Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Lakukan Hal Ini ketika Orang Tua Melarang Kamu Berkegiatan Rohis

Bagikan, insya Allah jadi amal kebaikan

Bergaul dengan teman-teman shalih adalah suatu anugrah yang sangat langka. Kenapa begitu? Hitung saja anggota Rohis di dalam suatu sekolah, masih bisa dihitung pake jari dengan sedikit bantuan sempoa kan? :-P.

Rata-rata Rohis di sekolah masih menjadi minoritas padahal isinya itu orang-orang yang cinta dengan kebaikan. Saya yakin kamu yang baca tulisan saya ini juga punya afiliasi dengan kegiatan Rohis, dan kamu bersyukur bisa bergabung dengannya. Saya pun begitu. Alhamdulillah ya.. 🙂

Sayangnya, nikmat yang langka ini kadangkala suka mendapat pantangan dari orang tua. Saya dulu pernah dilarang orang tua mengikuti kegiatan Rohis. Tapi karena nilai akademis saya bagus, alhamdulillah akhirnya saya dibolehkan juga mengikuti Rohis.

Mungkin kamu tidak seberuntung saya, oleh karena itu saya akan berbagi tips mendapat ridho orang tua dalam berkegiatan Rohis. Semoga mujarab hehe. 🙂

Kenali Sebabnya

Hukum awal mentaati orang tua adalah wajib, kecuali orang tua memaksamu berbuat kemaksiatan maka janganlah dituruti.

Imam Al-Bukhari berkata dalam Shahihnya:

"Bab wajibnya shalat berjama'ah. Dan berkata al-Hasan, jika ibunya melarangnya dari (mendatangi) shalat Isya' berjama'ah dengan paksa, maka ia tidak (boleh) mentaatinya."

Gak mentaati bukan berarti kamu jadi jutek sama orang tua kamu. Anggap dirimu seperti pemain bola yang ditahan pelatih di bangku cadangan. Ada alasannya kenapa kamu gak dibolehin mengikuti kegiatan Rohis, sama seperti pelatih bola yang punya alasan kenapa menyimpan beberapa pemainnya di bangku cadangan. Ini yang jadi tugas kamu sekarang : tanyakan alasannya!

Sepanjang pengamatan saya, ada beberapa sebab mengapa orang tua melarang anaknya mengikuti kegiatan Rohis :

  1. Nilai akademis buruk, jadi disuruh cepat pulang dan belajar di rumah atau bimbel.
  2. Bantu pekerjaan di rumah seperti bebersih rumah atau membantu berjualan di toko.
  3. Tidak ada uang saku untuk berkegiatan Rohis.
  4. Menganggap Rohis sarang teroris karena termakan isu dan fitnah busuk media yang tidak menyukai kegiatan Rohis.
  5. Rohis terindikasi disusupi aliran sesat atau harakah sesat.

Nomor 1 sampai 4 masih bisa kita antisipasi agar orang tuamu bisa mengijinkan. Tapi kalau ternyata sebabnya nomor 5 maka saya sarankan kamu ikuti saran orang tuamu. Rohis bukan pilihan kegiatan yang baik kalau sudah disusupi aliran sesat.

Belajar itu Wajib. Mentaati Orang Tua itu Wajib. Bergaul dengan Orang Baik juga Wajib.

Belajar, mentaati orang tua, dan bergaul dengan orang baik itu sama-sama wajibnya. Jadi seharusnya diantara ketiga itu tidak ada kontradiksi karena ketiga-tiganya membawa kebaikan. Namun seringkali kita tidak bisa menjaga keseimbangan di antara ketiganya.

Seharusnya beraktivitas di Rohis tidak membuat nilai akademis kita jeblok. Belajarlah dengan kakak senior di Rohis yang berprestasi di bidang akademik. Kalau perlu ajak kakak Rohis untuk belajar di rumah, sehingga orang tua berbalik simpatik dengan kegiatan Rohis. Mereka akan berfikir : "Wah, anak saya sejak aktif di Rohis malah rajin belajar ya. Kakak-kakak Rohisnya malah mau datang ke rumah belajar bareng. Hmm… jadi tenang."

Yakinlah, jika hal di atas dilakukan secara kontinu, lambat laun orang tua akan mengerti bahwa Rohis membawa pengaruh positif kepada kehidupan akademis anaknya.

Kamu Wajib Terus Sekolah!

Sekarang gimana kalau kasusnya kamu harus bantu orang tua di rumah seperti menyapu, mencuci, dan bersih-bersih rumah? Kalau tugasnya bersih-bersih rumah, maka saya rasa tidak harus sampai keluar Rohis, sebab waktu untuk bersih-bersih rumah tidaklah begitu lama dan fleksibel.

