Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Kekuatan Pemikiran

Oleh: Akmal, ST., M.Pd.I.

Sebelum datangnya masa kenabian Muhammad saw, bangsa Arab hidup dalam keadaan yang boleh dikatakan statis. Secara umum, tidak ada yang menarik dari negeri yang bagaikan lautan pasir itu. Tidak ada sumber daya alam yang menjadi rebutan bangsa-bangsa lainnya di dunia saat itu. Oleh karena itu, tidak ada yang tertarik untuk menjajahnya. Ketika Abrahah menyerbu dengan Pasukan Gajahnya, tidak ada motif ekonomi, melainkan sekedar iri karena bangsa Arab dari seluruh penjuru begitu khidmat berkumpul di Masjidil Haram.

Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Masjidil Haram itulah harta kebanggaan Mekkah satu-satunya. Karena Masjidil Haram-lah – didukung oleh Mata Air Zamzam – masyarakat Arab berkumpul di Mekkah.

Selebihnya, tidak ada yang istimewa dari kehidupan di sekitar Mekkah, bahkan sebenarnya cukup memprihatinkan. Masyarakatnya menyembah berhala, suka mengundi nasib, suka mengorbankan anak perempuan, hidupnya disibukkan dengan tradisi-tradisi tak bermanfaat, gemar berkonsultasi dengan peramal dan tukang sihir, dan setiap masalah kecil bisa berubah menjadi perang antarkabilah. Masjidil Haram adalah satu-satunya hal yang mereka hormati bersama.

Dengan pola hidup seperti itu, tradisi keilmuan tidak berkembang. Masyarakat Arab tidak pandai membaca dan menulis, karena memang tak banyak yang bisa dan perlu ditulis dan dibaca. Tradisi intelektual mereka yang paling tinggi adalah tradisi oral, mulai dari pembacaan sajak hingga deklamasi kisah-kisah kepahlawanan. Itulah sebabnya kita mengenal peradaban pada masa itu dengan nama: jahiliyyah. Arab Pra-Islam adalah peradaban yang didominasi oleh kebodohan.

Rasulullah saw datang dengan seruan-seruan sederhana namun menyentak pikiran. Orang disuruh berhenti menyembah berhala dan kembali pada Allah Yang Maha Esa. Masyarakat Mekkah diajak kembali pada ajaran Nabi Ibrahim as yang lurus. Mengundi nasib diganti dengan ikhtiar dan kerja keras. Pembunuhan terhadap anak perempuan diharamkan, demikian juga khamr yang merusak otak manusia pun dinyatakan terlarang secara bertahap. Para pemuda diajak untuk berhenti melakukan perbuatan yang sia-sia atau yang tidak memberi manfaat, termasuk duduk-duduk di pinggir jalan atau di pasar-pasar. Beliau mengingatkan manusia bahwa Allah SWT mencintai manusia yang pulang dalam keadaan lelah mencari nafkah, sedangkan sebagian rizki yang diperolehnya adalah hak orang lain. Berhenti berzina, kembali kepada keluarga. Tidak ada lagi pertumpahan darah antarkabilah, berganti dengan persaudaraan antara Kaum Anshar dan Muhajirin.

Islam adalah agama yang dengan sederhana dapat langsung menyentuh alam pikiran manusia. Islam ‘memaksa’ semua orang, baik yang memikirkan hikmahnya maupun yang berusaha keras untuk mengingkarinya. Banyak orang yang tadinya berusaha melawan Islam pada akhirnya malah berbalik mengimaninya. Inilah tanda-tanda ‘kekalahan’ akal manusia di hadapan Islam.

Jauh sebelum masa Nabi Muhammad saw, kakek moyangnya, Nabi Ibrahim as, juga diutus dengan kekuatan argumentasi. Umat yang tidak mau berhenti menyembah berhala dipaksa untuk melihat kenyataan bahwa ternyata berhala-berhala itu tak mampu mencegah kehancuran dirinya sendiri. Bahkan berhala paling besar yang tersisa pun tidak mampu memberikan jawaban perihal ‘pembantaian’ rekan-rekannya.

