Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Materi Tarbiyah : ‘Urgensi Syahadat’ (PDF + DOC + PPT)

Bagikan, insya Allah jadi amal kebaikan

Ajaran Islam adalah ajaran yang lengkap. Ia menyentuh semua segi kehidupan duniawi, baik lahir maupun batin. Untuk menjadi seorang muslim seutuhnya, seseorang harus memiliki komitmen yang utuh terhadap ajaran Islam. Keislaman yang hanya da di lahir namun batinnya kafir, maka tidaklah diterima. Kesilaman yang hanya di hati namun fisiknya tidak mau tunduk untuk mengamalkan perintah agama, juga tidak dibenarkan. Atau, mengamalkan sebagian ajaran agama dan meninggalkan sebagian yang lain, tidak juga dibenarkan.

Untuk menjadi sah keislaman seseorang, selain harus memiliki komitmen yang utuh, maka ia harus mendasari keislamannya dengan dua syahadat. Keislaman itu hanya dianggap benar manakala  ditegakkan  di  atas  fondasi  syahadat. Apakah  syahadat  itu?  Ia  adalah  ucapan persaksian  atau  pernyataan  yang  harus  diucapkan  seseorang  untuk  dianggap  sebagai muslim. Dua syahadat itu terdiri dari syahadat tauhid dan syahadat risalah. Syahadat tauhid adalah pengakuan dan persaksian bahwa “Tidak ada tuhan selain Allah”, dan syahadat risalah adalah pengakuan dan persaksian bahwa “Muhammad adalah utusan Allah.”

Seorang anak yang lahir sebagai seorang Muslim dengan lingkungan yang islami dan tumbuh berkembang juga dengan didikan Islam, mereka tidak dituntut untuk mengucapkan syahadat itu secara formal, karena ia memang terlahir sebagai Muslim. Akan tetapi, bagi mereka yang lahir dari orang tua non-muslim, lalu tumbuh dan berkembang dengan didikan non-Islam pula, tatkala ia dewasa dan menjadi sadar dan kembali kepada Islam, ia harus mengucapkan syahadat itu. meskipun pengucapan syahadat itu sebenarnya tidak membutuhkan persaksian dari  seorang  pun –karena cukuplah Allah  sebagai  saksi-  namun  terkadang  ia  dihajatkan mengucapkan syahadat di hadapan orang banyak , agar secara sosial diketahui dan diterima kehadirannya sebagai Muslim.

Berikut ini akan dijelaskan urgensi seorang Muslim bersyahadat secara lebih terperinci.

Pintu Masuk dalam Islam (Al-Madkhal ila Al-Islam)

Jika seseorang memasuki ruang yang tetrutup, dia memerlukan password atau kunci untuk membuka pintunya. Demikian juga untuk masuk Islam, seseorang harus terlebih dahulu harus mengucapkan  kalimat  syahadatain  (dua  syahadat),  yaitu  laa  ilaaha  illallah  dan Muhammadurrasuulullah.  Inilah  kunci  Islam  itu.  Dengannya,  seorang  Muslim  bisa mendapatkan  semua  yang  dijanjikan Allah  SWT,  baik  berupa  diterimanya  amal  di  dunia hingga pahala yang melimpah ruah di akhirat kelak. Tanpa kunci itu, semua amal –sebaik apapun dalam pandangan manusia- tidak ada nilainya di hadapan Allah SWT..

Seseorang yang beramal sebaik apapun, belum dianggap sebagai seorang Muslim jika belum mengucapkan dua kalimat syahadat. Meskipun seseorang menjalankan shalat, zakat, puasa, haji, hingga pun berjihad membela agama, akan tetapi bila dia belum mengucapkan kalimat syahadat, maka semua amalan tersebut akan tertolak. Dia belum disebut seorang Muslim, sehingga amalannya pun tidak dihitung sebagai amal shalih.

Abu Thalib, paman Rasulullah SAW adalah seorang yang berjuang membela Rasulullah SAW, keponakannya.  Ketika  menasihati  keponakannya  agar  berhenti  berdakwah  menyebarkan Islam, maka Abu Thalib berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai keponakanku, kaummu telah datang kepadaku. Mereka mengatakan kepadaku begini dan begini. Sayangilah diriku dan dirimu, janganlah membebani diriku dengan persoalan yang berada di luar kesanggupanku.”

Rasulullah SAW menjawab, “Wahai paman, demi Allah, seandainya mereka itu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku menghentikan urusan ini, maka aku tidak akan berhenti sebelum Allah memenangkan agama-Nya atau aku binasa karenanya.” Kemudian Rasulullah SAW bangkjit dari duduk dan berlinang air matanya.

Melihat hal itu, Abu Thalib kemudian berkata, “Keponakanku, pergilah dan katakan apa saja yang kamu sukai. Demi Allah, kamu tidak akan kuserahkan kepada siappun juga, selamanya.”

Sejak saat itu, tiada hari yang dilalui oleh Abu Thalib kecuali untuk membela keponakannya dalam mendakwahkan Islam. Sayangnya, Abu Thalib sedikitpun tidak mau mengucapkan dua kalimat syahadat hingga menjelang sakaratul maut.

Menjelang kematian Abu Thalib, para pemuka kafir Quraisy berkumpul di sekelilingnya. Ketika itu  Rasulullah  SAW  mencoba  membimbing  pamannya  dengan  berkata,  “Wahai  paman, katakan laa ilaaha illallah, satu kalimat yang dapat saya jadikan hujah untuk membela Anda di sisi Allah.”

Setelah Rasulullah SAW berkata seperti itu, Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah langsung menimpali, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?”

