Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Mengapa Akhwat Lebih Membutuhkan Pernikahan dibanding Ikhwan

Pada saat sesi Taaruf biasanya Ikhwan diberikan biodata akhwat terlebih dahulu. Jika cocok, maka akhwat mendapat giliran untuk melihat biodata si ikhwan. Proses tadi memakan waktu berhari-hari dan yang unik, akhwat tidak tahu kalau biodatanya sedang dibaca ikhwan. Ada yang tahu kenapa?

Menikah berbeda antara Ikhwan dan Akhwat

Ini masalah perasaan dan kekhawatiran mengenai masa depan. Akhwat lebih perasa daripada ikhwan apalagi urusan mencari jodoh. Jika akhwat tahu proposalnya ditolak, maka dia cenderung sedih dan akan banyak melamun. Berbeda dengan ikhwan yang lebih mengedepankan logika dan mudah move on kembali bertaaruf dengan akhwat yang lain.

Prioritas Setelah Menikah

Kita juga perlu tahu perbedaan prioritas setelah menikah antara ikhwan dan akhwat. Setelah menikah, ikhwan punya prioritas yang sangat mendesak yaitu bekerja dan terus berpenghasilan. Sementara akhwat mempunyai prioritas menjadi Ibu.

Dua kondisi ini tidak korelatif. Maksudnya yang satu tidak sebanding dan saling menggantikan dengan yang lain. Ikhwan bisa saja bekerja sebelum menikah tapi akhwat tidak bisa menjadi ibu sebelum menikah. Akhwat HARUS melalui pernikahan hingga bisa menjadi Ibu. Masalahnya, kemampuan akhwat menjadi ibu akan menurun secara fisik seiring bertambahnya usia.

Benar-benar tidak sebanding bukan?

Resiko Jika Tidak Menikah

Mari kita ambil resiko terburuk yaitu jika akhwat tidak menikah hingga tutup usia, apa yang akan terjadi?

Sudah pasti akhwat tersebut semakin sulit memiliki keturunan karena peluang akhwat mendapat keturunan pada umumnya secara medis paling baik sebelum umur 35. Sementara ikhwan masih bisa memiliki keturunan meski usia sudah 40 tahun lebih (beberapa mengatakan 50 tahun).

Tidak hanya itu, akhwat akan semakin terbebani ketika melihat teman sebayanya sudah memiliki anak besar-besar pintar dan menggemaskan. Perasaannya semakin tercabik dengan pandangan masyarakat terhadapnya meski ia sadar bahwa kesabaran akan menjadi tiketnya menuju surga.

Butuh Perlindungan

Akhwat secara mental sangat membutuhkan ikhwan yang bisa melindungi dan memberi rasa aman. Di masyarakat yang relatif aman dan liberal sekalipun akhwat takut keluar malam atau bepergian jauh tanpa ditemani mahramnya. Pun ketika di rumah akhwat akan merasa takut jika sendirian setelah larut malam.

Citra dan Perkataan Masyarakat

Akhwat yang masih tidak menikah hingga usia senja cenderung menjadi bahan pergunjingan di tengah masyarakatnya. Meskipun tidak ada yang salah pada dirinya namun tak bisa mengelakkan akan pergunjingan di tengah masyarakat.

Penelitian Psikologi

Sebuah Guru besar psikologi pernah mengadakan penelitian tentang mentalitas wanita. Hasilnya, 95% wanita berfikir bahwa dirinya tidak bernilai tanpa kehadiran laki-laki, dan betapapun kerasnya seorang wanita menolak kehadiran laki-laki, pada akhirnya dia akan menyesal juga.

Kemanakah Engkau duhai Ikhwan?

Alangkah mulianya Islam menganjurkan pemuda-pemudi untuk menyegerakan pernikahan dan mempermudahnya. Seharusnya Ikhwan bisa mempertimbangkan posisi akhwat saat menimbang calon pendamping hidup dengan tidak menunda-nunda pernikahan.

Kemana engkau duhai ikhwan? Tak inginkah engkau membangun generasi sholeh dunia akhirat dengan segera menikah?

Ref: Untukmu yang akan menikah dan telah menikah (Syaikh Fuad Shalih)