Di hadapan seorang penguasa yang zalim, Nabi Ibrahim as diolok-olok karena mengatakan bahwa Tuhannya adalah Yang Maha Menghidupkan dan Yang Maha Mematikan. Sang Raja memanggil dua orang, kemudian membiarkan yang satu hidup dan membunuh yang satunya lagi. Pikirnya, itulah kekuasaan yang setara dengan Yang Maha Menghidupkan dan Yang Maha Mematikan. Dengan cerdik, Nabi Ibrahim as memberikan sebuah perbandingan: Tuhan telah menerbitkan matahari dari Timur dan menenggelamkannya di Barat. Tentu Sang Raja tak mampu menerbitkannya di Barat dan menenggelamkannya di Timur. Demikianlah Nabi Ibrahim as berargumen.

Pemikiran memang tidak menghasilkan kekuatan yang masif dalam waktu singkat. Sebab, pikiran itu perlu diasah secara teratur agar memiliki ketajaman yang hebat. Demikian pula Rasulullah saw menempuh masa-masa yang panjang dan berat dalam melakukan tarbiyah kepada sahabat-sahabatnya. Dalam prosesnya, tidak ada yang mudah.

Tarbiyah Rasulullah saw mampu mengubah Bilal bin Rabah ra dari seorang budak berkulit hitam legam yang tak punya harga diri menjadi seorang pemimpin yang disegani dan pahlawan Perang Badar yang menakutkan musuh-musuhnya. Bukanlah perkara mudah mengubah kondisi jiwa seorang budak menjadi manusia merdeka, meskipun statusnya telah benar-benar merdeka.

Tarbiyah Rasulullah saw mengubah dua orang sahabat utamanya sedemikian rupa, sehingga Abu Bakar ra yang mudah menangis dalam shalat berubah menjadi Khalifah yang tegas pada kaum yang menolak membayar zakat, sedangkan ‘Umar ibn al-Khaththab ra yang dikenal garang justru berubah menjadi Amirul Mu’minin yang begitu lembut pada rakyatnya dan takut sekali akan melanggar amanah. Bukanlah perkara ringan membangkitkan setiap potensi dari kedalaman jiwa manusia yang penuh misteri.

Nabi Muhammad saw memang ummiy (tidak dapat membaca dan menulis), namun ke-ummiy-an itu tidak diwariskan kepada umatnya. Sebaliknya, tradisi baca-tulis berkembang pesat pada masa kepemimpinan beliau. Rasulullah saw adalah seorang buta huruf yang paling banyak sekretarisnya; konon, tidak kurang dari 50 orang. Administrasi dan dokumentasi menjadi kebiasaan, sehingga mereka yang berangkat perang dan menerima zakat semuanya tercatat rapi, demikian juga ayat-ayat al-Qur’an yang telah diturunkan dicatat dengan rapi oleh para sekretaris yang punya memiliki tugas khususnya masing-masing. Para pemuda diperintahkan belajar di ruang-ruang shuffah dengan ongkos dari umat. Sebagian sahabat diperintahkan untuk mempelajari berbagai bahasa asing.

Pada jaman pemerintahan Khalifah ‘Utsman ibn al-‘Affan ra, kertas dibagi-bagikan kepada kantor-kantor pemerintahan di seluruh propinsi. Perpustakaan-perpustakaan pribadi bermunculan, memuat hingga jumlah ribuan kitab. Dengan Islam, bangsa Arab meninggalkan kehidupan yang serba jahil.

Peradaban Ilmu

Antum tahu apa artinya “Qumrah”? Tidak perlu khawatir, sebab orang Arab pun sudah nyaris tak ada yang mengetahuinya. “Qumrah” adalah asal kata dari “camera”, yaitu alat untuk membuat foto yang hampir dimiliki oleh semua orang pada jaman sekarang. Ironisnya, “camera” dalam bahasa Inggris terambil dari kata “qumrah” dalam bahasa Arab, namun kata yang kedua ini seolah telah hilang dari kosa kata bangsa Arab. Padahal, kamera foto yang dulu disebut qumrah ini berasal dari temuan Ibn al-Haytsam, seorang ilmuwan Muslim. Ibn al-Haytsam berhasil menemukan sebuah kamera sederhana berupa ruang gelap yang digunakannya untuk menangkap bayangan terbalik dari sebuah obyek. Setelah melalui perkembangan panjang, terciptalah kamera jaman sekarang. Sayangnya, dunia – dan umat Muslim juga – telah melupakan Ibn al-Haytsam. Orang Arab pun lebih suka dengan kata “camera” ketimbang “qumrah”.