Begitulah  detik-detik  kematian Abu  Thalib  hingga  kematiannya.  Dia  tidak  mengucapkan kalimat syahadat. Rasulullah SAW masih berusaha memintakan ampunan kepada Allah SWT untuk pamannya dengan berkata, “Aku akan memohonkan ampunan untukmu selama tidak dilarang.”

Kemudian Allah SWT menurunkan dua ayat-Nya berikut ini dalam Al-Qur’an.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ﴿١١٣

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada
Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat
(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni
neraka jahanam..”(QS. At-Taubah : 113)

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿٥٦

Sesungguhnya  engkau  tidak  akan  dapat  memberi  petunjuk  kepada  orang  yang  engkau kasihi…(QS. Al-Qashah : 56)

Sebagus apapun amalan seseorang, jika tidak pernah mengucapkan syahadat, maka akan sia-sia, sebagaimana amalan Abu Thalib. Umar bin Khattab pernah menangis ketika melihat para pastor dan rahib sambil membaca ayat,

“bekerja  keras  lagi  kepayahan,  memasuki  apa  yang  sangat  panas  (neraka)”.  (QS.  AlGhassiyah : 3-4)

Konklusi Ajaran Islam (Khulaashah Ta’alim Al-Islam)

Materi dua kalimat syahadat terdiri dari dua prinsip. Pertama, pengakuan akan tiadanya tuhan (ilah) selain Allah dan kedua, pengakuan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kedua prinsip ini mengandung dua konklusi ajaran Islam, yang keduanya menjadi landasan bagi diterimanya amal. Jika seorang Muslim mengamalkan suatu amalan, baik itu berupa ibadah mahdhah (khusus), seperti shalat, atau ibadah amah (umum) seperti sedekah, maka kedua landasan itu harus melekat padanya. Pertama, ikhlas karena Allah dan kedua, sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.

Ikhlas Karena Allah SWT

Kalimat laa ilaaha illallah, mengandung prinsip ikhlas. Demikian itu karena kata ilah, yang umumnya diterjemahkan dengan “tuhan” ternyata mengandung pengertian yang jauh lebih spesifik.  Imam  Ibnu  Taimiyah  menjelaskan  arti  kata  “ilah”  dengan  mengatakan,  “Segala sesuatu  yang  dicenderungi  hati  dengan  seluruh  perasaan  cinta,  pengagungan, penghormatan, pemuliaan, rasa takut, rasa harap, dan lainnya.”

Maka kalimat laa ilaaha illallah berarti tidak ada sesuatu yang dicenderungi oleh hati dengan seluruh perasaan cinta, kecuali Allah SWT. Dalam kalimat ini terkandung hakikat ikhlas itu, di mana  seseorang  hanya  mengharapkan  ridha  dan  pahala Allah  dalam  beramal,  sebelum mendapatkan berbagai tujuan duniawi.

Jadi,  bila  seseorang  beramal  disertai  hati  yang  cenderung  kepada  selain Allah,  maka sesungguhnya dia telah melanggar prinsip ikhlas itu.

Ikhlas memang rumit, karena ini menyangkut perasaan dan niat. Ada ketidakikhlasan (riya’) yang jelas, namun ada pula yang samar dan mudah menipu kita.

Jika Anda mengerjakan shalat sunah Dhuha, namun tujuannya agar disebut ahli ibadah sunah oleh mereka yang menyaksikan, maka jelaslah bahwa amalan Anda tidak berpahala karena tidak ditujukan bagi Allah.

Demikian  pula  jika Anda  bersedekah  kepada  orang  lain  dengan  mengharapkan  balasan kebaikan  dari  orang  yang  Anda  sedekahi,  maka  jelas  bahwa  amalan  Anda  tidak  ada pahalanya di sisi Allah, karena memang Anda tidak menghendaki itu. Hal ini relatif jelas unsur riya’nya.

Jika Anda bersedekah dan merasa ikhlas, namun di kemudian hari orang yang Anda sedekahi berbuat sesuatu yang menyakiti hati Anda dan Anda tidak suka dengan mengungkit-ungkit kebaikan  yang  pernah  diberikan  kepadanya,  maka  sesungguhnya  Anda  telah  gagal mempertahankan  ikhlas.  Ternyata Anda  tidak  semata-mata  mengharap  ridha Allah  SWT sebagaimana  perkiraan Anda  semula,  namun  juga  ingin  dibalas  oleh  orang  yang Anda sedekahi. Keadaan perasaan seperti ini jelas meruntuhkan ikhlas itu. Anda hanya disebut ikhlas  jika  tidak  ada  bersitan  perasaan  sedikitpun  dengan  kebaikan  yang  pernah Anda berikan, meskipun ia membalas Anda dengan perilaku yang buruk. Di sinilah letak rumit dan sulitnya  ikhlas  karena  Allah,  namun  ia  harus  tetap  ditegakkan  dan  diperjuangkan kaehadirannya.  sebenarnya,  perasaan  riya’  merupakan  benih  dari  syirik,  yaitu mempersekutukan Allah. Na’udzubillah min dzaalik.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda,

“Sesunggunya sesuatu yang paling ringan namun paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah SWT berfriman pada hari kiamat, ketika memberikan balasan kepada manusia atas amalan mereka, “Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Perhatikan apakah kamu mendapatkan balasan dari mereka?”(HR Ahmad)

Riya’  bukan  saja  atas  amal  yang  kita  lakukan,  namun  riya’  juga  bisa  berjangkit  ketika seseorang meninggalkan amal namun tujuannya justru agar disebut sebagai orang yang tidak berbuat syirik atau riya’.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

“Melakukan amal karena manusia itu syirik. Meninggalkan amal karena  manusia  itu  riya’.  Sedangkan  ikhlas  adalah  ketika Allah  melepaskan  kalian  dari keduanya.”

