Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Pelajaran dari Manajemen Mesjid Jogokariyan Untuk Aktivis Dakwah

Bagikan, insya Allah jadi amal kebaikan

Jogokariyan telah menjelma dari masjid kampung menjadi mesjid yang -tidak hanya mengindonesia tapi juga- mendunia. Bukan karena bangunannya yang megah, tapi karena kegiatannya yang sungguh memesona.

Manajemen mesjidnya bikin banyak orang kagum. Kok bisa shalat subuh berjamaahnya seramai shalat jumat? Kok bisa tarawihnya mengundang imam palestina? Kok bisa mesjidnya tidak pernah sepi dari rombongan yang ingin melakukan studi banding? Yuk kita dengarkan pengakuan Bang @yoezznart dan @salimafillah berikut ini.

Jogokariyan

Jogokariyan. Ya, sebuah kampung kecil di bagian selatan jogja. Kampung kecil dimana 18 tahun ini aku tinggal, dibesarkan dan dididik. Dibesarkan di lingkugan yang kurasa sangat nyaman dan tentram ini. di lingkungan dengan masyarakat yang damai dan dikelilingi masyarakat yang mengerti akan agama.

Kader Mesjid Jogokariyan

Betapa tidak, banyak masyarakat disini yang menjadi ustad dari ustad lokal maupun sampai tingkat nasional.

Siapa tak kenal ketua takmir di MAsjid Jogokariyan dan sekaligus penasehat dari Sri Sultan Hamengku Buwono X yaitu Ustad Jazir ASP.

siapa tak kenal Ustad muda yang selalu memberikan kisah kenabian ke berbagai kota di Indonesia dan juga telah menginjakkan kaki ke tanah suci Palestina yaitu Ustad Salim A Fillah .

Siapa tak kenal doktor muda pengamat politik internasional yaitu shofwan al-bana.

Siapa tak kenal motivator muda yg selalu mengisi acara training motivasi >> fatan fantastik.

Atau owner penerbit buku islami terkenal di Yogyakarta yaitu Pro-U Media, Ust. Fanni Rahman.

Dan banyak lagi yg tak tersebut namanya yg selalu istiqomah menyerukan Islam di kampung kecil ini.

Alhamdulillah, sempat ada juga ustad yang ketika mengisi di #jogokariyan diakhir kultum selalu meminta doa agar segera mendapatkan rumah di kampung ini. *Amin*

Letak Mesjid Jogokariyan

Mungkin banyak yang tau tentang Jogokariyan tapi tak tau tempatnya. Ya itu banyak.

“Rumahnya mana ya mas??

                                         ☆ di Jogokariyan pak

Oalah jogokariyan yg ketika ramadhan ramai itu ya, masuk TV juga lho. tapi itu daerah mana sih mas dari jogja??”.

Ya kampung ini berjarak sekitar 30 menit dari UGM. Mengambil arah menuju Jl. Parangtritis tepatnya tidak jauh dari wilayah Kantor pos besar Yogyakarta, kira-kira tidak sampai 3 Km arah selatan ke jalan Parangtritis. Ke selatan lagi kita akan menemui SPBU Jogokariyan. Dari SPBU itu ambil arah ke Barat. itulah Kampung Jogokariyan.

Tidak lebih 100 m bangunan hijau megah akan tersuguhkan tepat di jantung kampung Jogokariyan,ya Masjid Jogokariyan. Sebuah masjid kampung yang berdiri tegak di pojok perempatan kampung Jogokariyan (Jl.Jogokariyan 36, Mantrijeron,Yogyakarta).

Dan tidak jauh pula dari Pondok Krapyak Yogyakarta juga Plengkung gading. Ya mungkin suatu saat akan ada yang bilang “belum ke jogja kalau belum ke jogokariyan lah!”. Atau ada yang bilang “asli!! aku pengen banget ke kesana tapi kapan aku ke jogja yaaa??”. Mungkin juga ada yang bilang “udah pokoknya aku harus pindah rumah ke #jogokariyan! titik” *amin*

Tapi udah ada tuh yang bilang ” masjid jogokariyan, harus kesampaian!!!” *amin*
“enak banget suasana di sini, nyaman dan tentram. Kampung Jogokariyan !”

