Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Meski Berbeda tapi Gak Benci

Islam agama yang sempurna. Saking sempurnanya, ada sendi tertentu dari agama ini yang bersifat fleksibel dan dijadikan keindahan sendiri saat terjadi perbedaan di dalamnya. Itulah sendi “Fiqih” namanya.

Sebuah testimoni indah mengenai dua da’i yang memiliki pandangan berbeda mengenai zikir berjamaah dan doa qunut ini bisa kita ambil ibrohnya, bahwa berbeda tak perlu saling benci..

Ya, inilah cerita indah Ustad Arifin Ilham mengenai kesaksian beliau saat berbeda pendapat dengan al ustad Khalid Basalamah. Keduanya saling mencintai. 

Indah sekali… Mari yuk kita simak.



“Berbeda Tetapi Tetap Sayang”


Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.

SubhanAllah walhamdulillah kanda tercinta fillah ustadz DR Kholid Basalam adalah seorang mujahid da’wah yg juga seorang pengusaha sukses dg PT Ajwad -nya. Beliau lahir di Makassar, 01-Mei-1975, pendidikan beliau S1 Universitas Islam Madinah (Saudi Arabia), S2 Universitas Muslim Indonesia (Indonesia) dan S3 Universitas Tun Abdul Razzak (Malaysia).

Da’wah beliau memang kental gaya salafi yg kita kenal, yg tidak lepas dari bahasan dan rujukan selalu Alqur’an dan Sunnah, dan beliau tsiqqoh menda’wahkan dan istiqomah mengamalkannya. Pribadi yg tegas, wibawa, santun, murah senyum, mudah akrab dan sangat menghormati perbedaan.

Itulah pandangan abang tentang beliau setelah 3 tahun mengenal beliau. Sering bersama dalam berda’wah bahkan bersama dalam siaran TV. Saat saat makan bersama di restoran yg beliau punya, dan beliau pun sering kali ke rumah abang bersama istri dan anak anak beliau. Dan kami pun saling memberi hadiah. Arifin memanggil beliau abang, “bang Kholid”, abang tercinta karena Allah.

Sungguh walau kami berdua berbeda faham tentang Zikir Berjamaah, tetapi beliau mau hadir untuk memberi tawshiyah walau tidak ikut zikir bersama. Beliau tidak berqunut, tetapi saat sholat subuh di mesjid Az Zikra disamping abang, beliau ikut berqunut. Saat abang hadir di mesjid beliau, malah abang diminta memberikan ceramah dihadapan jamaah beliau. Sungguh beliau sangat bijak, sangat santun dan penyayang pada saudara mu’min.

Kami bersama saling sayang karena Allah, perbedaan kecil diantara kami tidak membuat kami bermusuhan, karena kami mengutamakan Allah dan RosulNya, mengutamakan da’wah, mengutamakan ukhuwah, dan mengutamakan kemaslahatan umat dan negeri tercinta ini.

Insya Allah sejuta hikmah atas peristiwa terjadi, dan semoga semua saudara saudaraku seiman tercinta yg berbeda faham dg beliau semakin bijak dan arif menyikapinya, “we are moslems brothers, we love each other because of Allah, i love you abangku tercinta ustadz DR. Kholid Basalamah”.

Allahumma ya Allah persaudarakan kami dalam barisanMu, rapatkan barisan kami demi Syariat dan Sunnah NabiMu yg mulia, dan keberkahan negeri kami tercinta Indonesia…aamiin.

Abang tulis menjelang magrib di mesjid Az Zikra Sentul Bogor.

07/03/2017

(KH Muhammad Arifin Ilham)

Diskusi

Kesahajaan dua da’i ini membuat iri kita yang seringkali berbeda pendapat mengenai berbagai hal yang khilafiyah.

Bolehlah kita berbeda pendapat tentang sayyidina saat bershalawat, telunjuk lurus atau bergerak saat duduk tasyahud akhir, hukum musik, nyanyian dan gambar, dzikir pagi dan petang Al Ma’tsurat, dan perkara lainnya dengan lebih menjunjung tinggi rasa cinta dan persatuan umat islam.

Mereka bisa, kenapa kita enggak?

Leave a reply