Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Kapan Waktu yang Tepat Untuk Menikah

Kamu pacaran? Kapan nikahnya?

Kamu gak pacaran? Kapan nikahnya?

Sewaktu SMA saya masih inget ada materi pelajaran agama tentang pernikahan. Judulnya munakahat. Itu dikasih saat saya kelas 3 kalau tidak salah. Tepatnya semester 1.

Saya baru sadar ternyata kita sudah diperkenalkan tentang pernikahan sedini mungkin. Dan memang islam juga mengajarkan bahwa menikah jangan ditunda-tunda apalagi memperpanjang status lajang.

Namun pertanyaannya KAPAN?

Nah saya punya panduan tentang kapan waktu yang tepat untuk menikah. Tidak selengkap A to Z tapi cukuplah untuk pengetahuan dasar kamu.

Dari segi takdir

Kita mulai dari sumber penentu segalanya, yaitu Allah. Rumusnya sederhana, Kalau Allah tetapkan hari ini menikah, ya menikah! Tapi kalau enggak ya enggak. Gimana Allah aja.

Artinya disini kamu siap-siap aja kalau ditawari jodoh sama bapak atau ibumu, trus calonnya sesuai kriteria lagi : sholeh, berpenghasilan, aktivis dakwah. Bisa jadi besoknya kamu disuruh nikah.

Kan Laudya Cintya Bella udah berhijab tuh, kalau misalnya dia tiba-tiba nongol di rumah kamu trus minta dilamar udah siap belon? wkwkwkwk..

Dari segi kesehatan

Kata para pakar, wanita bagusnya menikah di atas umur 20 tahun karena diperkirakan di umur segitu hormon wanita sudah cukup matang untuk hamil dengan resiko kematian kecil. Diusahakan pula untuk menikah sebelum umur 35 karena resiko mati saat melahirkan kembali tinggi di atas umur 35.

Tapi itu kan kata pakar kesehatan ya. Tidak 100% benar karena ilmu dan teknologi kesehatan terus berkembang. Sejarah mencatat bahwa Ibu termuda dijabat oleh seorang bocah berusia 5 Tahun bernama Lina Medina dan ibu tertua dijuarai oleh Rajo Devi Lohan yang melahirkan di atas usia 60 tahun. Kamu juga masih ingat bahwa istri nabi Zakaria juga melahirkan di usia yang sangat renta. Allah di atas segalanya tak terkecuali teknologi kesehatan terkini.

Dari kesiapan mental

Nah, pernikahan itu gak sekedar hidup berdua tapi memangku beban hidup bersama dan tidak lagi bergantung kepada orang tua. Gak hanya itu, kamu harus bisa berkomunikasi dan memahami lawan jenis luar dan dalamnya, ditambah… kamu juga harus sabar dengan kekurangan pasangan hidupmu apapun itu. Kia menyebutnya dengan istilah dewasa. Dewasa itu pilihan, bukan keniscayaan. Gak kaya badan yang semakin lemah dan hidup yang semakin tua, kedewasaan itu lebih kepada kondisi mental yang kita latih sendiri. Kalau kamu gak melatihnya, maka sampai kapanpun kamu gak akan dewasa-dewasa alias childish. Prof Ahmad Hasan dalam artikelnya yang berjudul “Samat Ar-Rajulah fi Al-Islam” mengatakan bahwa kedewasaan berarti mereka yang hidup taat dan mengimplementasikan takwa dalam kehidupan sehari-hari.

orang yang laik menyandang sifat dewasa baik dari golongan Adam atau Hawa ialah mereka yang hidup taat dan mengimplementasikan takwa dalam kehidupan sehari-hari.Prof Ahmad Hasan

Dari Hadis Abu Hurairah juga menyebut demikian. Sebaik-baik manusia ialah mereka yang bertakwa. Ini berarti, takwa dalam pemaknaan yang luas bisa dijadikan sebagai tolok ukur kedewasaan seseorang.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa kalau Kamu sudah mengimplementasikan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, maka kamu sudah bisa mengajukan lamaran teruntuk dia yang kamu hajatkan, berapapun umurmu.

Dari segi sunnah Rasul

Kamu juga bisa berpatokan dari sirah Nabi Muhammad. Beliau menikah di umur 25 tahun. Kesimpulannya, di umurmu yang masih belia ini harus dikebut mengejar takwanya, biar nanti di umur 25 tahun kamu udah siap ngomong ke abi sama umi kalau kamu mau menikah. Nah, kalau akhwat gak harus mencontoh khadijah yang menikah di umur 40 tahun. Secara khadijah bukan nabi, namun beliau adalah keluarga Rasul yang wajib kita hormati. Kalau akhwat, sebaiknya tidak terlalu banyak pertimbangan selain keridhoan orang tua dan ketapan hati untuk mau melayani suami dengan baik.

“Jika kamu didatangi oleh (laki-laki) yang kamu ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia (dengan putrimu), karena jika tidak, niscaya akan ada fitnah (malapetaka) di muka bumi dan kerusakan yang lebar.” (HR.At-Tirmidzi, 1084,1085 Ibnu Majah, 1967 dan Al-Hakim, 2/165,166 )

Dari segi urgensi

Pada kasus lain, ada juga seseorang yang wajib kudu harus segera menikah karena beberapa sebab, diantaranya :

  1. Dekat dengan dunia maksiat. Misal dia punya lingkungan pertemanan yang tidak baik, daripada terjatuh pada perzinaan, maka lebih baik dia menikah sesegera mungkin.
  2. Memiliki masa lalu yang gelap dan banyak mengkonsumsi konten pornografi. Seseorang yang ingin bertobat dari pronografi bisa mencari solusi dengan menikah, dengan begitu hasratnya tersalurkan kepada yang halal.
  3. Pacaran. Daripada pacaran maka harusnya menikah. Buat apa pacaran kalau tidak punya niat untuk hidup bersama selamanya. Daripada ujung – ujungnya hamil di luar nikah hayoh!
“Ada 3 golongan yang berhak ditolong oleh Allah (yaitu): Pejuang di jalan Allah, mukatib (budak) yang mau melunasi pembayarannya (memerdekakan dirinya) dan orang kawin yang mau menjauhkan dirinya dari yang haram.” (HR. Turmudzi)

Kesimpulan

Jadi sebenarnya gak ada waktu yang tepat yang berlaku untuk semua orang, semua kembali kepada kesiapan dan kondisi masing – masing. Meskipun begitu, prinsipnya cuma satu : sesegera mungkin.

‘Ali r.a mengabarkan, Rasulullah s.a.w pernah bersabda kepadanya : ” Hai ‘Ali, tiga perkara janganlah engkau mengakhirkannya. Yaitu sholat apabila tiba (waktunya), jenazah apabila telah sempurna (kematiannya), dan wanita jika telah menemukan pasangan yang sepadan dengannya ” ( HR. Tirmidzi )

Related Posts