Ar-Raghib Al-Asfahani dalam kitabnya Mufradat Alfadz Al-Qur’an mengartikan ikhlas dengan

“Melepaskan (hati) dari segala sesuatu selain Allah SWT”

Allah SWT berfriman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ ﴿٥﴾

“Dan  tiadalah  mereka  diperintahkan  kecuali  untuk  beribadah  kepada  Allah  dengan memurnikan  ketaatan  kepada-Nya  dalam  (menjalankan)  agama  yang  lurus…”  (QS.  AlBayyinah : 5)

Mengikuti Petunjuk Rasulullah SAW

Kalimat  syahadat  yang  kedua  adalah  Muhammadurrasuulullah  yang  artinya  “Muhammad adalah  utusan Allah.”  Syahadat  kedua  ini  juga  mengandung  prinsip  dasar  ajaran  bahwa Muhammad SAW adalah ikutan dan rujukan dalam praktik ibadah kepada Allah SWT, karena beliaulah wasiithah (perantara) yang menghubungkan umat manusia dengan Allah SWT.

Untuk  dapat  menegakkan  prinsip  ini,  seorang  Muslim  harus  ittiba’  (mengikuti)  petunjuk Rasulullah dalam setiap gerak dan amalannya. Allah SWT berfirman,

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku…” (QS. Ali Imran : 31)

Ittiba’  kepada  Rasulullah  SAW  adalah  menjadikan  Rasul sebagai  uswah (teladan)  dalam menjalankan perintah Allah SWT. Dengan kata lain, mengaplikasikan sunah Rasul dalam kehidupan praktis sehari-hari, baik dalam kaitan amal ibadah khusus maupun ibadah secara umum.  Dimulai  membuka  mata  bangun  tidur,  hingga  menutup  mata  untuk  tidur.  Mulai membuka mata ketika lahir di dunia, hingga menutup mata menuju kematian.

Allah SWT berfirman,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴿٢١﴾

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. AlAhzab : 21)

Rasulullah SAW bersabda,

“Wajib atas kalian mengikuti Sunahku dan sunah para khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk. peganglah  kuat-kuat  sunah  itu  dan  tinggalkanlah  perkara-perkara  yang  baru.  Maka sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Tirmidzi)

Hanya saja perlu dipahami bahwa amal ibadah itu ada dua kategori, yaitu:  mahdhah dan ammah.

Pertama, mahdhah

Kata “mahdhah” berarti “murni”. Maksudnya adalah amal-amal ibadah yang bersifat ritual. Biasanya ia datang dalam bentuk paket amal dengan kaifiyah (detail teknis)-nya, misalnya: shalat dan haji. Kedua amalan ini sarat dengan tuntunan teknis, dari gerakan-gerakan hingga waktu yang telah ditetapkan secara ketat. Ada syarat-syarat dan rukun-rukun yang secara disiplin harus dikerjakan, di mana jika kita tidak memenuhi salah satu dari berbagai syarat atau rukun itu, shalat dan haji tidak sah hukumnya.

Untuk ibadah jenis ini berlaku kaidah, “Prinsip dasar untuk ibadah adalah dilarang, hingga datangnya dalil yang memerintah.”

Ittiba’ Rasulullah dalam ibadah jenis ini adalah mengikuti teks-teks dalil secara detail, baik dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW. Jika mau mengamalkan, maka pertanyaannya adalah: adakah  dalil  yang  memerintahkan?  Jika  tidak  ada,  maka  amalan  itu  haram  hukumnya dilakukan. Namun jika ada dalilnya, maka barulah amal itu disyariatkan. Yang disyariatkan iini pun masih memiliki kemungkinan hukum yang beragam, bisa bersifat perintah (wajib) atau anjuran (sunnah). Untuk mengetahuinya, perlu mengkaji buku-buku fiqih ibadah.

Kedua, ‘ammah.

Kata “ammah” berarti “umum”, maksudnya adalah jenis-jenis ibadah yang tidak secara ketat dituntunkan kaifiyahnya. Jenis ibadah ini sangat banyak, meliputi semua perbuatan yang diakui kebaikannya oleh nurani umat manusia. Oleh karenanya, disebut amalan yang makruf (dikenal) dan lawannya adalah mungkar (diingkari).

Dalam ibadah jenis ini berlaku kaidah, “Prinsip dasar untuk segala sesuatu itu boleh, hingga ada  dalil  yang  melarangnya.”  Kaidah  ini  menjelaskan  bahwa  untuk  hal-hal  yang  bersifat ammah, maka hukum dasarnya adalah boleh. Misalnya, Allah SWT mempersilakan umat manusia untuk memakan makanan apa saja, baik daging binatang maupun buah dan sayuran –tentu yang layak dan patut dimakan- kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya.

Demikian juga dengan cara bergaul dengan orang lain. Manusia sesuai dengan tabiatnya membutuhkan  interaksi  sosial.  Cara  manusia  melakukan  hubungan  sosial  itu  sudah  ada semenjak  dulu,  sesuai  dengan  tata  cara  dan  tradisi  yang  disepakati  mereka,  dengan beberapa perbedaan dan varian kecil antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Islam pun datang dalam urusan ini tidak dengan membuat cara dan aturan yang detail, namun hanya memberikan rambu-rambu larangan agar rambu itu tidak dilanggar. Jika pun ada aturan yang khas Islam dan benar-benar baru, jumlahnya sangat sedikit. Misalnya mengucapkan salam jika bertemu. Selebihnya, sesuaikan dengan kondisi setempat dan hindari larangan syariat.

