Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Harakah Mana yang Harus Dipilih?

Bagikan, insya Allah jadi amal kebaikan

Saya seorang pelajar di salah satu SMA di Bogor. Di sekolah saya, kehidupan beragamanya lekat sekali dengan harokah. Terutama PKS dan HTI. Di keluarga saya tidak ada yang berharokah, termasuk saya. Tapi keinginan hati untuk berharokah dan manfaatnya sangat besar. Bukan kepada 2 harokah tadi, namun lebih ke salafi. Apa yang harus saya lakukan mengingat saya adalah ketua organisasi keIslaman di sekolah? Mohon masukan dari ikhwah semua… –salah satu pertanyaan dari forum di internet.

Sebagai seorang da’i kita diwajibkan berjamaah. Dalilnya jelas. Ayat dan Hadits banyak berbicara mengenai kewajiban beramar ma’ruf dan nahi munkar. Jangankan materi di Rohis. Di buku pelajaran Agama di sekolah saja kita diwajibkan untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Betul?

Masalah yang mendera kebanyakan kader Rohis bukan wajib atau tidaknya berdakwah, tetapi pilihan antara berdakwah secara sendiri atau berjamaah? Kalau berjamaah, maka berdakwah bersama siapa? Jika diminta untuk memilih jamaah harakah, jamaah harakah mana yang harus dipilih?

Awalnya terasa sulit pertanyaan ini dijawab. Tapi, dengan memohon petunjuk Allah, mari kita urai pertanyaan ini  bersama. Sesungguhnya Allahlah yang Maha Tahu.

Dakwah sendiri atau berjamaah?

Salah satu ayat yang menyatakan kewajiban berdakwah ada di surat Ali – Imran ayat 104 :

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Aali Imraan: 104)

Sengaja mimin tebalkan kata “segolongan umat” untuk menekankan bahwa ternyata selain mewajibkan kita berdakwah, ayat ini juga sekaligus menyuruh kita berdakwah secara berjamaah. Tapi Maha Suci Allah, di surat lain Allah sengaja menjelaskan lebih spesifik mengenai wajibnya berdakwah secara berjamaah. Itu ada di surat AS-Saff ayat 4:

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (As-Saff : 4)

Kata berperang, bisa diartikan secara fisik, atau juga secara maknawi yang dimaksud memerangi kemunkaran. Jadi, sebenarnya dua ayat di atas sudah menjelaskan dengan pasti kewajiban berdakwah secara berjamaah tanpa perlu menyebutkan ayat Qur’an dan Hadits lainnya. Meskipun begitu, berdakwah secara sendiri tidaklah dicela dalam agama. Hanya saja, dia tidaklah bagian dari hal – hal yang Allah sukai.

Kalau berjamaah, Harakah mana yang harus Antum pilih?

Oke, setelah keyakinan kita penuh akan urgensi berdakwah secara berjamaah, pertanyaan kita selanjutnya adalah, jamaah mana yang harus kita pilih?

Terus terang ini adalah pertanyaan yang berat. Karena jatuhnya pilihan kita akan berpengaruh besar atas kehidupan kita ke depannya. Karena pada dasarnya, pilihan kita atas harakah membawa konsekuensi perubahan drastis di kemudian hari. Meskipun begitu, tidak tertutup juga pilihan lain yaitu keluar dari harakah dan berdakwah di jamaah lain. So, pikirkanlah baik – baik.

Menurut pendapat mimin, inilah hal – hal yang akan berubah darimu saat akan bergabung dengan sebuah harakah :