“wuihh baru kali ini nemuin hotel, selevel bintang 3 ada di sebuah masjid” #Jogokariyan

alhamdulillah untuk saat ini aktifis dakwah masjid siapa yang tak kenal jogokariyan.

Ustad Jazir ASP sesekali mengisi ceramah beliau sisipkan tentang manajemen masjid Jogokariyan. Atau Ustad muda kita Ust. @salimafillah sembari berbagi ilmu keliling indonesia beliau sisipkan juga cerita kerinduan tentang #jogokariyan. Atau ketika stasiun TV nasional selalu memberitakan kegiatan #Jogokariyan saat Ramadhan.

Alhamdulillah, Menurut Dewan Masjid Indonesia pusat, Masjid jogokariyan, merupakan masjid terbaik ke-3 se Indonesia.
Yang merupakan salah satu masjid yg ada di luar Jakarta selain ke 4 masjid lainnya yg ditetapkan masjid terbaik berada di DKI Jakarta.

Alhamdulillah tak kurang minimal ada 3 kali tiap pekan kedatangan tamu untuk study banding manajemen masjid #jogokariyan. Atau hanya sekedar menginap bermalam di “hotel Islamic Centre” masjid Jogokariyan. Atau ada yang sengaja hanya berkunjung untuk ikut berjamaah sholat wajib.

Alhamdulillah, karena kesadaran masyarakat, penuh sesak shaf berjamaah ketika sholat subuh di tegakkan. Karena ini juga merupakan visi masjid #jogokariyan yang dicanangkan dalam membangun ‘Jogokariyan darussalam’, “jamaah subuh minimal 50% dari jamaah sholat jum’at” .

Jamaah maghrib di ruang utama, serambi selatan, dan serambi utara-pun alhamdulillah juga penuh. Ini karena kesadaran masyarakat, mereka tahu betapa pentingnya jamaah dimasjid, 27 lebih pahala lebih baik kan daripada 1?

Jadwal Aktivitas

Senin, Ada kajian Tafsir al-quran untuk umum. plus konsumsi 😀

Selasa, Remaja Masjid Jogokariyan perlu peningkatan ilmu agama dan juga untuk pendekatan ukhuwah remaja, kajian rutin PEMARA(Pengajian Malam Rabu). Plus Konsumsi 😀

Kamis, jam 8 pagi terlaksana Majelis Dhuha oleh Ustad Jazir, Plus konsumsi 😀

Kamis menjelang senja berjejer ratusan motor memadati halaman parkir untuk mendengarkan Majelis Jejak Nabi Ust. Salim A. Fillah. ada Menu buka juga 😀

Jum’at maghrib-isya lantunan merdu Ayat Suci Al-qur’an dan juga cara membaca al-qur’an yang benar terdengar oleh Ust. Sholihudin di Tahsinul Qur’an.

Jum’at, jam 8 malam dari rumah ke rumah tiap pekan terganti Jamaah dari Remaja Masjid Jogokariyan mengunduh untuk bertadarus Al-qur’an.

Sabtu, maghrib-Isya ratusan anak-anak tergabung dalam HAMAS #Jogokariyan meramaikan serambi selatan masjid guna mendengarkan dongeng, pengajian atau terkadang game kecil asah kreatifitas.

Setiap hari Maghrib-Isya ratusan anak-anakpun dengan semangat mengaji penuhi serambi selatan masjid #Jogokariyan melantunkan Kalimat-kalimat-Nya

tiap Jum’at ‘setup’ jambu hangat tersuguh untuk jamaah setelah selesai sholat jum’at

tiap Ahad pagi, kopi susu hangat menemani rangkaian kuliah subuh di Masjid #Jogokariyan

“wong enom kui Doyan sego ora doyan suoro!” dari kalimat itu Ust.Jazir selalu berprinsip, orang muda itu selalu senang jika diberi nasi(konsumsi) daripada hanya diberi suara atau mendengarkan saja.

Mari, jika ada waktu silahkan datang dan mampir 😀

ORGANISASI

disinilah aku pertama dikenalkan organisasi.

Dari HAMAS(Himpunan anak2 Masjid Jogokariyan) yang fokus untuk mengurusi anak2 yg ada di lingkup #jogokariyan. Belajar berdakwah dikampung bersama2, belajar menjadi seorang kakak yang dapat mencontohkan adik2nya, belajar bersosial, dan tak lupa belajar untuk mendidik adik2 untuk belajar membaca iqra’ atau Al-qur’an.