Oleh karenanya, ittiba’ Rasulullah dalam ibadah jenis ini adalah tatkala perbuatan kita tidak melanggar larangan syariat. Semua itu disebut sebagai amalan dan kegiatan yang syar’i. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan pahala dari amalan itu selama dikerjakan dalam rangka mencari ridha Allah SWT.

Pertanyaan untuk ibadah jenis ini adalah: apakah ada dalil yang melarang? Jika tidak ada berarti boleh dilakukan, namun jika ada maka tidak boleh dikerjakan, itu pun masih dalam ragam larangan, bisa berupa larangan mutlak (haram) atau dibenci (makruh).

Kedua prinsip dalam ibadah ini, yaitu ikhlas karena Allah dan ittiba’ Rasulullah, merupakan konklusi dari seluruh ajaran Islam. Semua amal di sisi Allah hanya akan ditimbang dengan dua timbangan ini, yakni ikhlas (berarti: lurus) dan ittiba’ Rasul (berarti: benar atau shawab). Ikhlas  adalah  buah  dari syahadat pertama,  sedangkan  ittiba’  adalah  buah  dari  syahadat kedua.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan,

“Sesungguhnya sebuah amal jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka akan ditolak Allah SWT. Jika sebuah amal dilakukan dengan benar tetapi tidak ikhlas, maka akan ditolak Allah SWT. Ikhlas maksudnya adalah karena Allah dan benar maksudnya sesuai sunnah Rasulullah SAW.”

Landasan Perubahan (Asas Al-inqilab)

Bagi umat manusia yang semenjak awal hidupnya telah dituntun oleh syahadat dan dibimbing Islam, syahadat merupakan tonggak dan memandu jalan. Namun bagi umat manusia yang telah tersesat jalan, syahadat adalah prinsip yang menjadi titik tolak perubahan, baik secara individual maupun kolektif, menuju kehidupan yang sesungguhnya dikehendaki oleh sang Khaliq.  Syahadat  mengubah  manusia  secara  total,  karena  terdapat  prinsip  dasar  yang mengubah cara pandang manusia akan hakikat diri, alam semesta, dan tuhannya. Ibaratnya, syahadat  membuat orang kafir kembali dilahirkan untuk kedua kali, karena  ia mendapati kehidupannya  yang  sama  sekali  baru. Masyarakat jahiliyah yang telah sedemikian pekat kesesatan mereka, berhasil diubah oleh Nabi SAW dengan syahadat ini, baik orang per orang maupun masyarakat secara umum.

Perubahan Individual

Dalam konteks individual, bisa kita saksikan perubahan total yang terjadi pada masing-masing pribadi sahabat Nabi SAW. Umar bin Khattab yang selama masa jahiliyahnya begitu banyak melakukan  kejahatan,  setelah  mengikrarkan  kalimat  syahadat,  akhirnya  berubah  menjadi seorang Umar yang salih dan pembela kebenaran Islam. Sebelum Islam, Umar hanya dikenal sebagai jawara gulat yang selalu menjadi bintang di pasar Ukazh. Ia juga pembunuh salah satu  anak  perempuannya,  pemabuk,  pembenci  Rasulullah  dan  para  pengikutnya,  hingga dikisahkan bahwa kejahatannya seorang diri lebih menakutkan dibanding kejahatan kaum Quraisy seluruh Makkah. Setelah beliau bersyahadat, lahirlah Umar dengan sosok yang dulu namun dengan kepribadian dan cara pandang yang berubah total.

Setelah bersyahadat, ia merupakan pembela Islam yang amat tangguh, pengasih sesama Muslim, pembeda antara yang hak dan yang batil, hingga mendapatkan julukan Al-Faruq. Ia merupakan manusia yang karena keimanannya yang teguh ditakuti bukan saja oleh orang kafir, bahkan setan pun lebih memilih jalan lain jika berpapasan dengan Umar. Ia juga yang didoakan Rasulullah agar masuk Islam, karena padanya terdapat kekuatan yang berarti bagi dakwah. Akhirnya,  manusia  yang  sejarah  masa  lalunya  penuh  dengan  cerita  kelam  itu, dengan syahadat bahkan akhirnya menjadi khalifah, amirul mukminin, di mana posisi itu tidak diberikan kepada semua orang.

Umar adalah contoh paling nyata sabda Rasulullah SAW,

“Sebaik-baik kalian di masa jahiliyah adalah sebaik-baik kalian di masa Islam” (HR. Ahmad)

Khalid bin Walid yang dahulu sedemikian gigih memerangi Islam semenjak di Makkah hingga hijrahnya  Nabi  ke  Madinah,  begitu  membaca  syahadat  dan  masuk  Islam,  berubah  total menjadi  pejuang  kebenaran  dan  Islam  hingga  mendapatkan  julukan  Saifullah Al-Maslul (Pedang Allah yang terhunus). Pada perang Badar, Uhud, dan Khandaq, ia masih berperang melawan  kaum  muslimin.  Pada  tahun  8  H,  Khalid  baru  masuk  Islam,  dan  ia  pantang meletakkan  pedangnya  yang  basah  oleh  darah  kaum  muslimin  karena  harus  menebus kesalahannya. Kini pedangnya itu basah oleh darah orang-orang kafir, karena ia bertempur di pihak  kaum  muslimin.  Lihatlah,  bagaimana  ia  menjadi  pembela  Islam  setelah  mengucap syahadat.