Seberapa jauh jarak terbentang di antara masa kehidupan Nabi Muhammad saw dengan al-Biruni? Yang terakhir ini adalah seorang ilmuwan besar yang hidup pada jaman keemasan sains dalam peradaban Islam, yaitu sekitar abad ke-10 Masehi, atau abad ke-4 Hijriyyah. Al-Biruni adalah ahli di bidang matematika (terutama trigonometri), mineralogi (ia sudah mencatat berat jenis dari berbagai macam logam), astronomi (ia mahir menggunakan astrolab untuk mencatat pergerakan bintang), geodesi (perpetaan), dan beberapa pihak pun sepakat menjulukinya sebagai Bapak Sosiologi Dunia sebab al-Biruni adalah orang pertama yang melakukan observasi menyeluruh kepada suatu masyarakat (dalam hal ini masyarakat India) dan mencatat segala temuannya dalam sebuah karya ensiklopedik. Ketika Inggris menemukan India, para pembesar Inggris masih menggunakan karya al-Biruni sebagai referensinya.

Sebesar apa nama al-Biruni dalam sejarah sains dunia? Tanyakanlah pada mereka yang memberinya penghargaan setinggi langit dengan memberikan namanya untuk sebuah kawah di Bulan, yaitu The Aliboron Crater. Sayang, dunia – dengan pengecualian sekelompok ilmuwan yang jujur pada sejarah – dan juga umat Muslim sudah tidak banyak yang mengenang nama al-Biruni.

Begitu jauh waktu terbentang antara masa-masa diutusnya Nabi Muhammad saw hingga puncak kejayaan peradaban Islam di abad ke-4 Hijriyyah. Betapa jauh jarak antara kemenangan Islam di negeri Romawi dan Persia dengan ramalan Nabi Muhammad saw tentang kemenangan itu. Kemenangan memang tidak selalu bisa diraih dalam waktu singkat. Akan tetapi, dengan kekuatan pemikiran dan waktu, segalanya menjadi mungkin.

Jika kita mengukur kerja dan prestasi manusia dengan umur hidupnya sendiri, maka alangkah singkatnya. Tapi Rasulullah saw sejak dulu telah mengajarkan manusia untuk berpikir lebih besar daripada dirinya sendiri, lebih jauh daripada masa hidupnya sendiri. Kita diperintahkan tidak hanya untuk mewariskan nama kepada generasi selanjutnya, melainkan juga cita-cita besar. Muslim yang pertama hingga Muslim yang terakhir semuanya berada dalam barisan yang sama. Generasi mana pun yang akhirnya mendapatkan kemenangan, tidak masalah.

Menang dengan Pemikiran

Dalam sebuah kajian di Bandung, ust Rahmat Abdullah rahimahullaah pernah menerima pertanyaan dari seorang peserta kajian: “Bukankah dakwah Hasan al-Banna telah gagal, bahkan ia sendiri terbunuh dalam perjuangannya?” Dengan gagah ust Rahmat menjawab, “Kalaulah memang benar dakwah beliau gagal, tentu kita tidak berkumpul di majelis ini!”

Hasan al-Banna rahimahullaah menghadap Allah di usia yang sangat muda. Dengan penuh penyesalan, banyak yang mengatakan bahwa beliau terlalu cepat dipanggil pulang. Akan tetapi, dalam masa dakwahnya yang teramat singkat itu, beliau berhasil mewariskan sebuah pemikiran besar, meski sederhana. Tidak banyak karya yang ia tulis, namun ia telah mengkader begitu banyak penulis besar. Ia dikenal sebagai tokoh pergerakan, bukan ulama, namun telah berhasil mengkader begitu banyak ulama besar. Karya-karyanya hingga detik ini masih dibaca orang di seluruh dunia dan terus menginspirasi umat Muslim untuk kembali menggapai kejayaannya.