Namun, jika konteksnya sampai membantu perekonomian orang tua, maka ada hal yang lebih krusial yang harus kamu pertimbangkan : Keberlangsungan sekolah kamu!

Kalau kita timang-timang, daripada kamu putus sekolah karena hambatan ekonomi maka lebih baik kamu kurangi aktivitasmu di Rohis dan membuat segalanya kembali seimbang dan stabil. Sekolah lancar, namun Rohis juga gak keluar-keluar amat. Minimal ikutilah mentoring seminggu sekali yang hanya dua jam itu. Saya yakin, kalau mentoring dua jam seminggu masih bisa kan.. 🙂

Pengorbananmu di Jalan Ilmu Tidak Akan Sia-Sia.

Saya menyayangkan kalau keputusan kamu keluar Rohis karena gak ada uang saku tambahan untuk berkegiatan. Gak semua kegiatan Rohis harus merogoh kocek dalam-dalam. Bahkan sebagian besar malah.

Coba ceritakan ke kakak mentormu tentang keterbatasan ekonomi yang membuat kamu gak bisa bayar angkot atau ikut tafakur alamnya Rohis. Keterbukaan bisa membuka banyak jalan kebaikan. Salah satunya mungkin pengurus akan membebaskan uang pendaftaran dan ongkos kegiatan termasuk membayarkan angkot dari dan ke rumah kamu.

Suatu saat kamu akan sangat bersyukur masih bisa berkegiatan Rohis di tengah himpitan ekonomi. Karena gak semua orang mendapat pencerahan hati untuk belajar Islam dalam komunitas Rohis. 🙂

Fitnah Begitu Kejam Kawan..

Belum lepas dari ingatan Metro TV memfitnah kegiatan Rohis sebagai gerbang perekrutan pelaku terorisme. Hei, saya bukan teroris bung! Saya dengan alumni Rohis lainnya terkena dampak kecurigaan orang-orang. Awas! Alumni Rohis Teroris! Alhasil orang tua binaan kami juga menaruh kecurigaan ekstra terhadap kegiatan anaknya di Rohis. Beberapa dilarang berkegiatan Rohis, beberapa masih percaya alhamdulillah.

Badai belum berlalu sampai di sana. Sekolah jadi memperketat perijinan kegiatan Rohis. Mau kemping perijinan jadi sulit. Harus ada pendamping dari guru. Kalau gak ada, maka kemping harus dibatalkan. Begitu juga dengan mabit, tafakur alam, dan kegiatan insidental lainnya. Jujur, semua jadi sulit gara-gara fitnah Metro TV. Tapi Allah kan Maha Mempermudah. Kita gak akan nyerah.

Ini pembelajaran besar buat pengurus Rohis agar bisa menyambung silaturahim dengan siapapun terutama jajaran pengurus sekolah dan orang tua binaan. Salah kita juga sih terlalu fokus sama adik binaan tapi kurang sowan sama pejabat sekolah dan orang tua murid. Padahal kan kita "numpang" dakwah di gedung sekolah dan membina anak orang. Jadi ya harus juga membangun 'romantisme' yang baik dengan mereka.

Harus ada program main ke rumah binaan. Minimal sekali tiap 6 bulan untuk memperkenalkan kegiatan rohis dan menyambung silaturahim ke orang tua. Selain itu, undang juga guru sekolah untuk memberi sambutan dalam setiap kegiatan kita.

Sederhana kan? Tapi efeknya besar lho.

Saya Harus Jujur.. Keluarlah Dari Rohis..

Sekarang bagian penjelasan yang pahit. Kalau kamu melihat kakak pembina Rohis mengajarkan Islam yang tidak biasa (melenceng dari Qur'an dan Sunnah), maka kamu patut curiga. Jangan-jangan Rohis sudah ditunggangi oleh harakah sesat dan merekrut orang-orang kayak kamu!

Langkah darurat yang harus kamu lakukan ketika mendapati hal seperti itu adalah dengan mengkonsultasikannya dengan guru agama. Bila kecurigaanmu tepat maka segera keluar dari Rohis dan putus komunikasi dengan senior kamu. Minta guru agama meng-clear-kan situasi dan menjelaskan kedudukan yang sebenarnya. Mungkin kondisi akan semakin pelik, tapi jagalah jarak sampai Rohis kembali steril. Baru setelah itu kamu kembali beraktivitas di Rohis seperti sedia kala.

Tetap Sayangi Orangtuamu

Mungkin saja setelah kamu jelasin berbagai argumentasi orang tua tetap melarangmu. Saya harap kamu jangan pernah membenci mereka, karena bagaimanapun mereka adalah orang yang membesarkanmu, jadi tetap hormati dan hargai mereka ya. 🙂

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. 17:23

Related Posts

Leave a reply