Ketika berkecamuk Perang Muktah, Khalid hanyalah prajurit biasa. Ia ikut berperang di bawah pimpinan tigas panglima Islam, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Atas  kehendak Allah, satu per satu panglima Islam  tersebut  syahid  di  medan Muktah. Ketika panji perang diambil oleh Tsabit bin Arqam untuk diangkat tinggi-tinggi agar kaum muslimin tidak kacau balau. Dengan gesitnya, Tsabit melarikan kudanya menuju Khalid bin Walid, sembari menyerahkan bendera kepadanya.

“Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman!” kata Tsabit.
“Aku tidak pantas memegangnya, Andalah yang lebih berhak, karena Anda lebih tua dan telah menyertai Perang Badar,” jawab Khalid.
“Ambillah, engkau lebih tahu siasat perang dari pada aku, dan demi Allah, aku tidak akan mengambil panji perang ini kecuali untuk aku serahkan kepadamu.”

Setelah berkata demikian, Tsabit berseru kepada pasukan Islam, “Bersediakah kalian dipimpin oleh Khalid?” Serempak pasukan Islam menjawab, “Bersedia!” Akhirnya diambillah bendera perang tersebut dan Khalid memimpin pasukan Islam dengan gagah perkasa, dilandasi oleh pengalaman perang yang telah ia miliki sebelumnya. Inilah pembalikan total pada diri Khalid, dan  musuh  Islam  yang  banyak  membunuh  kaum  muslimin  dalam  berbagai  peperangan, hingga menjadi seorang panglima perang Islam.

Thufail bin Amr Ad-Dausi, seorang pemuda yang terlahir dari keluarga terhormat. Ia sering peringatan  dan  keluarganya,  agar  sekali-kali  tidak  mendengar  perkataan  Muhammad. Keluarganya selalu khawatir kalau Thufail menjadi pengikut Muhammad. Setiap Thufail ke Kakbah selalu menutup kedua telinganya dengan kapas, agar tidak mendengar perkataan Muhammad. Akan tetapi, takdir Allah menghendaki, suatu saat ketika di dekat Kakbah ia mendengar sebagian apa yang dibaca oleh Nabi SAW.

Sebagai ahli syair, Thufail bisa membedakan mana kalimat yang indah dan tidak indah. Begitu mendengar sebagian bacaan Rasulullah SAW tatkala shalat, bertambah kuatlah keinginannya untuk  mengetahui  ajaran  Islam.  Segera  ia  datang  ke  rumah  Nabi  dan  meminta  agar mendapatkan menyampaikan beberapa kalimat dan membacakan beberapa ayat Al-Qur’an. Demi  mendengar  penjelasan  Nabi,  tidak  ragu  lagi  Thufail  segera  masuk  Islam  dengan membaca kalimat syahadat di depan Nabi SAW.

Lihatlah,  bagaimana  perubahan  besar  terjadi  dalam  dirinya!  Baru saja  ia  mengucap  dua kalimat syahadat, yang terbayang di benaknya adalah kewajiban untuk mendakwahi keluarga dan  lingkungannya  agar  masuk  Islam.  Bergegas  ia  pulang  kampung  halamannya  untuk menunaikan tugas besar tersebut. Orang yang pertama kali dijumpainya adalah bapaknya, untuk  disampaikan  kebenaran  Islam.  Luar  biasa,  tugas  dakwah  pertama  ini  berhasil. Bapaknya masuk Islam atas izin Allah, setelah mendengar keterangan Thufail. Orang kedua yang  ia  temui  adalah  ibunya  dan  disampaikan  kalimat  dakwah.  Kembali  ia  berhasil melaksanakan tugas dakwah, ibunya pun segera masuk Islam.

Dakwah berlanjut kepada istrinya. Subhanallah, keterangan Thufail telah membuat istrinya berketetapan hati untuk masuk Islam. Selesailah tugas dakwah yang besar di lingkungan keluarganya sendiri. Bapak, ibu, dan istrinya telah masuk Islam. Thufail tidak berhenti. Segera ia  sebar  luaskan  dakwah  kepada  tetangga  dan  seluruh  masyarakat  Daus.  Betapa  sedih hatinya tatkala dakwah kali ini tidak ada yang menyambut. Tidak ada masyarakat Daus yang mau masuk Islam atas dakwahnya, kecuali Abu Hurairah.

Segera Thufail pergi ke Makkah dan menjumpai Nabi SAW. ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya  tidak  kuasa  menghadapi  banyaknya  perjudian  dan  perzinaan  di  Desa  Daus. Mohonkanlah kepada Allah agar Dia menghancurkan penduduk Daus.” Tetapi apakah yang dilakukan Nabi? Segera beliau menengadahkan tangan sembari memohon kepada Allah, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada penduduk Daus dan datangkanlah mereka kepadaku dengan memeluk  Islam.”  Setelah  itu,  beliau  bersabda,  “Kembalilah  engkau  kepada  kaummu, dakwahilah mereka dan bersikap lembutlah kepada mereka.”

Ucapan Nabi pada pertemuan kedua ini amat menakjubkan bagi diri Thufail. Kata-kata yang amat indah, mencerminkan kepribadian yang amat luhur. Segera ia kembali ke kampung halamannya dan kembali melakukan dakwah kepada masyarakat Daus. Hari berganti hari, hingga Nabi SAW melaksanakan hijrah ke Madinah dan terjadilah Perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Pada saat Nabi SAW berada di Khaibar –setelah negeri itu sudah dikuasai kaum muslimin- satu rombongan besar penduduk Daus datang menghadap Nabi untuk menyatakan masuk Islam.

