Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Kebangkitan Buih

Bagikan, insya Allah jadi amal kebaikan

Kita, tengah berada pada alam pergolakan yang paling ganas, PERGOLAKAN TANPA SENJATA. Dunia kita penuh dengan persekongkolan dan kesepakatan; untuk menghancurkan kita meskipun dalam beberapa saat lamanya. Tapi, manusia di dalamnya merasa lega, sebab tak seorang asing pun di seluruh kawasan yang menempatkan pasukan dan persenjataannya. Tak ada seorang penasihat asing yang menghalangi bekerja demi kesejahteraan yang kita kehendaki. Kita dari dalam bebas mengerjakan apapun, tetapi di luar dikepung dengan berbagai perangkat dan siasat licik. Masing-masing pihak ingin menarik kita jadi pengikutnya dan budak-budaknya yang patuh. LALU, SENJATA APA YANG TELAH KITA SIAPKAN UNTUK MELINDUNGI MASYARAKAT DAN DIRI KITA? PROGRAM APA YANG TELAH TERSUSUN UNTUK MEMBEBASKAN DIRI KITA DARI MUSUH-MUSUH ITU?
( Fokus Islah No.14/1994 ).

Dikhawatirkan kalian nanti akan terkumpul seperti halnya mangsa yang terkumpul dalam wadahnya (yang siap disantap siapa pun). Para sahabat bertanya,Apakah karena kita minoritas, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: Tidak, bahkan saat itu kalian mayoritas, akan tetapi kalian seperti buih (al ghutsa) (ketika banjir). Allah benar-benar melenyapkan karisma kalian dalam dada musuh-musuh kalian, sementara Dia benar-benar melemparkan sikap wahn pada hati kalian. Para sahabat bertanya, Apakah wahn itu ya Rasulullah? Beliau menjawab, Cinta dunia dan takut mati. ( HR.Ahmad dan Abu Daud ).

Azzam memandang nanar berita dan foto foto ditimeline facebooknya. Foto-foto anak2 Palestina yang diperlakukan dengan semena-mena dan dunia seolah membisu. Tanpa disadari air matanya mengalir, dadanya bergemuruh, Rabbana. Azzam dapat merasakan ruhul jihad dari pemuda-pemuda Palestina teriring batu batu yang berterbangan disertai pekikan Allahu Akbar, Isy karimaan au mut syahidaan seolah mengelegar ke angkasa ditengah deraian air mata kepedihan. Muslim mana pun seharusnya merasakan hal yang sama, ketika seorang saudaranya terdzolimi. Namun dibalik semua ini, ada banyak hal yang harus kita renungi. Allah mentarbiyah umatNya melalui berbagai hal, beragam peristiwa hatta musibah dan bencana. Dan semua itu adalah bagian pembinaanNya bagi orang-orang yang berakal, bagian kasih sayangNya yang tanpa batas.

ISLAM ITU INDAH, ISLAM ITU RAHMATAN LIL ALAMIN, sampai kapanpun pernyataan itu akan senantiasa terpatri dalam dada kita sebagai seorang mukmin. Dan kini saat gelombang kemunkaran mencoba memporak-porandakan tatanan Islam diseluruh dunia, satu hal yang tak akan mampu dipadamkan bahwa Islam itu adalah rahmatan lil alamin, bahwa fitrah itu tak akan mampu dibunuh dengan senjata secanggih apapun. Kita berada dalam dunia yang bergetah, saat ombak zionis berada dalam puncak lautan, menerjang apapun dan menyisakan buih-buih umat ditepian. Maka tak dapat dihindari ketika konon Rasulullah SAW pernah memperingatkan bahwa akan ada saat ketika umat Islam berjumlah banyak tetapi kualitasnya seperti buih di samudra. Mengutip resonansi Miranda Risang Ayu bahwa ketika umat Islam menjadi buih, mereka hanya mampu mereka-reka kapan waktunya mungkin hanya akan membuat pertanyaan bersambut dengan prasangka. Kemarin, sekarang dan esok itu tidak penting. Gelombang ada kapan saja, dimana saja, dan bisa datang tiba-tiba saja.

Menjadi buih berarti tidak menjadi apa-apa. Ketika gelombang terjadi ke arah yang lebih baik, manusia buih tidak pernah memimpin. Ketika gelombang adalah bencana, manusia buih adalah objek yang tidak tahu apa-apa, naif, tetapi paling rentan menjadi penderita utama. Manusia buih tidak punya harga diri yang sehat karena ia tidak mengenal betul dirinya. Jika pun ia merasa mengenal dirinya, ia tidak pernah dapat mengambil sikap yang tegas dan bijak karena pengetahuan tentang dirinya tidak berasal dari kehakikian di dalam dirinya sendiri. Manusia buih tidak kritis, mudah terombang-ambing, tidak bernilai, tidak berisi, dan rapuh.

