Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Menjadi Banci, Nasib atau Pengen?

Kalau saya lihat banci yang ngamen di jalan, saya suka bingung. Saya harus marah atau mengasihani mereka? Apakah itu keinginan mereka atau nasib sial yang menimpa mereka?

Konteks

Menjadi banci konteksnya berbeda dengan mengalami cacat fisik. Tidak ada yang mau fisiknya cacat. Tapi belum tentu tidak ada yang mau menjadi banci. Ada saja orang yang mau menjadi banci.

Banci adalah ‘penyakit’ kejiwaan, atau lebih tepatnya penyimpangan kejiwaan karena tidak semua banci menganggap itu ‘penyakit’.
Malah banyak banci yang menganggap itu ‘blessing’, anugerah dari Allah, dan rela ‘berdarah-darah’ menuntut hak yang sama dengan manusia ‘reguler’.

Perhatikan bahwa sepanjang sejarah tidak ada nabi yang banci sehingga kita bisa melihat permasahan ini secara clear dan menyimpulkan bahwa banci memang penyimpangan fitrah manusia.

Banci di zaman Nabi Muhammad

Apakah di zaman nabi ada banci? Ada. Berikut haditsnya.

Hadits shahîh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhâri :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ، وَقَالَ: «أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ قَالَ: فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلاَنًا، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنًا

َDari Ibnu Abbas, katanya, “Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki mukhannats dan para wanita mutarajjilah. Kata beliau, ‘Keluarkan mereka dari rumah kalian’, maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengusir Si Fulan, sedangkan Umar mengusir Si Fulan”

Dalam riwayat lain disebutkan:

،لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بالنِّسَاءِ والمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بالرِّجَالِ

Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang menyerupai wanita, dan para wanita yang menyerupai laki-laki

Mukhannats artinya yang kewanita-wanitaan, mutarrajilah yang kelaki-lakian.

Ini dua hadits yang menyuruh kita memerangi LGBT, karena mereka memang terlaknat di sisi Allah.

Dalam Syarahnya, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullâh mengatakan, bahwa laknat dan celaan Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tadi khusus ditujukan kepada orang yang sengaja meniru lawan jenisnya. Adapun bila hal tersebut bersifat pembawaan (karakter asli), maka ia cukup diperintah agar berusaha meninggalkannya semaksimal mungkin secara bertahap. Bila ia tidak mau berusaha meninggalkannya, dan membiarkan dirinya seperti itu, barulah ia berdosa, lebih-lebih bila ia menunjukkan sikap ridha dengan perangainya tadi.

Dari penjelasan syarah di atas, dan dua hadis yang telah disebut di atas jelas bahwa memjadi banci itu bukan nasib sial yang harus diterima pasrah begitu saja. Tapi dia adalah penyimpangan jiwa manusia yang harus segera dirubah agar terhindar dari rahmat Allah.

Ah, kini saya tahu dan yakin bagaimana saya harus bersikap kepada banci.