Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

#MahasiswaBaru : 6 Perbedaan Sekolah dan Kuliah

Bagikan, insya Allah jadi amal kebaikan

Mungkin ketika masih SMA, kita iri melihat tetangga sebelah yang berstatus mahasiswa. Dia tidak selalu berangkat kuliah pagi-pagi buta dan berebut angkutan kota. Bahkan kadang dia tidak kuliah sama sekali. Tapi kadang juga sesekali kita melihat dia membawa tumpukan buku yang begitu tebalnya hingga kalau dijatuhkan sepertinya bisa membunuh kecoa. Jadi apa sebenarnya bedanya kuliah dan sekolah selain boleh memakai baju bebas? Banyak. Sebenarnya cukup banyak perbedaan antara keduanya. Dan sebelum mulai mengatur strategi sukses kuliah, kita perlu terlebih dahulu mengenal medan tempur kita. Paling tidak terdapat enam perbedaan esensial antara belajar di SMA dan di Perguruan Tinggi.

Tanggung Jawab Lebih Besar

Di SMA, hampir seluruh waktu belajar kita di sekolah direncanakan oleh guru. Intinya, wajib hadir di kelas pada semua mata pelajaran yang berlangsung pada jam yang hampir sama setiap hari.

Di universitas, tidak semua dosen mewajibkan mahasiswa hadir di kuliah. Terserah mau datang atau tidak. Paling-paling hanya ada batas kehadiran minimum dalam perkuliahan. Tapi jangan buru- buru memutuskan hanya masuk saat ujian. Percayalah, kita akan ketinggalan banyak kalau jarang masuk. Misalnya saja tentang tugas- tugas atau kuis mendadak. Jadi, sebisa mungkin ikutilah kegiatan perkuliahan.

Berbeda pula dengan SMA, sering kali terdapat waktu kosong antara dua kuliah. Ekstremnya, mungkin saja kuliah yang pertama diselenggarakanjam 7 pagi sedang kuliah berikutnya baru jam 3 sore. Nah, kini tergantung bagaimana kita memanfaatkan waktu kosong tersebut.

Tanggung jawab lain menyangkut status perantau yang disandang banyak mahasiswa. Jauh dari orang tua berarti kita harus mengelola keuangan sendiri, memperhatikan kesehatan, dan belajar mandiri tanpa ada yang harus mengingatkan.

Kecepatan Mengajar Lebih Tinggi

Pada minggu pertama kuliah, akan segera terasa bahwa dosen menyampaikan bahan dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada waktu kita di SMA. Bahan pelajaran SMU satu tahun, mungkin dihabiskan hanya dalam satu semester.

Bahkan sebagian materi kuliah (misalnya kuliah Fisika Dasar dan Kimia Dasar), serupa dengan yang diajarkan di SMA. Tapi hati-hati, tingkat kedalamannya tidak sama. Kita perlu kembali meluruskan konsep mengenai materi tersebut. Ingat, cara cepat dari bimbingan belajar tidak bisa lagi sepenuhnya diandalkan. Apalagi, mayoritas ujian di bangku kuliah adalah ujian esai.

Kendala lain yang mungkin timbul yaitu banyaknya buku teks wajib yang berbahasa Inggris. Jangan dulu menyerah. Sebagai trik, sebelum melahap buku-buku asing itu, cobalah memahami catatan kuliah atau buku-buku berbahasa Indonesia tentang materi tersebut.

Cara ini memang terlihat lebih menghabiskan waktu, tapi kenyataannya kita akan lebih mudah memahami buku berbahasa Inggris tersebut bila sudah punya bayangan dan pengertian dasar tentang materinya. Selain itu, perbendaharaan kata dalam buku teks sebenarnya tidak terlalu banyak. Dalam beberapa minggu, insya Alllah kita akan terbiasa.

Tugas Tidak Selalu Diperiksa

Pada saat kuliah, dosen sering memberikan tugas membaca, pekerjaan rumah atau meminta kita mengerjakan soal-soal tertentu dari buku teks tanpa harus dikumpulkan. Sst, tugas itu kalau dikumpulkan itu kadang juga tidak diperiksa lho. Namun memang beberapa dosen yang masih mendata kita mengumpulkan tugas atau tidak.