Inilah kondisi yang ada, kumpulan buih yang tak punya kekuatan apa pun untuk melawan sang ombak dan gelombang, bahkan untuk selemah-lemahnya iman. Azzam pun berkaca diri, melihat kualitas buih yang ada dalam dirinya. Mencoba bermuhasabah akan setiap langkah mundur yang dilakukannya. Buih-buih itu berada dalam dirinya, menjadi noda-noda hitam dalam hatinya, meracuni peredaran darah yang menghambat geraknya, dan seringkali bercokol di otaknya hingga ia menjadi futur dan jumud. Namun kita bukanlah kaum pesimistis yang pasrah begitu saja, karena peringatan sang rasul tentu terlalu mulia jika hanya untuk menebar mendung di hati umat. Kini adalah saatnya untuk melakukan sebuah aksi nyata yang akan menjadi sebuah sejarah tak terlupakan bagi gelombang kemunkaran sebesar apapun, yaitu kebangkitan buih.

Satu hal yang takkan pernah mati dari dada seorang manusia ialah fitrah menuju kebaikan. Upaya apapun yang dilakukan untuk menutupi fitrah itu dengan berbagai topeng kemaksiatan takkan mampu membendung arus kegelisahan akan sebuah pertanyaan, untuk apa aku dilahirkan kedunia? Sekelam apa pun sebuah hati, selalu ada titik bersih yang menyuarakan kebaikan, meski kualitas bisikannya yang berbeda-beda.

Kita telah Allah anugrahkan kenikmatan berupa hidayah iman dan Islam yang tiada seorang pun yang dapat membelinya bahkan dengan bumi dan seluruh isinya. Maka yang harus kita lakukan sekarang adalah bagaimana mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapi musuh-musuh kita hingga cita-cita kita untuk terjadinya kebangkitan buih menjadi kekuatan komunal bukanlah suatu angan semata. Karena janji Allah pastilah terjadi, bahwa suatu saat nanti kebangkitan Islam adalah suatu keniscayaan dan futuh adalah suatu kepastian.

Maka satu tanya untuk antum semua saat ini, “SENJATA APA YANG TELAH KITA SIAPKAN UNTUK MELINDUNGI MASYARAKAT DAN DIRI KITA? PROGRAM APA YANG TELAH TERSUSUN UNTUK MEMBEBASKAN DIRI KITA DARI MUSUH-MUSUH ITU?”
Islam bermula asing (aneh), dan akan mengulang keasingannya seperti semula, maka beruntunglah orang-orang asing. (HR.Muslim)

Diantara kumpulan buih, selalu ada tetesan-tetesan air jernih yang alirannya menyejukkan, deburnya membangkitkan semangat, dan kejernihannya memancarkan cahaya Islam yang terang, yang membangungkan buih dari tidur panjangnya. Tetesan-tetesan air yang kerap kali aneh dan terlihat asing, namun ghuroba inilah yang akan menjadi bagian penyulingan buih untuk berada dalam barisan tetesan air yang akan bermuara pada lautan kekuatan perlawanan. Tugas kita semualah untuk melenyapkan keterasingan Islam dari bumi ini dengan izin Allah.

Kita sebagai seorang pemuda Islam Allah berikan berbagai keutamaan dengan usia yang kita miliki. Kini da’wah sudah mengalami berbagai perkembangan pesat dalam perjalanan panjangnya di Indonesia. Saat ini tarbiyah mulai beraksi di cafe-cafe dan meraih beragam insan dengan kekhasan karakternya. Maka ini adalah tantangan sekaligus kerja berat yang membutuhkan jiwa-jiwa pengorbanan tiada tepi, dan keikhlasan serta kesabaran tanpa batas. Karena untuk membangkitkan riak-riak buih di lautan yang luas dibutuhkan gelombang air yang kuat. Hasan Al-Banna berpesan kepada para pemuda; Sesungguhnya sebuah pemikiran akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepada-Nya, ikhlas dalam berjuang dijalan-Nya, semakin bersemangat merealisasikannya, serta siap beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Dan seperti yang kita tahu, keempat rukun ini-iman, ikhlas, semangat, dan amal-merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda. Karena sesungguhnya dasar keimanan itu akal yang cerdas (aqlun dzakiy), dasar keikhlasan ialah hati yang bersih (qolbun zakiy), dasar semangat adalah perasaan yang menggelora (syu urun qawiy), dan dasar amal adalah tekad yang membaja (azmun fattiy). Itu semua tidak terdapat kecuali pada pemuda.

Maka tiada lagi saat untuk bersantai saudaraku, seperti yang dikatakan Rasulullah pada Khadijah saat Allah SWT memberikan risalah kenabian-nya, Sudah habis hari-hari tidur kita wahai Khadijah. Hai orang yang berkemul, bangunlah lalu berilah peringatan. (QS Al-Mudatsir :1). Seakan-akan Allah berfirman: Sesungguhnya orang yang hidup untuk dirinya bisa hidup tenang dan santai. Tapi engkau memanggul beban ini, mengapa tidur-tiduran saja? Mengapa engkau masih terlentang ditempat tidur dan santai-santai saja? Bangunlah untuk menghadapi urusan besar yang menantimu. Beban berat sudah menunggu dihadapanmu. Bangunlah untuk berjuang dan berjihad. Bangunlah, karena waktu tidur dan istirahat sudah habis. Sejak hari ini engkau harus siap untuk lebih banyak terjaga pada malam hari dan perjuangan yang berat lagi panjang. Bangunlah dan bersiaplah untuk itu semua.