Kalau ingin melihat contoh karya besar beliau, tak perlu jauh-jauh mencari. Kedaulatan Republik Indonesia adalah salah satu dari banyak hal yang beliau perjuangkan dahulu. Diplomat RI selevel KH. Agus Salim pernah duduk dan menyampaikan secara langsung ucapan terima kasih atas dukungannya terhadap kemerdekaan RI. Demikian pula Prof. M. Rasjidi, mantan Menteri Agama RI yang pertama, pernah beraudiensi dengan beliau. Moh. Natsir menjalin hubungan yang sangat dekat dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun, dan Buya Hamka memuji beliau tidak kurang sebagai pahlawan besar dunia Islam.

Pada jamannya, Al-Ikhwan mampu mengirim pasukan yang sangat ditakuti oleh pasukan Zionis. Kata mereka, sukarelawan Al-Ikhwan begitu menakutkan, karena mereka (kaum Zionis) datang ke tanah Palestina untuk hidup, sedangkan para sukarelawan itu datang hendak mati. Hingga kini, perjuangan masih dilanjutkan oleh Hamas. Dengan segala keterbatasan, api perlawanan tak pernah padam.

Puluhan tahun lamanya, para aktivis Al-Ikhwan ditangkap dan disiksa dengan kejam. Apakah gagasan mati di dalam kurungan? Apakah cita-cita padam di balik jeruji?

Dulu, banyak yang menyangsikan perjuangan dakwah Hasan al-Banna. Di kalangan kader-kader yang dididik langsung oleh al-Banna pun banyak yang menghendaki ‘jalan pintas’, yaitu agar Al-Ikhwan menempuh jalur kekerasan. Akan tetapi para pemimpin Al-Ikhwan tahu bahwa keterpurukan Islam di masa kini adalah akibat kelemahan pemikirannya. Melawan saudara sendiri dengan kekerasan bukanlah opsi yang bijak. Tentu saja, mereka pun menyadari bahwa opsi reformasi pemikiran akan meminta waktu yang jauh lebih lama. Kenyataannya kini, kepingan-kepingan puzzle yang tadinya berserakan sudah mulai tersusun. Dari Palestina, Turki, hingga Mesir. Sekarang, Dr. Muhammad Mursi yang sudah resmi menjabat sebagai Presiden Mesir bisa menyalami para perwira yang dulu menjebloskannya ke penjara dengan senyum lepas.

Dalam ranah ghazwul fikri, bukan pedang yang terhunus, melainkan pemikiranlah yang menjadi senjata. Dengan mewariskan pemikiran, umat Muslim bisa mencapai apa yang tidak bisa dicapainya sendiri-sendiri. Hasan al-Banna pun bukan titik nol dari kebangkitan Islam. Menurut sebagian pengamat, konsep-konsep kebangkitan yang sudah digariskan oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridha, pada akhirnya berhasil dikoreksi dan diaktualisasikan oleh Hasan al-Banna. Apa yang sudah dilakukan oleh Hasan al-Banna pun masih terus digali dan diaktualisasikan kembali oleh generasi sesudahnya. Ada hal-hal yang berubah, namun semangat kebangkitan Islam yang dikobarkan tetap sama.

Meski butuh waktu yang tidak sedikit, tapi janji Allah niscaya akan terpenuhi. Peradaban Islam pernah mencapai kejayaannya, sebelum akhirnya runtuh. Ia tidak runtuh kecuali jika syarat-syarat keruntuhannya telah dipenuhi, dan niscaya kelak akan bangkit kembali jika syarat-syarat kebangkitannya telah dipenuhi lagi. Untuk tugas yang sebesar itu, dibutuhkan kekuatan yang bertahan selama beberapa generasi. Itulah kemenangan yang hanya bisa dicapai dengan kekuatan pemikiran.