Meskipun tugas-tugas yang dikumpulkan tidak diperiksa, apalagi yang tidak dikumpulkan, adalah tanggung jawab pada diri kita sendiri untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut. Biar bagaimana pun, tumpukan soal yang menyebalkan itu merupakan bagian dari proses pembelajaran yang tentunya telah dirancang oleh dosen. Mengerjakan tugas-tugas ini akan membantu kita pada saat menyiapkan ujian. Apalagi, tak jarang soal ujian yang keluar tidak jauh berbeda dengan soal-soal yang dilugaskan dosen.

Jumlah Ujian Lebih Sedikit

Dosen di perguruan tinggi tidak akan terlalu sering mengadakan ujian. Untuk satu mata kuliah, dosen mungkin hanya mengadakan dua kali Ujian Tengah Semester (UTS) dan satu kali Ujian Akhir Semester (UAS).

Jumlah ujian yang sedikit ini mungkin terdengar menyenangkan, tapi tunggu dulu, dengan jumlah yang sedikit bahan untuk ujian tentu akan lebih banyak dan mungkin sekali bahan ujian kedua dan ujian akhir adalah akumulasi dari ujian sebelumnya. Sekali mendapat nilai jelek, tentunya lebih sulit untuk menebusnya karena memang tidak banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Menyiapkan ujian de-ngan belajar teratur tentunya merupakan strategi yang perlu diterapkan.

Nilai Lebih Tegas

Waktu SMA, anak yang mendapat nilai 95 terlihat jelas lebih baik dari yang mendapat nilai 81. Tapi tidak di universitas. Di sini, yang ada hanya nilai A, B, C, D, E dan T. Yang paling bagus tentu nilai A, biasanya diberikan pada mereka yang perhitungan total nilainya 80 – 100. Lainnya, B :65-79, C : 50- 64, D dan E tidak lulus. Tapi sekali lagi, batas minimum suatu nilai ditetapkan dosen dan lazim berbeda antara satu dosen dengan yang lain.

Sedang nilai T diberikan bila ada unsur penilaian yang dianggap belum lengkap. Misalnya, belum mengumpulkan tugas yang berskala besar.

Bila mendapat nilai T, datangilah dosen untuk mengetahui alasannya. Jangan menunggu untuk dipanggil, percayalah tak banyak dosen yang mau repot-repot memanggil mahasiswanya. Bila mendapat nilai jelek, sebenarnya kita bisa mengulang mata kuliah tersebut. Tapi dengan kurikulum baru, nilai yang jelek itu akan dirata-ratakan dengan nilai yang bagus untuk mata kuliah yang sama. Jadi, sebisa mungkin kita mendapat nilai bagus dan tidak perlu mengulang.

Cara Belajar yang Berbeda

Sering mendengar istilah SKS? Tidak, SKS bukan kependekan dari Sistem Kebut Semalam atau Sistem Kerja Sangkuriang seperti yang selama ini sering dicandakan. Yang resmi, satu Satuan Kredit Semester (SKS) berarti satu jam kegiatan tatap muka (kuliah), satu jam kegiatan terstmktur (responsi/tutorial) dan satu jam belajar mandiri untuk setiap minggu.

Jadi, jatah tatap muka dengan dosen paling-paling hanya 18 Jam seminggu. Berbeda jauh dengan SMA yang bisa melebihi 30 jam per minggu. Sangat mungkin ada hari tertentu yang kosong dari jadwal kuliah. Tapi jangan lupa, masih ada waktu yang harus dialokasikan untuk kegiatan terstruktur dan belajar mandiri. Karena kegiatan struktur tidak selalu diadakan, maka artinya kegiatan belajar mandiri semestinya dilakukan setidaknya dua jam per SKS.

Jadi, bila mengambil 18 SKS maka kegiatan belajar mandiri adalah 36 jam setiap minggu. Banyak ya? Agar tidak menumpuk, distribusikan jatah tersebut pada enam hari sehingga waktu belajar mandiri kita adalah enam jam/hari. Supaya tidak harus belajar sampai tengah malam, sebaiknya waktu kosong antara dua kuliah tidak dihabiskan hanya untuk mengobrol dan duduk-duduk saja.

Kuy cekidot seri tulisan #MahasiswaBaru terbaru :

Sumber

Leave a reply