Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Kenapa Kamu harus 1000x Bangga Jadi Pengurus Rohis di Indonesia

Saat melakukan kaderisasi saya terbiasa membangun motivasi para peserta. Saya suka bertanya dengan 3 buah pertanyaan mendasar yang seharusnya bisa dijawab oleh semua anggota Rohis di seluruh Indonesia.

Pertanyaan itu adalah :

1. Mengapa mereka harus bangga sebagai seorang Muslim?
2. Mengapa mereka harus bangga sebagai kader Rohis?
3. Mengapa mereka harus bangga sebagai kader Rohis di Indonesia?

Pertanyaan pertama, sudah saya bahas di beberapa hari yang lalu. Kalau mau lihat search saja tulisan saya yang berjudul “Kok Mau-Maunya jadi Muslim?”.

Pertanyaan kedua, juga sudah pernah saya bahas beberapa minggu yang lalu. Bahasannya saya rinci menjadi “ 15 Alasan Kenapa Kamu Perlu Ikut Rohis (dan Gak Kamu Dapet di Ekskul lain)

Nah, di kesempatan kali ini saya ingin membahas jawaban untuk pertanyaan ketiga, yaitu “Mengapa kita harus bersyukur ditakdirkan menjadi pengurus dan kader Rohis di Indonesia?”

Indonesia, Surga yang Gak Ada Pintu Masuknya

Indonesia tanah airku.. semua orang memuja-muja negeriku. Koes plus saja ikutan bersajak,

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

Negara kita itu udah kaya surga men. Kekayaannya melimpah. Lautannya luas. Tanahnya subur. Langitnya cerah. Sawahnya kuning. Wah, subhanallah banget! Semua negara iri sama tanah Indonesia. Luas, subur, dan dilintasi garis khatulisitiwa. Cuacanya gak ekstrem. Setengah tahun hujan, setengah tahun kering. Gunungnya indah, lembahnya juga indah. Hewan dan tumbuhan juga beraneka ragam.

Tapi ada yang aneh dengan negara ini. “Surga” itu hanya label. Penduduk Indonesia rata-rata miskin. Kepala BPS, Suryamin mengatakan bahwa penduduk miskin Indonesia pada Maret 2013 sebanyak 28,07 juta orang dan September 2013 28,55 juta orang. Terjadi kenaikan sebesar 0,48 juta.

Semakin hari harga kebutuhan primer semakin mahal. Padahal kita bisa menanam dan mengkonsumsi sendiri. Faktanya beras saja kita masih harus impor. Ada yang aneh dengan negri ini. Dia “Surga” tapi seolah penduduknya belum pernah masuk ke dalamnya. Kita masih mencari, di mana pintu “Surga” yang bernama Indonesia itu.

Indonesia, Negri Mayoritas Muslim yang dikuasai Liberal.

Selidik punya selidik, ternyata kekayaan “Surga” Indonesia tidak dinikmati oleh rakyatnya sendiri. Mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam ini ternyata digilas oleh pejabat-pejabat yang tidak bermoral dan liberal. Aset-aset kita dijual. Satelit Indosat dijual. Emas di Papua dijual dengan harga murah. Perusahaan asing diperbolehkan mengeruk kekayaan alam kita lalu dibawa ke negri mereka untuk menyejahterakan anak dan ibu bapak mereka. Lalu pemerintah kita diam saja. Ya, mereka justru menikmati peran mereka menonton negri ini dijarah secara ekonomi, politik dan budaya, dan mereka dibayar mahal untuk itu. Sementara kita dijadikan budak di negri kita sendiri. Begitulah akhlak liberal, agama hanya dijadikan aksesoris. Mengaku muslim tapi menyengsarakan rakyatnya.

