Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Like, Comment, Share

Hari gini kalau ngga posting foto di Instagram kayaknya ketinggalan jaman banget ya? Apalagi ada fitur Instagram Story buat share cuplikan kegiatan kita kepada seluruh dunia bahkan bisa Live Story! Bagi mereka yang beruntung (punya kamera, bisa edit video, dan punya jaringan internet yang oke) mungkin sekarang jamannya bikin vlog (video blog) dan upload di YouTube. Dari media sosial tersebut tidak jarang diantara kita keasikan baca timeline yang ada di halaman home sampe lupa waktu, berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya, satu jam terlewat pun tak terasa. Waktu terbuang sia-sia, semoga ngga kamu alami ya..

Tidak dipungkiri, media sosial ini bikin nagih anak-anak remaja. Dalam perkembangan sosial remaja, intensitas bersosialisasi mulai bergeser dari keluarga ke pertemanan. Sama seperti anak kecil yang menangis untuk mendapatkan perhatian orang tua, anak remaja juga mencari perhatian kepada teman-temannya, salah satu caranya adalah dengan membagikan informasi tentang dirinya kepada teman-temannya. Media sosial adalah tempat yang paling mudah untuk share informasi diri sendiri kepada orang lain, bahkan kepada seluruh dunia. Sehingga wajar jika remaja sering menggunakan media sosial untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, tentunya dari teman-temannya, bukan orang tuanya. Mungkin kamu lebih mengenalnya dengan istilah “caper” alias cari perhatian, ketika segala informasi tentang dirinya (lagi ngapain, lagi di mana, dll.)  di-share di media sosial. Hal tersebut tidak salah, namun perlu kita perhatikan bagaiamana menjaga atau membuat batasan-batasan dari informasi yang di-share tersebut. Apakah kamu mau seluruh dunia tahu segala hal tentang dirimu?

Dalam rangka mebentuk lingkaran pertemanan remaja, tentunya diperlukan penerimaan dari teman-temannya tersebut. Jika dulu sebelum ada media sosial untuk mendapat penerimaan dari seorang teman perlu dilakukan kegiatan-kegiatan bersama, main bareng dan saling bercerita. Sejak adanya media sosial, penerimaan dari teman-teman seakan bisa disederhanakan dengan melihat apakah mereka me-“like” postingannya di media sosial atau tidak. Semakin banyak like seperti semakin diterima dia di lingkungan pertemanan(online)nya. Fakta menariknya adalah semakin banyak teman di media sosial, semakin sering dia share informasi tentang dirinya dan semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk mengedit profile, foto, dan postingan-postingannya. Banyaknya yang me-“like” dapat menimbulkan kepuasan intrinsik yang justru memancing keinginan untuk share postingan lagi dan lagi. Jangan sampai yang awalnya untuk penerimaan teman, malah menjadi haus akan likes atau dengan kata lain popularitas.

Dari sini kita mengetahui media sosial dapat mendukung perkembangan sosial remaja. Namun demikian, aktivitas media sosial juga dapat merugikan kehidupan sosial remaja ketika terlalu banyak informasi tentang diri yang dishare kepada dunia dan ketika ketagihan likes dari postingan tentang diri. Sebagai remaja muslim yang kece, alangkah baiknya media sosial bisa dijadikan alat untuk menebar kebaikan. Tidak hanya untuk mendukung perkembangan sosial diri kita, tetapi juga menjadi ladang kebaikan. Bukan agar dunia tau segala hal tentang “saya”, tetapi agar dunia tau segala hal tentang indahnya islam. Bukan untuk popularitas diri, namun untuk popularitas akan nilai-nilai kebaikan islam.

Sumber: https://www.psychologytoday.com, https://www.slideshare.net/wearesocialsg

 

Leave a reply