itu mengasyikkan! 🙂

BIasanya kalau sudah kuliah bisa dilibatkan sedikit demi sedikit dengan amal Jamai. Baik itu kegiatan yayasan atau dakwah ammah (dakwak kepada masyarakat).

554 crew 35

Saran saya, untuk adik mentor Kuliah perbanyak dauroh – dauroh yang akan meningkatkan keterampilan mereka. Anak kuliah punya peluang besar mengikuti dauroh – dauroh karena waktnya sangat fleksibel dan tidak terlalu terikat dengan aturan orang tua lagi.

Related Posts

1 comment

Mhon bagi game tuk smp ya…trms

Leave a reply