Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Kok Mau-Maunya Sih Jadi Muslim?

Saya baru aja beres ngisi halaqoh nih. Bahagia banget bisa ketemu saudara seiman dan membahas agama. Bagi saya agama itu belahan jiwa. Tanpa agama jiwa kita hampa, gak ada pedoman hidup, gak ada tujuan hidup. Tanpa agama kita kayak yang ‘kuning-kuning’ mengambang di sungai citarum itu lho. Ikut kemanapun air mengalir. Ujungnya lautan lepas dan bingung deh dihempas angin dan ombak.

Tadi juga topiknya asyik : “Kenapa memilih agama Islam?” Asyik beneran, karena stereotip muslim sekarang banyak yang gak tahu alasan dia milih agama islam itu kenapa. Rata-rata karena mewarisi agama orang tuanya. Biasanya mereka diistilahkan dengan ‘Islam KTP’. Kamu juga kah?

Agama Itu Pilihan

Coba lihat surat Surat Al-Baqarah. Di ayat 256 nya Allah berkata :

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).. (2:256)

Maksudnya sudah jelas kan. Kalau masuk Islam jangan mau dipaksa-paksa. Masuklah dengan ikhlas. Dengan tulus. Dengan alasan yang kuat.

Di Al-Kaafirun malah lebih jelas lagi.

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku(109:6)

Jadi masuk agama itu pilihan hati nurani. Keputusannya diambil setelah ditimbang matang-matang dan diperhitungkan segala konsekuensinya. Harus ada ilmunya.

Jadi Kenapa Memilih Islam?

Nah, jadi tadi tuh saya tanya satu-satu adik mentor. Pertanyaannya sama : “Jadi kenapa memilih Islam?” Ada yang menjawab “Karena Islam adalah agama yang benar”. Ada juga yang menjawab “Karena Islam adalah agama yang dirahmati Allah.” Ada yang sedikit malu-malu : “Karena… orang tua saya juga muslim.. hehe..”

Ada yang aneh jawabannya, gak?

Kalau saya merasa YA. Saya akan jelaskan kenapa.

Tiga jawaban di atas adalah jawaban-jawaban klasik tapi gak substantif. Gak menjawab. Soalnya semua pemeluk agama manapun bisa menjawab dengan alasan yang sama. Agama A bisa mengklaim agamanyalah yang benar, dirahmati Allah, dan paling baik. Agama B juga bisa. Agama C, D, E dan seterusnya bisa menjawab dengan redaksi yang sama. Ini sama aja kayak iklan operator seluler yang mengklaim produknya paling baik, paling oke, paling menguntungkan. Jadi deh perang operator gak beres-beres sampai sekarang.

Parameter yang Terukur

Sebenarnya mudah sekali menjawab pertanyaan ini kalau kita bisa sedikit merubah sudut pandang. Saya beri contoh dulu ya. Kalau saya tanya “Kenapa kamu milih iPhone ketimbang Samsung Galaxy?” Makanya jawabannya pasti “Karena fiturnya paling banyak“, “Tahan lama“, atau “Dukungan purna jualnya memuaskan“.

Merasakan bedanya kan?

Kalau sekarang jawabannya bisa terukur. Kita bisa membandingkan fitur mana yang paling banyak, smartphone mana yang lebih tahan lama. Atau siapa yang punya layanan purna jual paling baik. Bukan lagi dengan klaim ‘Karena iPhone adalah hape yang dirahmati Allah’ .. :-).

‘Parameter yang terukur‘ kata kuncinya.

Kalau kita ingin mencari tahu Islam yang terbaik atau bukan, maka ukurlah parameter yang bisa kita bandingkan. Ya.. kalau di dunia komputer istilahnya benchmarking. Kita bandingkan fitur-fitur yang sama lalu cari yang terbaik.

Saya gak bermaksud menjelek-jelekkan agama lain. Tapi kalau mau fair, mari kita lihat kelebihan Islam dari 3 sisi :

1. Kesempurnaan Islam dari sisi Masa.
2. Kesempurnaan Islam dari sisi Tempat
3. Kesempurnaan Islam dari sisi Sistem

Dari Sisi Masa

Sebuah agama dikatakan cacat jika ia hanya berlaku untuk rentang masa tertentu. Misalnya baru ditemukan pada saat ini. Atau kebalikannya; sudah kadaluwarsa.