Susunan rencana dan program perbaikan umat adalah PR besar kita bersama. Berbagai wajihah da’wah dan wasilah yang ada adalah bagian agenda-agenda harian kita. Dimana pun kita berada, selalu ada satu amanah yang melekat dalam diri kita, nahnu jundullah qobla kuli syai. Tarbiyah adalah satu solusi tepat untuk kebangkitan buih, untuk membangun satu keberanian komunal umat. Dan siapakah kita? Kita adalah bagian tak terpisahkan dari tarbiyah itu sendiri, saat kita berada dalam putarannya yang harmonis dan tawazun. Saat kita dulu ibarat botol kosong, yang kemudian nikmat tarbiyah mengisi botol kosong itu dengan keindahan Islam dan selaksa pemahaman. Botol kita pun penuh, maka konsekuensi logis dari tarbiyah kita adalah ketika kita menjadi kader-kader produktif (murobbi muntijah) yang kemudian berfastabiqul khairat untuk mentransfer ilmu kita, menuangkan air dalam botol kita (pemahaman kita) pada mad’u-mad’u kita. Dan kemudian perputaran itu kembali bergerak, saat mad’u kita menjadi murobbi, dan kemudian putaran (estafet da’wah) itu kembali berputar. Ketika botol kita mulai kosong, kita selalu memiliki tempat untuk mengisinya kembali, untuk beristirahat, dan memutaba’ah segala langkah kita. Maka siapapun kita, dengan segala keterbatasan maupun kelebihan ilmu dan kafa’ah kita, marilah membina, sampai batas kemampuan kita. Ya, sampai batas kemampuan kita. Dulu kita adalah buih, kini dalam diri kita pun masih ada buih-buih yang tanpa kekuatan, namun cahaya Islam mengajarkan kita untuk menjadi tetesan air, yang kesempurnaannya adalah proses tanpa batas hingga akhir kehidupan kita.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata, Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS.Fushilat : 33).

Ikhwah fillah, perjalanan menuju kebangkitan Islam adalah perjalanan panjang yang hanya akan berakhir pada saat hembusan nafas kita tidak bertiup lagi. Abbas As-Siisi dalam bukunya At-thariiq ila Al-Quluub. Beliau mengingatkan bahwa perputaran waktu adalah bagian dari pengobatan dan pembentukan (al-waqtu juz uun minal ilaaj wat takwiin). Maka tidak semestinya seorang muslim menunda-nunda waktu untuk memenuhi tujuan ini: mengobati dan membentuk manusia. Sedetik kelengahan seorang muslim terhadap tugas ini berarti kerugian yang besar seorang hamba Allah dari nilai hidayah. Merugilah manusia yang diam dan tidak tergerak hatinya sedikitpun untuk berpartisipasi dalam perbaikan, sementara banyak potensi manusia yang tidak tergarap dan kemaksiatan merajalela disekitarnya.

Sasaran pengobatan (mu’aajalah ) dan pembentukan (takwiin) umat adalah hati umat tersebut. Hati hanya bisa dihadapi dengan hati. Maka jangan biarkan buih-buih dalam diri kita menutupi kejernihan hati kita, ibda binafsik, mulailah pengobatan itu dari diri kita. Inilah saatnya menjadi bagian dari gelombang perbaikan yang kekuatannya adalah kekuatan keimanan, yang gendang perjuangannya adalah nyanyian kesyahidan, yang gelora hamasahnya adalah senandung Badar dan futuh Mekah. Persiapkanlah segala yang mampu kita lakukan, baik ruhiyah, fikriyah, hamasah, dan jasadiyah kita.Tunjukkanlah pada musuh musuh Islam bahwa kita adalah orang orang yang menyatakan kebenaran dengan cinta dan mencoba membangunkan fitrah mereka. Kita sangat mencintai kedamaian, menghargai perbedaan, namun kita pun adalah umat yang mencintai kesyahidan dan siap menegakkan keadilan. Kebangkitan buih adalah tantangan zaman, terserah kita untuk kemudian mengambil peran, menjadi buih atau bagian dari gelombang perbaikan?
Wallahu alam bishawab.

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (QS.Al-Anfal : 60 )

Azzam Syahidah

Maroji :
1. Muhammad Qutb, Islam Kini dan Esok; 2. Nugroho Widiyanto dan Koesmarwati, Da wah Sekolah di Era Baru; 3. Resonansi REPUBLIKA, Miranda Risang Ayu; 4. ISLAH No.12/1994 dengan beberapa penambahan dan perubahan.