Subhanallah, ketekunan dakwah Thufail kembali membuahkan hasil. Delapan puluh kepala keluarga beserta seluruh penghuni rumahnya menghadap Nabi dan mengucapkan syahadat di depan beliau. Inilah contoh perubahan besar pada orang yang telah berikrar syahadat. Baru saja Thufail masuk Islam, ia segera bergerak tanpa menunggu besok, untuk mengajak orang lain menuju keindahan Islam. Syahadat adalah awal mula perubahan yang besar pada diri Thufail bin Amr ad-Dausi.

Kalimat Laa ilaaha ilallah telah membongkar mentalitas dan kejiwaan setiap manusia, dari penghambaan kepada sesama manusia dan penghambaan kepada benda-benda, menuju penghambaan hanya kepada Allah semata. Inilah kunci perubahan total yang terjadi pada individu  dan  masyarakat.  Penghambaan  kepada  benda-benda  telah  membuat  manusia menjadi  hina  dan  tiada  berharga,  menyebabkan  manusia  menjadi  kehilangan  harkat kemanusiaannya.

Perubahan Sosial

Dalam  konteks  sosial,  bisa  kita  saksikan  perubahan  total  yang  terjadi  pada  masyarakat paganis penyembah berhala di masa Nabi dibangkitkan. Di masa jahiliyah, mereka saling bermusuhan  satu  dengan  yang  lain,  saling  bermusuhan  satu  dengan  yang  lain,  saling merampas  hak,  pencurian  dan  perampokan  merajalela,  gemar  melakukan  pembunuhan terhadap  anak-anak  perempuan,  perzinaan  dan  mabuk-mabukan  menjadi  tradisi  yang berkembang luas. Setelah mereka dicelup dalam shibghah Islam, terjadilah perubahan total.

Masyarakat Islam yang terbentuk setelah diutusnya Nabi SAW, diliputi oleh cinta dan kasih sayang sesama mereka, saling menjaga hak, menjaga martabat kemanusiaan, mengangkat dan memberikan penghormatan kepada kaum perempuan yang semula direndahkan, dan mereka tunduk kepada aturan Allah SWT dalam segala aspeknya. Tradisi minum khamr yang selama bertahun-tahun menjadi kebiasaan hidup masyarakat jahiliyah, masih terbawa pada sebagian masyarakat Islam. Namun begitu turun ayat-ayat yang melarang minum khamr, serentak masyarakat Islam meninggalkannya, tanpa ada yang membantah dan melanggar.

Anas bin Malik, seorang budak dari Abu thalhah, sat itu sedang melayani tamu-tamu tuannya, diantaranya Ubai bin Ka’ab, Suhail bin Baidha, Abu Ubaidah, dan lain-lain. Tiba-tiba ada yang mengabarkan bahwa telah turun ayat yang mengharamkan minum khamr. Sat itu pula para sahabat yang memegang botol minuman langsung memecahkannya, yang sudah melekatkan gelas di bibirnya langsung membuangnya dan yang telah terlanjur meminumnya memasukkan jari tangannya ke dalam mulut agar dapat memuntahkannya kembali. Simpanan-simpanan khamr yang ada di rumah langsung dibuang di jalan-jalan. Madinah, laksana banjri khamr. Mereka keluar rumah dan berteriak, “kami telah tinggalkan, wahai tuhan kami! Kami telah tinggalkan, wahai tuhan kami!”

Kaisaan, seorang sahabat pedagang khamr datang dari negeri Syam sambil membawa khamr dalam  beberapa  kantong  kulit  untuk  dagangan.  Dia  menghadap  Rasulullah  SAW  sambil membawa khamrnya.

“Wahai Rasulullah, aku datang membawa untukmu minuman yang lezat.” Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Kaisaan, khamr telah diharamkan sepeninggalmu.” “Lalu apa boleh saya menjualnya,  wahai  Rasulullah?”  tanya  Kaisaan.  “Ia  telah  diharamkan  diminum  dan diharamkan untuk diambil harganya,” jawab Rasulullah SAW.

Segera Kaisaan keluar mengambil kantong-kantong khamr dagangannya dan ditendangnya kuat-kuat hingga hancur berantakan.

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ ﴿٩١﴾

Sesungguhnya  setan  itu  bermaksud  hendak  menimbulkan  permusuhan  dan  kebencian diantara  kamu  lantaran  (meminum)  khamr  dan  berjudi  itu,  dan  menghalangi  kamu  dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari pekerjaan-pekerjaan itu).(QS. AlMaidah : 91)

Dengan pengumuman itu, orang-orang yang semula di tangannya masih memgang botol dan gelas berisi minuman keras segera membuangnya; yang di dalam mulutnya ada seteguk arak segera  memuntahkannya;  yang  masih  menyimpan  persediaan  arak  di  rumah-rumahnya segera mengambil untuk membuangnya. Semua orang berseru, “Wahai tuhan kami, kami telah  berhenti!”  sebagai  jawaban  atas  perintah  Allah,  …Maka  berhentilah  kamu  (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah : 91)

Demikianlah, perubahan dan pembalikan total terjadi pada masyarakat setelah mengikrarkan kelimat syahadat. Mereka mudah menerima dan melaksanakan aturan yang Allah berikan, tanpa tawar-menawar, tanpa keberatan, dan tanpa penolakan.

Hakikat Dakwah Rasul (Haqiiqat Da’wah Ar-Rasuul)

Setiap  nabi  dan  rasul  senantiasa  menyeru  kepada  pemurnian  tauhid.  Mereka  mengajak manusia hanya menyembah kepada Allah dengan mengingkari taghut. Nabi SAW diutus oleh Allah untuk menjadi dai yang mengajak manusia kepada tauhid.

