Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Online VS Offline

Telah kita ketahui sama-sama bahwa anak remaja zaman sekarang dapat disebut sebagai generasi Z di mana ciri khas mereka adalah sudah mengenal dan menggunakan teknologi canggih sejak anak-anak. Usia berapa teman-teman memiliki handphone pribadi? Sepertinya sekarang sudah ngga ada yang pakai handphone, karena sekarang semua sudah smartphone. Fungsi utama smartphone adalah sama dengan telepon, sebagai alat komunikasi antar manusia. Dengan kemajuan teknologi saat ini kamu sekarang bisa berkomunikasi dengan temanmu bahkan orang asing yang berada jauh di sana, di belahan bumi yang lain, terima kasih internet. Komunikasi menggunakan smartphone tidak hanya dengan cara menelepon menggunakan pulsa yang mungkin sekarang sudah mulai sedikit yang melakukannya. Orang lebih suka menggunakan chat, online call, online video call, dan fitur canggih lainnya yang ada di aplikasi media sosial mereka. Berkomunikasi tidak lain merupakan cara manusia melakukan hubungan interpersonal. Tren berkomunikasi menjadi lebih canggih, namun apakah kualitas hubungan menjadi lebih baik? Atau semakin buruk?

Berdasarkan salah satu laporan agensi marketing di Amerika pada tahun 2015 terdapat sekitar lebih dari dua milyar manusia di dunia yang memiliki akun media sosial yang aktif. Bila dibandingkan dengan total populasi manusia di Bumi saat ini yang berjumlah sekitar tujuh milyar, berarti sekitar 28.6% -nya memiliki kehidupan aktif di media sosial. Fakta menarik lainnya ditemukan dalam sebuah penelitian di Amerika pada tahun 2014 yang dilakukan oleh psikolog dari San Diego State University bahwa meningkatnya pengguna media sosial berbanding lurus dengan jumlah warga yang memiliki gejala depresi, semakin banyak orang yang depresi. Dapat penulis katakan, definisi singkat dari depresi adalah perasaan sedih yang terus menerus dan tidak bersemangat menjalani hidup. Hal itu tentu termasuk gangguan psikologis. Apakah benar gara-gara media sosial bisa bikin depresi? Tergantung. Ya, tergantung bagaimana orangnya menggunakan media sosial itu.

Tidak jarang penulis temui beberapa kekurangan dalam berkomunikasi secara online. Ketika kita chatting saja, jika informasi yang ingin disampaikan cukup rumit, sangat mungkin terjadi kesalahpahaman. Kurang tanda baca saja bisa bikin salah paham. Syukur kalau yang baca ngga lagi bete, reaksi dia bisa makin emosional nan lebay kalau salah paham saat bad-mood. Adanya chat-group juga merupakan kecanggihan dalam berkomunikasi, jadi tidak perlu menghubungi orang-orang yang ingin dihubungi satu per satu. Namun demikian, kadang keasyikan ngobrol di chat-group bisa makan waktu banyak, apalagi kalau member groupnya lebih dari 20 akun yang aktif berpartisipasi dalam obrolan yang sedang berlangsung. Ratusan notifikasi pesan masuk seakan-akan mewajibkan pengguna akum media sosial untuk memeriksanya. Waktu terbuang sia-sia, ya ngga bro? Belum lagi kalau sedang seru berdebat, terus saja saling balas komentar/chat tanpa ada yang mau mengalah. Ada yang ingin menasihati atau membenarkan, eh, malah tersinggung.

Terlalu sering berkomunikasi melalui dunia maya juga dapat mempengaruhi kehidupan sosial kita di kehidupan yang sebenarnya. Sebagai contoh, hubungan antar anggota keluarga yang semestinya dekat, bisa terasa jauh ketika sama-sama sedang makan di meja makan yang sama. Kenapa? Yap, karena masing-masing sibuk dengan smartphonenya. Ada notifikasi berbunyi, langsung cek, belum lagi membalas komentar dari foto makanan yang baru saja diposting sebelum  makan bersama. Perbedaan yang jelas terasa antara komunikasi online dan offline adalah dari usaha yang dikeluarkan untuk berkomunikasi itu sendiri. Komunikasi online bisa kamu lakukan kapan saja dan informasi yang disampaikan dalam bentuk tulisan, masih bisa diedit kembali sebelum dikirim. Sedangkan komunikasi offline, kamu harus mendatangi lawan bicara, fokus memperhatikan perkataannya, dan menunjukkan bahwa kamu menghargai setiap apa yang diucapkannya. Jika terbiasa berkomunikasi melalui online, bisa jadi kurang bisa menghargai orang lain saat bicara dengan kita secara langsung.

Berkomunikasi melalui dunia maya dengan di kehidupan asli tentu memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Melalui online mungkin komunikasi dapat terjadi dengan lebih cepat dan mudah dibandingkan dengan memalui bertemu langsung. Tetapi, dengan usaha yang lebih untuk berkomunikasi dengan seseorang akan membuat dirimu lebih menghargai lawan bicara. Salah satu hal yang hanya didapatkan melalui komunikasi secara langsung namun tidak didapatkan melalui dunia maya, yaitu emosi. Apa yang sedang benar-benar dirasakan lawan bicara, emosi lawan bicara dapat kita lihat melalui ekspresi wajahnya, gerak-gerik tubuhnya, intonasi suara ketika bicara. Meskipun di media sosial online sudah ada emoticon, emoji, sticker, dll. bisa saja bukan seperti itu keadaan dia sebenarnya.

Aspek emosi tersebut sebenarnya sudah sangat diperhatikan oleh para pengembang teknologi yang semakin hari semakin canggih ini. Adanya fitur online video call untuk individu maupun untuk grup menurut penulis cukup membantu, namun butuh kuota internet agak besar sepertinya. Kesimpulannya, berkomunikasi melalui online memang canggih dan mempermudah, namun jika terlalu sering bahkan lebih sering dilakukan daripada komunikasi secara langsung, kamu tidak akan mendapat apa yang hanya didapat dari komunikasi secara langsung. Di sini penulis ingin menekankan bahwa komunikasi secara langsung itu lebih baik dalam menjaga hubungan dan lebih berkualitas hubungannya daripada komunikasi secara online.

Alangkah lebih baik jika kita dapat mengendalikan diri kita dalam berkomunikasi secara online dan menjadi lebih sering berkomunikasi secara langsung kepada siapapun. Dengan memperbanyak komunikasi secara langsung kamu dapat belajar menjadi pendengar yang baik, menjadi lebih waspada dengan ucapan sendiri, dan lebih menghargai lawan bicara baik itu orang tua, teman, atau orang asing. Selain itu, dengan komunikasi secara langsung juga mempermudah kamu menjalankan amalan-amalan sunnah nabi saw. seperti mengucapkan salam duluan ketika bertemu, menahan lebih lama genggaman tangan ketika berjabat tangan, bersedekah dengan memberikan senyuman, dan lain sebagainya.

 

Sumber: www.amust.com.au, www.scientificamerican.com, www.wikipedia.com

Leave a reply