Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Masih 16 Tahun, Amrozy Abdillah bisa Menghafal Al-Qur’an dalam Setahun

Jam dinding menunjukkan pukul 3.30 dinihari. Puluhan pria dewasa sudah berbaris rapi di shaf pertama. Tak lama, hadirlah seorang remaja jangkung, dari sisi belakang masjid ke tempat imam memimpin shalat.

Dengan tenang ia memandu agar shaf shalat dirapatkan. Lalu dimulainya rangkaian shalat malam yang diisi dengan lantunan ayat-ayat pilihan. Alunan tilawahnya yang indah seolah menyatu dengan gelap dan sepinya malam, namun mampu menembus ruang-ruang batin secara syahdu.

Amrozy Abdillah, nama pemuda itu. Usianya masih 16 tahun, namun ia sudah dikaruniai ALLAH hafalan Al-Quran 30 juz. Yang istimewa, ia mampu menyelesaikan proses menghafal Al-Quran dalam waktu 1 tahun.

Putera pasangan Imam Nur Fakeh dan Suyatmi, kelahiran Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, 8 November 1998, ini masih tercatat sebagai santri di Marqaz Quran Utrujah, Jakarta. Dalam waktu dekat ia akan melaksanakan ujian akhir di sana.

Kepada TRIBUNKALTIM.CO, Amrozy menuturkan ia mulai menghafal Al-Quran secara keseluruhan pada tanggal 20 Juni 2014 sampai 20 Juni 2015 di Utrujah. Ketika masuk, ia bermodal “hanya” dua juz hafalan, yaitu juz 29 dan 30.

Awalnya ia sempat bingung memilih sekolah setelah lulus dari SMPIT Daarussalaam Sangatta tahun 2014 lalu. Namun ibundanya memiliki kenalan yang mengelola Marqaz Quran Utrujah, sebuah pola pendidikan home schooling yang fokus pada upaya menghafal Al-Quran.

Akhirnya, ia masuk di Utrujah, dengan harapan bisa melanjutkan pendidikan formal setelah menghafal Al-Quran. Setelah lulus, ia berharap bisa masuk di salah satu lembaga pendidikan SMAIT, untuk kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Madinah.

Amrozy menceritakan perjuangannya untuk menghafalkan Al-Quran. Yang ditekankannya, asas menghafal adalah mengulang-ulang. Karena itu, ayat-ayat yang akan dihafal harus terus dibaca berulang-ulang.

“Kelompok ayat yang mau dihafal paling sedikit diulang sepuluh kali. Selepas itu baru dihafalkan ayat per ayat atau kalimat per kalimat. Kalau belum hafal, diulang lagi membacanya belasan atau puluhan kali. Insyaa Allah mengulang-ulang bacaan juga berpahala. Hanya saja, banyak yang tidak sabar dalam mengulang,” katanya.

Di Utrujah, mereka menghafal dalam tiga sesi. Yaitu pukul 05.30 sampai 07.30, 08.30 sampai 10.00, dan 13.30 sampai 15.00. Selepas shalat Ashr dilakukan setoran hafalan harian (tasmi’) kepada guru. Selepas itu, dilakukan aktivitas keseharian rutin.

Tips Mudah Menghafal Qur’an

Amrozy memberikan beberapa kiat agar mudah menghafal Al-Quran. Pertama, laksanakan shalat malam secara rutin dan berdo’a dengan sungguh-sungguh.

“Dengan shalat malam dan do’a saat dini hari, mengakui kehinaan diri di hadapan Allah, kita memulai hari dengan kebaikan,” katanya.

Kedua, kekuatan pengulangan hafalan, terutama di sepertiga malam yang akhir. “Sepertiga malam yang akhir merupakan waktu utama untuk ibadah. Selain itu juga waktu yang penting untuk mengulang hafalan sebelumnya. Walaupun sudah hafal, tapi jarang diulang, maka mudah lupa,” katanya.

Ketiga, perlunya kecermatan dalam menghafal. Pasalnya, banyak ayat-ayat atau kalimat yang serupa atau mirip. “Karena itu, detail-detail ini harus kita hafalkan,” katanya.

Keempat, tidak bosan mengulang-ulang, baik mengulang saat proses menghafal maupun mengulang membaca saat sudah hafal (muraja’ah). “Momen yang paling efektif untuk mengulang adalah saat shalat. Dan perlu diketahui, mengulang bacaan juga Insyaa Allah berpahala, katanya.

Kelima, guna memudahkan menghafal, maka perlu juga memahami arti bacaan. Hal ini penting agar hafalan bisa melekat di hati dan bisa diamalkan. “Menghafal juga akan lebih mudah ketika kita paham alur kandungan ayat. Juga bisa menjadi pengingat atau kata kunci ketika lupa,” katanya.

Keenam, jagalah pandangan dari perkara yang diharamkan. “Ketika kita melihat sesuatu yang diharamkan, maka selain sulit menghafal, hafalan pun bisa hilang. Hal ini pun dialami orang-orang shalih terdahulu. Ilmu adalah cahaya yang tidak akan datang pada orang yang suka bermaksiat,” katanya.

Selanjutnya, jagalah selalu ucapan maupun lingkungan pergaulan. Juga perbanyak mendengar bacaan Al-Quran diwaktu luang.

“Satu catatan penting, sebelum mulai menghafal, bacaan kita harus benar dulu. Karena itu sangat penting dilakukan perbaikan bacaan (tahsin). Kalau tidak, seterusnya bisa salah menghafal. Ini kesalahan fatal,” katanya.

Dalam perjuangannya menghafal Al-Quran, Amrozy terus memupuk motivasinya. “Saya ingin bisa ditaqdirkan Allah memberikan syafaat bagi keluarga di Hari Akhir. Juga agar hafalan itu menjadi hujjah di hadapan Allah. Selain itu, Al-Quran merupakan sumber ketenangan dan pedoman dalam menjalani dinamika kehidupan,” katanya.

Ia pun menegaskan bahwa perjuangannya tak akan berhenti saat berhasil menghafal Al-Quran. “Menghafal bukan segalanya. Tetapi bagaimana bisa mengamalkan dan mendakwahkannya sampai akhir hayat,” katanya. (Kholish Chered) http://kaltim.tribunnews.com

Related Posts