Disinilah kami belajar berorganisasi, walaupun hanya di lingkup anak-anak tapi inilah tugas dakwah yg dijanjikan Allah akan mendapatkan surga-Nya. *insyaAllah* *amin*

Ya di Masjid jogokariyan dari berbagai usia mendapatkan jatah tuk dapat mencicipi amanah dakwah sosial berbasis masjid ini.

Ada HAMAS, Pengurus HAMAS, RMJ(remaja Masjid #Jogokariyan), KURMA(bapak2muda), UMMIDA(ibu2 muda) dan TAKMIR MASJID.

Sampai bahkan tidak mengenal apa itu karang taruna yang teman2 bilang, atau di Jogokariyan pun tak ada karang taruna.

Aku berpikir karena masjid sebagai pusat kegiatan dikampung jogokariyan jadi RMJ (remaja masjid jogokariyanlah) yang mengambil peran itu.

DariJogokariyan Untuk Indonesia, dan Dunia !

Fasilitas yang dibutuhkan. Ya itu selalu menjadi sorotan utama takmir Masjid Jogokariyan, karenanya jamaah dari anak-anak hingga orangtua merasa nyaman datang ke masjid.

“aduh lha ngko nek ning mesjid sandalku ilang e..” Insya Allah Takmir akan mengganti jika ada sandal yg hilang, sesuai merk, harga dan ukuran 😀

“Dilarang tidur di Masjid!” kalimat itu mungkin sudah familiar terlihat di tembok2 masjid yang kita temui. Silahkan Istirahat di masjid jika terasa lelah ataupun malam2 ingin rehat sejenak. Ijin terlebih dahulu supaya tidak terjadi apa-apa.

“duh, mau ke kamar mandi kok di gembok ya masjidnya!” alhamdulillah masjid Jogokariyan terbuka 24 Jam. Jika haus ada dispenser juga 😀

Alhamdulillah AKU sangat bersyukur tinggal di kampung ini. JOGOKARIYAN I’M IN LOVE!! :*

Sejarah Dakwah di Mesjid Jogokariyan

Dari Jogokariyan, kami bercita membawakan cahaya untuk gelap semesta dengan da’wah di 3 pilar utama: Al Quran, Masjid, & Sirah Nabawiyah.

Pertama Al Quran. Di th 1980-an, HM Jazir ASP -ayah dari @ShofwanAlBanna- yang mewakafkan diri menyelusur pelosok negeri menemukan fakta: rendahnya ketahanan ‘Aqidah ummat bukan semata faktor ekonomi, melainkan ‘rasa memiliki terhadap agama’.

Mereka ringan berpindah agama, sebab selama ini meski ber-KTP Islam, tapi tak ada rasa handarbeni terhadap agamanya.

Di mana ‘rasa memiliki agama’ ini terasas muncul? Observasi HM Jazir ASP menunjukkan: dalam kemampuan melafalkan Kitab Suci.  Di zaman itu, pembelajaran melafalkan Al Quran masih rumit, dengan metode Turutan, Baghdadiyah, dll yang disertai pengejaan.

HM Jazir ASP lalu menginisiasi satu cara pembelajaran melafalkan Al Quran yang didasarkan pada 1 tujuan asas: CEPAT BISA.
Metode baru yang berasas ‘langsung baca tanpa dieja’ & ‘cara belajar santri aktif’ itu diujicobakan di PAJ (Pengajian Anak Jogokariyan)

Sejarah IQRO’ dari Jogokariyan

Suatu hari, KH As’ad Humam RA dari Kota Gede berkunjung & melihat cara HM Jazir ASP mengajar Al Quran dengan metodenya itu. Mereka berdua pun akhirnya duduk bersama, menyempurnakan metode & menyusun buku ajar Al Quran yang lalu dinamai: IQRO’.

Bermula dari Pengajian Anak #Jogokariyan, IQRO’ -Cara Cepat Belajar Membaca Al Quran- telah lahirkan 160 Ribu TPA di seluruh Indonesia. Generasi seusia kita berhutang pada IQRO’ yang walau tak lepas dari kekurangan telah merevolusi pembelajaran baca Al Quran.