Coba renungi pemaparan salah seorang tokoh dakwah Indonesia berikut ini :

Antum semua ditakdirkan hidup di negeri ini. Negeri yang sekarang ini ditakdirkan menjadi negeri terbesar ke 4 di muka bumi dan negeri terbesar di dunia islam saat ini. Apabila jumlah penduduknya digabungkan semuanya, total jumlah penduduk di Indonesia ini sama dengan total jumlah penduduk dari 22 negara Arab. Apabila luas wilayahnya kita jelajahi dengan pesawat terbang dari Sabang sampai Merauke, itu sama dengan luas wilayah ketika kita terbang dari Jakarta ke Jeddah. Atau dari London ke Moskow. Negeri ini diberikan oleh Allah SWT kekayaan yang melimpah ruah. Semua jenis kekayaan yang kita perlukan untuk membangun sebuah peradaban sudah ada di negeri ini. Satu-satunya karunia yang belum pemah diberikan ke negeri ini adalah karunia kepemimpinan yang bisa menggunakan seluruh potensi untuk membangun sebuah peradaban Indonesia. ~Anis Matta

Kelemahan kita terpusat pada satu titik : Kepemimpinan Nasional. Hingga saat ini kita belum menemukan pemimpin yang benar-benar bisa membangun manusia Indonesia dan mengantarkannya memasuki “Surga” Indonesia. Kita masih dijajah, bahkan pemimpin kita ikut-ikutan menjajah kita. Parahnya, sebagian masyarakat kita tidak sadar bahwa mereka sedang dijajah. Mereka tenggelam dalam hingar bingar hedonisme dan materialisme. Bagi mereka kaya secara pribadi adalah ukuran. Tak perlu lah berjuang mewujudkan kemakmuran masyarakat, kalau diri sendiri saja masih kewalahan mencari makan. Di sinilah masyarakat kita rusak secara moral.

Kita Mulai Benahi dari Unsur terkecil Bangsa Indonesia : Manusianya.

Untuk mewujudkan kepemimpinan yang amanah itu, visi kita haruslah besar. Pemimpin yang akan mengembalikan “Surga” Indonesia kepada penduduknya yang mayoritas Muslim bukanlah seseorang yang turun dari langit. Dia juga bukanlah orang yang baru belajar Islam kemarin sore. Dia ada diantara kita atau bisa jadi adik-adik binaan kita sendiri. Para pemuda yang semangat belajar Islam sejak dini, sejak di bangku SMP/SMA.

Oleh sebab itu kacamata kita harus disetel untuk bisa melihat yang jauh-jauh. Bayangkanlah bahwa adik-adik binaan kita suatu saat akan menjadi calon pemimpin bangsa ini, atau setidaknya menjadi mentri-mentri yang akan mengelola urusan-urusan vital bangsa ini. Tidak lama lagi, 20-30 tahun yang akan datang, para pemuda Islam saat ini akan dihadapkan dengan tanggung jawab yang sangat besar. Kalau mereka tidak sanggup memengang kendalinya, maka selamanya negri kita akan terjajah. Lagi-lagi kita akan melakoni peran sebagai budak di negri sendiri.

Mungkin Salah Satunya Adik Mentor Kita

Siapkah kamu melahirkan calon pemimpin besar itu? Jangan jawab dulu. Renungi baik-baik dan bandingkan dengan realitas Rohis saat ini. Pemimpin besar hanya lahir sekali setiap 100 tahun. Kita tidak tahu siapa itu, namun kita bisa bangun sistem untuk mewujudkannya. Sebab pemimpin besar hanya lahir dari rahim pendidikan yang sempurna.

Alhamdulillah kawan. Rohis sedang menuju kepada pembentukan pemimpin-pemimpin besar itu. Saatnya akan tiba cepat ataupun lambat. Bila saatnya tiba dan gerombolan pemimpin besar akan memegang kekuasaan, yakinlah bahwa disana ada andil Rohis yang menanam benih kepemimpinan itu sejak mereka remaja. Sebab pada saat ini, tidak ada lagi orang-orang yang bisa kita harapkan untuk membangun pemuda selain kita sendiri. Pada saat itulah kita bisa berbangga, bahwa usaha kita tidaklah sia-sia..

Leave a reply