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ﴿٤٥﴾

وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا ﴿٤٦﴾

Hai  Nabi,  sesungguhnya  Kami  mengutusmu  untuk  menjadi  saksi  dan  pembawa  kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi dai (penyeru) kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi (QS. Al-Ahzab : 45-46).

Salah  satu  misi  kerasulan  sebagaimana  informasi  ayat  di  atas adalah  sebagai  dai  yang menyeru ke jalan Allah (da’iyat ilallah). Dakwah hanyalah berorientasi mengajak manusia agar menyembah kepada Allah semata, sebagaimana Allah SWT berfirman,

لِّكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُّسْتَقِيمٍ ﴿٦٧﴾

Bagi  tiap-tiap  umat  Kami  telah  tetapkan  syariat  tertentu  yang  mereka  lakukan,  maka janganlah  sekali-kali  mereka  membantah  kamu  dalam  urusan  (syariat)  ini,  dan  serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya, kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (QS. Al-Hajj : 67)

Ayat di atas menggunakan kata kerja perintah (fi’il amr) “wad’u ilaa rabbika, serulah kepada tuhanmu.” Tujuan utama dakwah telah ditetapkan dengan tegas oleh Allah dengan rumusan Ilallah atau ilaa rabbika.

Dalam ayat yang lain, Allah SWT juga berfirman,

وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنزِلَتْ إِلَيْكَ ۖ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٨٧﴾

…dan serulah mereka kepada Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orangorang yang musyrik (QS. Al-Qashash : 87)

Perintah berdakwah mengajak manusia ilaa rabbika, kepada Tuhanmu, dikaitkan langsung dengan larangan syirik. Hal ini semakin memperjelas rumusan tujuan utama dalam dakwah, yakni  semata-mata  mengajak  manusia  kepada  Allah  tanpa  mempersekutukan  dengan sesuatu apapun.

Allah juga berfirman,

وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ ۖ وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَن يُنكِرُ بَعْضَهُ ۚ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ ۚ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ ﴿٣٦﴾

…katakanlah,  “Sesungguhnya  aku  hanya  diperintah  untuk  menyembah Allah  dan  tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali” (QS. Ar-Ra’du : 36)

Ilaihi ad’u (kepada-Nya sajalah aku menyeru manusia) dan wailaihi ma’aab (kepada-Nya aku kembali). Proses dakwah harus senantiasa terjaga autentisitasnya, menyeru kepada Allah, dan berpaling dari selain Allah. Pada bagian lain, Allah menggambarkan tujuan utama dakwah sebagai ilaa sabiili rabbika, sebagaimana firman—Nya,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿١٢٥﴾

Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…(QS. An-Nahl : 125)

Menyeru manusia menuju kepada jalan Tuhan, bukan jalan-jalan yang lain, sebab hanya jalan Allah yang lurus. Allah menghendaki umat dibawa menuju jalan yang satu, jalan Allah, jalan ketuhanan, yang akan menyelamatkan manusia.

Tujuan dakwah yang dilakukan oleh setiap utusan Allah dari zaman ke zaman senantiasa sama, yakni mengajak manusia kepada Allah, tak ada tujuan yang lain. Mereka mengajak umatnya, agar menyembah hanya  kepada Allah  dan  menjauhi tuhan sesembahan  selain Allah.

Nabi Nuh a.s. mengajak umatnya menyembah Allah,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿٥٩﴾

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain-Nya…”(QS. Al-A’raf : 59)

Demikian pula Nabi Hud a.s., beliau menyeru umatnya menuju tauhid, sebagaimana firman Allah SWT,

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ ﴿٥٠﴾

Dan  kepada  kaum  ‘Ad  (Kami  utus)  saudara  mereka,  Hud.  Ia  berkata,  “Hai  kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain Dia…” (QS. Hud : 50)

Nabi  Shaleh  a.s.  mengajak  kaum  Tsamud  menyembah  kepada  Allah  semata  dengan meninggalkan sesembahan selain-Nya (QS. Al-A’raf : 73). Nabi Syuaib menyerukan hal yang serupa  kepada  penduduk  Madyan  (QS. Al-A’raf  :  85).  Pendek  kata,  seluruh  rasul  telah diberikan misi yang sama kepada umatnya masing-masing, sebagaimana telah difirmankan Allah SWT,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ﴿٣٦﴾

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut itu”… (QS. An-Nahl : 36)

Dengan demikian, seluruh aktifitas dakwah dari masa ke masa hingga akhir zaman tiba, telah disatukan  oleh  kesatuan  tujuan  utama,  yaitu  mengajak  manusia  kepada  Allah  dengan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan dengan ilah-ilah yang lain.

Beberapa Keutamaan Besar yang Lain (Lahaa Fadhaa’il ‘Azhiimah Ukhra)

Terdapat sejumlah keutamaan yang amat mendasar pada kalimat syahadat yang diikrarkan setiap  Muslim,  selain  yang  disebutkan  sebagiannya  di  muka.  Diantara  keutamaan  yang fundamental pada kalimat syahadat ini adalah sebagai berikut:

Memberikan Kejelasan Identitas (I’tha’ Wudhuuh Al-Hawiyyah)

Seseorang yang telah mengikrarkan syahadat akan memiliki identitas dan karakter diri yang jelas dan kukuh. Ia menjadi pribadi yang spesifik (mutamayiz) dan segera terbedakan dengan yang lain. Seseorang yang berikrar syahadat akan tercelup dalam warna ketuhanan dan kenabian dalam segala aktifitas hidupnya.