Kini, IQRO’ yang di awal kehadirannya disambut tak ramah, dengan kegigihan HM Jazir ASP berkeliling negeri, diterima luas.
IQRO’ telah menjadi sistem ajar Al Quran resmi Malaysia, Brunei, & Singapura. Kini bahkan dirintis di UEA, Qatar, & Oman.

Tak lupa tujuan awal IQRO’: membangun ketahanan ‘Aqidah dengan menguatkan rasa memiliki agama melalui kemampuan baca Quran.

Pilar kedua : Mesjid

Tahun demi tahun, metode IQRO’ terus dikembangkan, diperbaiki, & disempurnakan; pelatihannya menjangkau aneka pelosok.  Maka sejak pertengahan 1990-an, HM Jazir ASP mulai menggarap pilar da’wah kedua: MASJID. Dan beliau memulainya dari Masjid Jogokariyan.

Datanya: negeri kita memiliki lebih dari 1 Juta Masjid; besar & kecil. Berapa yang jadi BEBAN dibanding yang MEMBERDAYAKAN?

Ratusan ribu Masjid membebani jamaah tuk listrik, air, & kebersihan padahal pemanfaatannya hanya shalat & tak pernah penuh. Aset Masjid berupa jutaan M2 tanah & bangunan dinilai dari aspek apapun; Spiritual, Sosial, & Ekonomi sangat tak produktif.

Padahal, soal Masjid adalah ideologi sekaligus substansi  Peradaban Islam. Lawannya: ideologi & substansi Peradaban Pasar. 

Sebaik-baik tempat di muka bumi & yang paling dicinta Allah adalah Masjid. Seburuk-buruknya ialah Pasar. Tapi ada rumusnya:

“Jika Pasar mengalahkan Masjid, maka Masjid MATI. Jika Masjid mengalahkan Pasar, maka Pasar HIDUP.” -Abu Bakr Ash Shiddiq-

Istilah Masjid & Pasar sejatinya tak cuma mewakili tempat; namun juga nilai Peradaban, ie: Ekonomi Pasar vs Ekonomi Masjid. Tapi baiklah tidak kita panjangkan bahasan itu; kita masuk pada langkah strategis & praktis yang ditempuh HM Jazir ASP di

Manajemen Masjid

Secara sederhana, -apa yang di kemudian hari disebut Manajemen Masjid- ada di 3 langkah: Pemetaan, Pelayanan, Pemberdayaan.

Pemetaan artinya; setiap Masjid harus memiliki peta dakwah yang jelas, wilayah kerja yang nyata, & jama’ah yang terdata.

Pendataan Komprehensif

Pendataan yang dilakukan Masjid terhadap jama’ah mencakup potensi & kebutuhan, peluang & tantangan, kekuatan & kelemahan.

HM Jazir ASP di Jogokariyan menginisiasi Sensus Masjid: pendataan tahunan yang hasilnya menjadi Data Base & Peta Dakwah komprehensif.

Data Base & Peta Dakwah Jogokariyan tak cuma mencakup nama KK & warga, pendapatan, pendidikan dll melainkan sampai pada siapa saja yang shalat & yang belum, yang berjama’ah di Masjid & yang tidak, yang sudah berqurban & berzakat di Baitul Maal Masjid Jogokariyan yang aktif mengikuti kegiatan Masjid atau belum, yang berkemampuan di bidang apa & bekerja di mana, dst. Detail sekali.

Dari data base Masjid Jogokariyan kita misalnya bisa tahu; dari 1030 KK (4000-an penduduk), yang belum shalat th 2010 ada 17 orang. Lalu bandingkan dengan data th 2000, warga Jogokariyan yang belum shalat ada 127 orang. Dari sini, perkembangan da’wah 10 th terlihat.

Peta Dakwah Jogokariyan memperlihatkan gambar kampung yang rumah-rumahnya berwarna-warni: hijau, hijau muda, kuning, dst hingga merah.

Di tiap rumah ada juga atribut ikonik: Ka’bah (sudah berhaji), Unta (sudah berqurban), Koin (sudah berzakat), Peci dll. Konfigurasi rumah sekampung itu dipakai tuk mengarahkan para Da’i yang cari rumah. Saya misalnya ditempatkan di Barat Daya

Data potensi Jama’ah dimanfaatkan sebaik-baiknya; segala kebutuhan Masjid Jogokariyan yang bisa disediakan jama’ah diorder dari mereka.

