Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Hati….Lurus Ya

….Hati….Lurus ya !
Catatan Azsya, Februari 2000
Muharram sudah berlalu 18 hari, tapi entah kenapa hati ini masih terasa jauh dari-Nya. Apakah maksiatku yang menghalangi setiap perjumpaan dengan-Nya ? Kuletakkan buku kecil yang kubaca, pagi ini benar-benar virus M telah menyerangku. Maleush dan baper terus.
Namun tak urung buku yang kubaca mempengaruhi pikiranku juga. Tentang keikhlasan sebagai sumber kekuatan Islam, karangan Ust. Yusuf Qardhawi. Sahabat, ternyata keihlasan adalah sesuatu yang teramat sulit. Bahkan seorang ulama berkata, “ Saya telah berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan riya, namun ia kemudian tumbuh dalam bentuk lain.” Aku kembali merenung, seorang ulama yang jelas keilmuannya, kepahamannya saja sangat sulit untuk ikhlas, bagaimana sama aku yang jelas-jelas masih belajar ?????
Pikiranku melayang ke aktivitasku di kampus. Terus terang semester ini aku benar-benar berusaha untuk melibatkan diriku dengan berbagai kegiatan kampus. Masih belajar sih, tapi aku memang serius meluangkan waktuku, terlebih untuk aktivitas dakwah. Sempat seorang sahabat dekat bertanya, “Apa sih yang kamu cari, apa yang sebenernya kamu kejar ? “ Dulu dengan semangat aku menjawab, “ ini jalan yang saya pilih, bagaimana pun saya tidak bisa meninggalkan jalan ini. Insya Allah semata-mata demi mencari keridhoan-Nya.” Meski saat itu pernyataan ku berbenturan dengan nilai akademis yang cukup mengecewakan mengingat nilai adalah dakwah juga. Namun alhamdullilah semangat itu masih berkobar.
Satu semester berlalu, banyak pihak yang kemudian tsiqoh ( percaya ) padaku, tentunya sesuai dengan kafaahku (keahlianku). Akibatnya banyak amanah yang memang harus dilaksanakan. Dan tahukah sahabat, semakin banyak amanah aku merasa sangat tidak amanah. Deadline ini, rapat itu, pertemuan-pertemuan yang memang cukup menguras tenagaku. Hingga saat itu sesuatu tumbuh dalam diriku, aku merasa di EKSPLOITASI habis-habisan. Berlebihan mungkin, tapi dari situ aku belajar sesuatu. Ada kesalahan dalam gerak langkah ku, dan terutama niatku.
Mencoba untuk jujur pada hati nurani, ternyata sejak awal ada sesuatu yang menyertai niat azzam. Dan ini awal dari bencana yang menimpa qolbuku. Niat untuk mencari keridhoan-Nya, terkotori oleh niatku balas dendam karena kenon-aktifanku saat SMA. Jadilah azzam seorang yang mencoba super aktif. Ada perasaan senang saat orang-orang mengenalku, dan itulah masa inkubasi jamur popularitas yang mulai menancapkan akarnya dalam rongga ini. Lalu muncul perasaan iri saat orang lain mendapat amanah dan jabatan…..Gejala apa ini. Dulu sempat gejala-gejala itu dibiarkan. Dan akibatnya ia kian menjadi-jadi. Penghargaan orang lain atas pekerjaanku menjadi suatu keharusan yang semu, aku ingin orang lain mendengarku, memperhatikanku, dan akhirnya aku biarkan tanduk di kepala ini menguasai diri. Naudzubillah memang, namun kerap kali kita tidak sadar bahwa setan telah menguasai nafsu kita. TUL NGGA ?
Step by step aku mencoba untuk bangkit. Pembersihan jiwa, merenung kembali. Makanya jangan heran kalau azzam lagi bengong kaya sapi ompong. Diri ini tidak ada artinya dibandingkan orang lain. Rasanya merasa diri lebih baik sama sekali tidak ada buktinya, kecuali bukti bahwa aku mahluk yang sangat sombong. Kalau mencoba membiarkan mata hati ini melihat, maka akan terlihat bahwa begitu banyak aktivis yang kerjanya jauh lebih berat dariku. Segalanya dia korbankan demi perjuangan dakwah, dan aku tidak selangkahpun dibelakangnya.