Idealnya sebuah agama harus berlaku sepanjang zaman. Sejak Nabi Adam hingga akhir zaman. Adakah agama yang seperti itu? Ada kawan. Islam.

Islamlah yang mengklaim seluruh nabi sejak Adam hingga Muhammad adalah Nabi agama Islam. DI Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Musa adalah seorang Muslim. Pun begitu dengan para penyihir fir’aun yang bertaubat dan mengaku sebagai muslim. Hal itu bisa dilihat dari dua ayat berikut ini :

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri (muslim) – 10:84”.

Dan

Dan kamu tidak menyalahkan kami (Ahli sihir fir’aun), melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (muslim) (kepada-Mu)” – 7:126.

Gak hanya itu. Para pendeta Nasrani pun menyebut diri mereka sendiri sebagai Muslim lho!.

Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya) (muslim). 28:52-53

Dari Sisi Tempat

Idealnya, agama bagi manusia harus berlaku dimanapun manusia tinggal. Mau di Medan, Papua atau Washington DC, maka agama harus bisa mengatur kehidupan manusia di sana. Kalau sebuah agama hanya berlaku di satu tempat dan di tempat lain manusia harus menyembah tuhan yang berbeda dengan agama yang berbeda, maka agama itu kita kategorikan cacat. Iya dong. Tuhan kan pencipta alam semesta. Masa yang disembah beda-beda. Penciptanya cuman satu kok, Allah saja.

Oleb karena itu sebuah agama yang tuhannya berbilang dengan ada pembagian tugas diantaranya kita kategorikan sebagai agama yang cacat. Perhatikan ayat Qur’an berikut ini.

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. – 21:22

Allah yang menciptakan alam semesta ini, maka sembahlah hanya Allah saja. Dimanapun Tuhannya sama. Cara ibadahnya sama. Shalatnya sama. Puasanya sama, Zakatnya sama, dan juga diwajibkan naik haji bagi yang mampu.

Dari Sisi Sistem

Sisi yang tidak kalah krusial dari sisi agama adalah sistem yang ditawarkannya pada manusia. Sistem ini harus bisa menjawab berbagai pertanyaan dan kebingungan yang dilontarkan manusia. Sistem ini harus bisa menjawab 7W1H (What, Where, When, Who, Why, Whose, Whom dan How) aspek manusia yang sangat kompleks sekali. Tidak hanya itu, sistem ini juga tidak boleh kontradiksi dan kontraproduktif. Aturannya harus jelas dan tidak ambigu. Aturannya harus bisa dipahami dan dijelaskan secara rasional. Tidak boleh ada doktrin melainkan ada argumentasi jelas di baliknya.

Jika sebuah agama tidak bisa memenuhi berbagai ketentuan di atas, maka layaklah kita menolaknya. Agama haruslah sempurna. Untuk itu haruslah Zat yang maha sempurna yang mengaturnya.

Bisakah kamu bayangkan kalau manusia yang membuat agama? Tidak akan bisa secara manusia adalah makhluk yang lemah.

Jadi, pantaslah Islam kita nyatakan agama yang sempurna (tanpa harus diberi sandang superlatif “paling”) karena memenuhi kriteria di atas.

Dia dibuat oleh Allah SWT bukan oleh Muhammad.

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. -11:13

Dia tidak ada kontradiksi di dalamnya.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. -4:82

Dia mengatur segala aspek manusia dari yang kecil seperti gunting kuku hingga yang besar seperti mengatur negara. Laki-laki dan perempuan saja dibedakan hak dan kewajibannya.

So, bersyukurlah karena kamu saat ini dimudahkan Allah sebagai seorang muslim. Berbangga hatilah atas kesempurnaan agama kita namun tidak perlu menjelek-jelekkan agama lain. Ingat, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Alhamdulillah.. 🙂

Leave a reply