Masjid Jogokariyan juga berkomitmen tidak membuat Unit Usaha agar tak menyakiti jama’ah yang memiliki bisnis serupa. Ini harus dijaga. Misalnya; tiap pekan Masjid Jogokariyan terima ratusan tamu. Konsumsi tuk mereka diorderkan gilir pada jama’ah yang punya rumah makan.

Data jama’ah digunakan tuk Gerakan Shubuh Berjama’ah. Pada 2004 dibuat Undangan Cetak layaknya pernikahan tuk itu; by name.

UNDANGAN: “Mengharap kehadiran Bapak/Ibu/Saudara …. dalam acara Shalat Shubuh Berjama’ah, besok pk 04.15 WIB di Masjid #Jogokariyan..” Undangan itu dilengkapi hadits-hadits keutamaan Shalat Shubuh. Hasilnya? Silakan mampir Jogokariyan merasakan Shubuh sepertiga Jumatan.

Manajemen Pengumpulan Kas Mesjid

Sistem keuangan Masjid Jogokariyan juga berbeda dari yang lain. Jika ada Masjid mengumumkan dengan bangga bahwa saldo infaknya jutaan, Jogokariyan selalu berupaya keras agar di tiap pengumuman, saldo infak harus sama dengan NOL! Infak itu ditunggu pahalanya tuk jadi ’amal shalih; bukan tuk disimpan di rekening Bank. Pengumuman infak jutaan akan sangat menyakitkan jika tetangga Masjid ada yang tak bisa ke RS sebab tak punya biaya, atau tak bisa sekolah. Masjid yang menyakiti jama’ah ialah tragedi da’wah.

Dengan pengumuman saldo infak sama dengan NOL; jama’ah lebih semangat mengamanahkan hartanya. Kalau saldo jutaan, ya maaf.

Masjid Jogokariyan pada 2005 juga menginisiasi Gerakan Jama’ah Mandiri. Jumlah biaya setahun dihitung, dibagi 52; ketemu biaya pekanan. Dibagi lagi dengan kapasitas Masjid; ketemu biaya per-tempat shalat. Lalu disosialisasikan. Jama’ah diberitahu bahwa jika dalam sepekan mereka berinfak segitu, maka dia Jama’ah Mandiri. Jika lebih, maka dia Jama’ah Pensubsidi. Jika kurang maka dia Jama’ah Disubsidi. Sosialisasi ditutup kalimat: “Doakan kami tetap mampu melayani ibadah Anda sebaik-baiknya.”

Gerakan Jama’ah Mandiri sukses menaikkan infak pekanan Masjid Jogokariyan hingga 400%; ternyata orang malu jika ‘ibadah saja disubsidi.

Demikianlah jika peta, data, & pertanggungjawaban keuangannya transparan (Infak Rp. 1000 pun kita tahu ke mana alirannya) tanpa dimintapun Jama’ah kan berpartisipasi. Tiap kali renovasi, Masjid Jogokariyan berupaya tak membebani jama’ah dengan proposal. Takmir hanya pasang spanduk, “Mohon Maaf Ibadah Anda Terganggu, Masjid Jogokariyan sedang Kami Renovasi.” No rekening tertera di bawah.

Kisah Renovasi Mesjid

Satu kisah lagi untuk menunjukkan pentingnya data & dokumentasi.

Masjid Jogokariyan punya foto pembangunannya di th 1967. Seorang bapak sepuh berpeci hitam, berbaju batik, & bersarung sedang mengawasi para tukang mengaduk semen tuk Masjid Jogokariyan..

Di th 2002/2003 Masjid Jogokariyan direnovasi besar-besaran; foto itu dibawa kepada putra si kakek dalam gambar, seorang Juragan Kayu.

Dikatakan padanya, “Ini gambar Ayahanda Bapak ketika membangun Masjid #Jogokariyan, kini Masjid sudah tak mampu lagi menampung jama’ah kami bermaksud merenovasi Masjid; jika berkenan tuk melanjutkan ‘amal jariyah beliau, kami tunggu partisipasinya di #Jogokariyan ^_^”

Sumber : http://rindumasjidku.blogspot.co.id/

Related Posts