Keimanan  yang  diikrarkan  dengan  kalimat  syahadat  akan  membuahkan  karakter  diri, sebagaimana  manusia  dengan  beraneka  ragam  ideologinya  akan  memiliki  batas-batas identitas yang jelas dan membedakan mereka dari yang lain. Seseorang yang terwarnai oleh ideologi kapitalisme akan melahirkan pandangan, sikap hidup, dan tingkah laku yang sesuai dengan prinsip kebendaan. Demikian pula jika seseorang terwarnai oleh ideologi sosialisme atau  komunisme,  akan  melahirkan  pandangan,  sikap hidup, dan tingkah  laku  yang khas sesuai tuntutan ideologi tersebut.

Kalimat  syahadat  melahirkan  pandangan,  sikap  hidup  dan  perilaku  yang  rabbani.  Cara berpikir,  sudut  pandang,  cara  merasakan,  cara  menikmati,  sampai  pada  hal-hal  praktis aplikatif  dalam  kehidupan,  seperti:  perkataan,  perbuatan,  penampilan,  dan  selera,  akan terwarnai dalam keimanan kepada Allah. Inilah identitas yang sangat jelas dan kuat pada setiap orang yang mengikrarkan syahadat.

Mendatangkan Kebahagiaan Hakiki (I’tha’ haqiqah As-Surur)

Kalimat  syahadat  akan  memberikan  kebahagiaan  hakiki  kepada  setiap  orang  yang mengikrarkannya. Kebahagiaan adalah masalah hati dan cara merasakan kehidupan. Tanpa dibimbing  oleh  iman  yang  terungkap  dalam  ikrar  syahadat,  seseorang  akan  cenderung memiliki hati yang tidak mengenal batas kebutuhan, perasaannya serba tidak puas dengan segala  yang  dimiliki, serta  merasa serba  kurang dengan berbagai kelimpahan harta  dan sarana yang ada.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak ada kebahagiaan dan kenikmatan sempurna bagi hati, kecuali dalam mencintai Allah (mahabbatullah) dan taqarub kepada Allah dengan hal-hal yang dicintai-Nya. Mahabatullah tidak mungkin terwujud, kecuali dengan berpaling dari yang dicintai selain-Nya. Inilah hakikat laa ilaaha ilallah. Ia adalah agama Ibrahim Al-Khalil, juga agama semua nabi dan rasul.”

Demikianlah, kebahagiaan hakiki menjadi milik orang berikrar syahadat, karena mereka telah memilih jalan yang benar.

Rasulullah bersabda,

Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha ilallah secara tulus ikhlas dari hatinya(HR. Bukhari)

Jika kita tengok sejarah kenabian, faktor apakah yang menyebabkan kaum Muslimin generasi pertama mencapai kemenangan dakwah? Sejumlah faktor bisa kita kemukakan, diantaranya soliditas umat Islam, kepemimpinan yang tangguh, ketaatan dan loyalitas kepada pimpinan, semangat  juang  yang  tinggi,  semangat  pengorbanan  dan  kekuatan  tekad. Akan  tetapi, landasan  apakah  yang mengantarkan  kaum  muslimin  generasi  awal  memiliki  sikap-sikap seperti itu?

Tidak ada jawaban lain, kecuali pengaruh kalimat syahadat dalam jiwa mereka. Ikrar setia kepada Allah dan Rasulullah SAW telah membuat mereka merelakan segala yang dimiliki untuk  diberikan  hanya  kepada  Allah.  Harta,  tenaga,  waktu,  bahkan  jiwa  telah  mereka serahkan sepenuhnya untuk Allah. Lihatlah ketangguhan dan kegigihan para sahabat dalam memperjuangkan  kebenaran  Islam! Tanpa  ragu,  mereka  melakukan  pembelaan  terhadap kebenaran hingga kematian menjemput mereka.

Sebaliknya,  jika  umat  Islam  tidak  lagi  memegangi  kalimat  syahadat  yang  terjadi  adalah kehinaan  menimpa  mereka.  Musuh-musuh  akan  bergembira  melihat  kelemahan  kaum Muslimin. Terjadilah degradasi moral dan kerusakan akhlak, dalam berbagai segi kehidupan, sehingga tidak ada lagi komitmen terhadap Allah dan rasul-Nya. Dalam kondisi inilah kaum Muslimin senantiasa mencapai titik puncak kehancuran dan kelemahannya.

Mengantarkan Orang ke Surga (Qiyaadah Al-Insaan nahwa Al-Jannah)

Rasulullah SAW dalam banyak keterangan memberikan kabar tentang keutamaan kalimat syahadat. Orang-orang yang berikrar syadahat, akan mencapai surga. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW

Barangsiapa meninggal sedang ia mengetahui bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, ia masuk surga. (HR. Muslim)

Abu Hurairah bercerita, bahwa Rasul SAW bersabda,

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selai Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidak ada  seorang  hamba  yang  bertemu Allah  dengan  kedua  kalimat  itu  dan  tidak  ragu-ragu dengan keduanya, kecuali masuk surga(HR. Muslim)

Demikian juga Nabi SAW bersabda,

Maka Siapa saja yang engkau temui di balik tembok ini, akan bersaksi bahwa tiada tuhan yang disembah selain Allah dengan keyakinan hati, sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga(HR. Muslim).

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan sedemikian besar keutamaan kalimat syahadat.
[sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]

Download PDF+DOC+PPT :

Like atau Follow Itsar untuk Mendownload

[l2g]

doc icon

 DOWNLOAD

pdf icon

 DOWNLOAD

PPT icon

 DOWNLOAD

[/l2g]

Related Posts

Leave a reply