Intinya, keikhlasan bukan suatu permainan. Seperti juga kehidupan kita. Andai kita dijadikan ember atau kodok tentu pertanggung jawaban kita tidak akan seberat ini. Tapi Allah telah mengamanahkan kita sebagai khalifah-Nya di dunia, dan ini sama sekali bukan tugas yang main-main. Ikhlas ialah menjadikan setiap gerak langkah dan ibadah kita semata-mata karena Allah, dan demi meraih keridhoan-Nya tanpa menyekutukan sesuatupun dengan-Nya. Dan ini sangat suseh, guys.
Dulu, aku pernah terjebak dalam sebuah lingkaran nafsu.Tanpa aku sadari ( sebenernya sih sadar…cuma pura-pura aza lupa ) aktivitasku hanya untuk mencari muka di depan si fulan. Kegiatan-kegiatan dakwah yang ada si fulan didalamnya membuatku semangat, dan itu adalah suatu bukti betapa aku telah menjadikan si fulan ilah dalam aktivitas yang mulia itu.
Maka sia-sialah semua, entahlah, sedih rasanya membiarkan amalan itu kemudian diremas-remas bagai sampah yang kemudian dibuang tanpa ada artinya. Amalan yang di terima itu tergantung dari dua hal , yaitu 1. Diniatkan semata-mata karena mencari keridhoan-Nya dan untuk menegakkan kalimat-Nya, 2. Amalan itu sesuai dengan sunnah Rasul dan syariat Islam. Keduanya saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Adakah amalan ku yang sesuai, wallahu alam, namun bila aku mau bercermin maka yang ku lihat hanyanya lembaran kosong dalam amalanku.
Bagaimanapun, hati ini milik Allah . Dan hanya pada-Nya lah kita meminta agar diluruskan niat ini Seperti janji yang selalu kita ucapkan dalam sholat kita. QS Al-Fatihah : 5-6. Keikhlasan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan. Sedetik kita berada didalamnya, tak pernah kita mau berpaling. Hakekat keikhlasan sendiri bukan sesuatu yang bisa diraba-raba tanpa ilmu. Maka banyak-banyak membaca buku dan mendapatkan tausiyah sesuatu yang sangat urgen. Karena sebagai prajurit dakwah kita tidak bisa membiarkan berbagai virus popularitas, gila harta dan jabatan hinggap di qolbu kita biar untuk sedetik pun.
Dulu, aku sering sedih karena dakwah ini tak kunjung membawa hasil, bahkan justru semakin pelik hal yang harus aku hadapi. Seringkali hal ini melemahkan hati, menurunkan semangat, dan menggodaku untuk kemudian mundur dan menjauh. Itulah,….ternyata memang ada yang salah sejak awal. Niat-niat yang menari -nari di hati ini belum sepenuhnya karna Allah. Manusia tiada punya kuasa akan hidayah, karena itu adalah hak preogratif Allah. Manusia hanya mampu berusaha sekuat tenaganya dan sepenuh jiwanya. Toh Allah tidak akan bertanya, “ kenapa kamu gagal berdakwah pada si A ?”.Tapi Allah akan bertanya “ Kenapa kamu enggan berdakwah padanya ?”
Ternyata diri kita begitu dhoif ( duh baru nyadar lagi ). Dakwah ini masih panjang, namun seringkali kita kotori jalan-jalannya yang suci dengan hal-hal yang tiada manfaatnya.
Sekarang, …………azzam masih tak jauh berbeda dengan azzam yang dulu. Niat-niatan yang ada di hati ini masih teramat kotor dan penuh debu. Hanya saja sekarang aku baru membaca sebuah buku yang banyak membuka mata hatiku akan hakikat keikhlasan. Azzam akan belajar dan mencoba untuk bangkit, menjadi muqarrabin mencoba menjadi seseorang yang saat hilang ia tidak dicari dan saat dia ada ia tidak dikenal.
BENER DEH, ikhlas itu sulit, tapi kita manusia yang memiliki akal dan qolbu.Usaha adalah sesuatu yang kudu. Kemenangan Islam akan sulit diraih saat kita masih terlena dalam manisnya dunia. Dunia adalah tempat bekerja keras bukan memetik hasil. Saudaraku, mari kita luruskan hati -hati kita untuk hanya berpegang pada buhul tali agama-Nya , jangan pernah lepaskan.

Azsya

Tulisan ini dibuat 15 tahun yang lalu. Oleh azsya yang 15 tahun lebih muda, hehe .Semoga menjadi inspirasi hari ini. Untuk senantiasa meluruskan niat dan keikhlasan semata padaNya.