Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Hari Kasih Sayang dalam Sirah Nabawiyah

Sebentar lagi sebagian besar masyarakat akan merayakan perayaan tahunan di bulan ini, Februari. Tepatnya tanggal 14. Lebih dikenal dengan hari kasih sayang. Di hari ini biasanya sebagian besar masyarakat akan mengungkapkan kasih sayangnya kepada pasangan atau orang yang dikasihinya. Sebagian orang tua, muda maupun anak remaja akan berbondong bondong meramaikan acara ini. dalam perayaan ini diidentikkan dengan pemberian coklat.

Tentu sudah banyak penulis yang men-share-kan tentang sejarah valentine, bahaya dari valentine, dan apa motif di balik digalakkannya perayaan valentine ini. Seperti yang ditulis saudara Hamizan, http://bersamadakwah.net/2015/02/bentengi-generasi-remaja-muslim-dari-bahaya-valentines-day/. Oleh karena itu, penulis tidak akan menulis lebih panjang lagi tentang bahasan tersebut.

Bila diteliti lebih mendalam, ternyata dulu ketika masa Rasulullah SAW masih hidup ada peristiwa yang sangat menyentuh hati sanubari kita sebagai muslim. Peristiwa ini tidak kalah pentingnya dengan hari valentine yang dibesar-besarkan oleh media. Ini adalah peristiwa kasih sayang terdahsyat sepanjang sejarah dalam Islam.

Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah SAW dan pasukan Islam menaklukkan kota Makkah. Fathu makkah, ditaklukkannya kota Makkah. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 Ramadhan pada tahun 8 Hijriyah. Dalam Al-qur’an disebut fathan mubina, kemenangan yang jelas terjadi.

Ketika itu nabi Muhammad SAW dan pasukan Islam berhasil masuk ke kota Makkah dan pasukan Quraisy tidak berani melawan kecuali dengan perlawanan-perlawanan kecil yang tidak sifgnifikan. Setelah semua terkendali, Nabi Muhammad memberikan pidato di tengah-tengah kaum quraisy dan pasukan Islam. “Ya, kafir Quraisy, laisa hadza yaumul malhamah, wala kin hadza yaumul marhamah waantum thulaqo”, Rasullah SAW berpidato dengan lantang. Artinya Wahai kafir Quraisy, hari ini bukanlah hari pembantaian, akan tetapi hari ini adalah hari kasih sayang. Dan kalian kami bebaskan”.

Yaumul malhamah dan yaumul marhamah. Kata yang pertama menggunakan lam di tengah-tengah kata. malhamah. Kata ini diartikan pembantaian. Sedangkan kata kedua menggunakan ra’ di tengah-tengah kata. Marhamah. Kata ini diartikan kasih sayang. Inilah yang mendasari hari kasih sayang sudah ada sejak nabi Muhammad SAW masih hidup.

Kafir Quraisy menyambut pidato Rasulullah dengan gembira. Suka ria. Mereka sangat gembira karena mereka tidak hanya dibebaskan dari tuntutan menjadi tawanan pasukan Islam akan tetapi mereka juga diberi kebebasan untuk mengambil kembali harta rampasan berupa uang, binatang ternak dan perhiasan, yang dikumpulkan oleh pasukan Islam. Setelah mendapatkan hartanya kembali, kafir quraisy diperintahkan untuk pulang dan beristirahat. Rasulullah SAW memberikan amnesti kepada kafir quraisy semuanya tanpa terkecuali.

Namun hal ini bersebrangan dengan apa yang dirasakan oleh pasukan Islam. Pasukan Islam merasa heran, susah dan agak kecewa dengan keputusan Nabi. Kenapa Rasulullah SAW berbuat demikian. Pada hal harta ghanimah tersebut adalah hak pasukan Islam karena telah berhasil menaklukkan kafir quraisy. Akhirnya semua pasukan Islam berbondong-bondong berjalan untuk berkumpul mengelilingi Nabi Muhammad SAW meminta penjelasan atas apa yang diperintahkannya terhadap kafir quraisy tersebut.

“Wahai Nabi, kenapa engkau memerintahkan kafir quraisy mengambil hartanya, bukankah itu hak kami karena kami telah menaklukkan kafir Quraisy?”, prostes salah satu pasukan Islam mewakili pasukan Islam lainnya. Nabi SAW tersenyum lalu menjawabnya dengan pertanyaan, “Berapa lama kalian mengenalku?”. Semua pasukan Islam menjawab serentak dan dengan beraneka ragam jawaban, ”satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun”. Kemudian Nabi Muhammad SAW melanjutkan pertanyaannya, ”Lalu, sepengetahuan kalian, apa aku mencintai kalian atau bukan?”. Pasukan Islam menjawab dengan kompak pertanyaan Nabi, ”mencintai”. Nabi meneruskan,”Jadi, kalian lebih memilih cintaku atau harta rampasan itu?”. Semua pasukan Islam menangis. Tersedu-sedu. Semuanya sibuk dalam tangisan masing-masing. Mereka tidak ingin cinta Rasulullah diganti dengan harta benda yang demikian kecilnya. Karena mereka yakin cinta Rasulullah adalah syafaatnya yang kelak akan bermanfaat menjadi tiket untuk dapat masuk ke surga sedangkan harta tak mampu menandingi cinta Rasulullah.

Begitu besar cinta para pasukan Islam terhadap Nabi. Sehingga cintanya kepada Nabi tidak mau diganti dengan harta benda. Karena harta benda hanyalah sementara yang akan ditinggalkan ketika mati kelak. Sedangkan cinta Rasulullah akan menjadi sangu tersendiri untuk menuju kasih sayang dan surga-Nya Allah Ta’ala.[]

Itulah cerita kasih sayang Rosululah SAW. Ungkapan kasih sayang terhadap kafir quraisy dan pasukan Islam yang sangat jarang sekali diceritakan oleh umat Islam. Cerita kasih sayang yang tidak kalah dengan cerita valentine yang biasa diagung-agungkan kaum muda. Cerita kasih sayang yang begitu luar biasanya, tapi mengapa umat Islam malah tertarik dan tergiring tuk merayakan perayaan hari valentine yang digelar dan digalakkan oleh barat. Masihkah kita akan merayakan hari valentine?

Allah maha benar dengan segala firman-Nya.

The post Hari Kasih Sayang dalam Sirah Nabawiyah appeared first on Bersama Dakwah.

Source: Bersama Dakwah Feed

Related Posts

Leave a reply