Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Integralitas antara Ta’rif, Takwin dan Tanfidz

Ta’rif tetaplah memiliki tujuan utamanya yakni mengenalkan Islam kepada orang dan membekali mereka dengan tsaqafah Islam yang memadai, baik tsaqafah tentang masa lalu maupun tentang masa kini. Juga mengenalkan Jamaah dan fikrahnya agar orang memberikan loyalitasnya dengan iman, shalat, dan zakat, yakni mengenalkan Islam dan menjadikannya komitmen kepadanya dan kepada umatnya secara umum.

Seiring dengan kadar kesiapannya, begitulah ia memberi dan mengambil; seiring dengan kadar umurnya, begitulah ia memberi dan mengambil. Yang penting —sebagaimana telah kami sebutkan— adalah mengambil bagiannya sesuai dengan kepahaman nya terhadap tiga persoalan pokok (Allah, Rasul/ dan Islam) terhadap Al- Qur’an dan ilmunya, khususnya tilawah dan hafalan, terhadap sunah dan ilmunya, terhadap fiqih/ tauhid, dan tashawufyangbersih terhadap ushulul fiqih/bahasa Arab, sejarah Islam, sirah, wawasan kontemporerdunia Islam, konspirasi untuk menghancurkan Islam dan cara-caranya, studi-studi Islam kontemporer, serta fiqih dakwah dalam halaqah umum dan khusus, juga usrah. Persoalan ini besar dan kompleks, karenanya butuh waktu yang lama untuk mengurusnya. Yang harus dicatat, kita hendaknya tidak bergeser dari tahapan ta’rif ke tahapan takwin hingga kita yakin bahwa komitmen yang penuh dan kesiapan untuk taat secara total sudah terwujud. Yakni bahwa kesiapan untuk bertaqwa dan taat telah terhimpun dalam diri.

“Bertaqwalah kamu kepada Allah dan taatlah kepada-Ku.” (All Imran: 50, Al- Zukhruf: 63, Asy-Syura: 108)

Selama kesiapan dan komitmen prinsip sudah terwujud maka tidak ada lagi hambatan untuk membawa seseorang ke usrah takwin secara total. Di usrah takwin, prinsip dasarnya adalah bekerja dan berlatih. Kita telah melihat ungkapan Hasan Al-Banna tentang takwin:

“Sistem dakwah dalam tahapan ini bersifat tashawuf murni dalam aspek ruhiyah dan militer murni dalam aspek operasional. Slogan kedua aspek ini adalah perintah dan taat tanpa ragu dan berat hati”.

Oleh karena itu pembina dalam takwin harus melihat seorang akh dengan standar studi dan pemahamannya yang mendalam komitmen dan Tahapan-Tahapan Dakwah, pengorbanannya, serta ibadah dan ketaqwaannya. Kemudian, dalam konteks manhaj dan peta ketakwinan, diminta kepadanya untuk menyempurna- kan kekurangannya, dengan kesungguhan, dengan penguasaan atas berbagai rujukan ilmu dan pengajaran Islam, kajian dan daurah, sekaligus mempertimbangan dengan ungkapan Ustadz Hasan Al-Banna bahwa dakwah di tingkat ini bersifat tasawwuf dan kemiliteran.

Bersebelahan dengan sifat kesufiannya terdapat beberapa wirid; ada wirid istighfar, wirid muhasabah, wirid shalat, qiyamul lail, wirid dzikir dan doa. Juga ada kegiatan amar ma’ruf nahi mungkar, dan keharusan taat kepada yang ma’ruf. Demikianlah hingga sempurnalah barometer kematangan dalam takwin sebagaimana kita akan melihatnya. Melalui itulah dapat dipelajari kesiapan seseorang.

Ada orang yang dominasi responnya kepada studi; ada yang dominasi responnya kepada takwin; ada lagi yang lebih tertarik kepada tanfidz. Melalui kajian, seseorang diarahkan untuk menekuni bidang yang dicenderunginya; ke ta’rif, takwin, atau tanfidz.

Jika seorang akh sudah direkomendasi untuk suatu bidang hendaknya dilakukan daurah atau beberapa daurah agar dapat meningkatkan perannya dalam bidang yang ditangani.

Apapun yang menjadi konsentrasi tugasnya/ harus diarahkan demi penyempurnaan wawasan keislamannya. Setiap tahapan harus menjadi penyempurna bagi tahapan sebelumnya, dan standar kesempurnaanya haruslah transparan.

Dengan ilmu dan keahlian itulah seseorang mendapatkan statusnya sebagai naqib atau naib. Boleh jadi, dengan wawasan keislaman yang minimal seseorang dapat direkomen dasi untuk memegang tugas takwin/ atau dengan wawasan ketakwinan minimal ia diajukan untuk mengurus kegiatan tanfidz, namun jika tidak memiliki prestasi yang optimal, seseorang tidak pahit menyandang predikat naqib atau naib. Demikianlah, kita melihat bahwa setiap tahapan membutuhkan tahapan sebelumnya, dan setiap tahapan menjadi pelayan bagi tahapan berikutnya.