  • Lebih Sholeh. Yang pasti, jika Antum bergabung dengan sebuah Harakah, Antum akan mengelami perubahan drastis yaitu akan menjadi lebih sholeh banget. Antum telah mengambil pilihan yang sangat baik, yaitu berjalan bersama orang – orang sholeh. Dengan begitu Antum akan dimudahkan beramal baik saat dilakukan bersama – sama.
  • Cara berpakaian. Beberapa harakah menuntut –atau setidaknya menganjurkan- Antum untuk berpakaian sesuai ajaran yang diyakini dalam pendidikan harakah tersebut. Misalnya ada yang dianjurkan untuk akhwat menggunakan cadar, sementara ikhwannya menggunakan celana 3/4. Ada juga yang menganjurkan pakaian akhwatnya satu kain dari atasan sampai bawahan (mirip abaya). Atau ada juga yang menuntut ikhwannya menggunakan baju berwarna putih dari atas sampai bawah. Bahasan mengenai baju ini akan kita bahas di lain topik ya.
  • Menentukan prioritas. Ada harakah yang menganggap belajar Agama sangat penting, tetapi pelajaran dunia tidaklah penting. Ada harakah yang menganggap Ibadah adalah sesutu yang berkaitan dengan akhirat, kalau bekerja mengejar dunia, bukanlah ibadah. Ini juga kapan – kapan kita bahas ya. 🙂
  • Cara memandang Harakah lain. Sesama muslim itu bersaudara. Begitu ungkapan yang ditegaskan dalam Al-Qur’an. Meskpiun begitu sederhana, ternyata ungkapan ini dimaknai berbeda oleh tiap harakah. Ada yang menganggap yang namanya saudara adalah yang mengikuti harakah yang sama. Yang lain tidak. Tapi ada juga yang menganggap bahwa yang namanya saudara adalah semua muslim yang sama – sama mengucap ikrar Laa ilaa ha Ilallah, Muhammadar Rasulullah  meskipun tidak berada di dalam harakah.

Memiih harakah sederhananya mirip seperti memilih barang untuk dibeli. Kita lihat bentuknya, kita lihat isinya. Kita timbang baik-baik manfaatnya untuk kita. Tidak ada harakah yang sempurna, itulah sebabnya harakah –khususnya di Indonesia- memahami perbedaan cara pandang dalam beramal dan berdakwah dianggap sebagai media untuk berfastabiqul khoirot (berlomba dalam kebaikan).

Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, M.A dalam bukunya “Menuju Jama’atul Muslimin” menjelaskan tips dan trik dalam memilih jamaah Harakah :

  1. Setiap jamaah memiliki kekurangan. Jika ada jamaah yang mengaku tidak memiliki kekurangan, maka jangan pilih jamaah itu.
  2. Perhatikan kekurangan yang ada pada jama’ah tersebut. Jika kekurangannya menyangkut pada hal – hal prinsip dalam beragama (Seperti penegakan shalat lima waktu, pengesaan tuhan, Nabi terakhir adalah Muhammad SAW, Al-qur’an adalah pedoman hidup kita) maka berarti jangan bergabung dengan harakah itu. Shalat adalah tiang agama. Jika ada harakah tidak mensyariatkan shalat, maka dia bukanlah bagian dari Islam. Allah itu satu. Jika ada pemuka harakah mengaku sebagai Allah, maka dia bukan bagian dari Islam. Nabi terakhir adalah Muhammad SAW. Jika ada mengaku pemuka harakah sebagai Nabi, maka harakah itu telah sesat sesesatnya. Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Jika ada kitab lain yang tidak berasal dari Al-Qur’an namun diakui lebih otentik dibanding Al-Qur’an maka ia telah sesat sangat jauh.
  3. Namun jika kekurangan yang dimiliki jamaah tersebut menyangkut hal – hal yang sifatnya cabang (ditolerir jika ditemui perbedaan terhadapnya seperti : gerakan shalat, telunjuk bergerak-gerak atau diam, atau adzan sebelum shubuh dua kali,atau adanya doa qunut atau tidak pada shalat shubuh) maka bergabunglah dengan mereka. Insya Allah mereka adalah kumpulan manusia yang ingin terus memperbaiki diri.
  4. Jika ditemui dua jamaah yang baik (sesuai poin 3) namun memiliki berbagai kekurangan, pilih yang kekurangannya paling sedikit.
  5. Jika kekurangan yang ada dalam jamaah itu adalah hasil ijtihad manusia maka jangan jadikan ini alasan untuk tidak bergabung dengannya. Berjamaah dengan mereka justru menjadi keutamaan.
  6. Bisa disimpulkan, Antum dianjurkan untuk bergabung dengan jamaah(harakah) yang paling bersemangat menunaikan segala perintah Allah dalam Al-Qur’an dan menunaikan pesan – pesan Nabi dari teladan dan perkataannya.

Semoga penjelasan ini bermanfaat dan membuat kita semakin semangat berdakwah secara bersama-sama yang Akhi. Kalau ada pertanyaan jangan sungkan menyampaikannya di kolom komentar. Allah Maha Besar.

Related Posts

Leave a reply