Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Game Simulasi untuk Memahami Makna Iman

Saya pernah melihat sebuah video menggugah berbahasa turki. Video ini mengajarkan kita tentang betapa besarnya harga dari sebuah keimanan.

Percakapannya sederhana. Terjadi antara seorang guru dan beberapa muridnya. Sang guru berkata,

2+2 = 5! Coba ulangi anak-anak!

Well, anak-anak kebingungan. Karena sepengetahuan mereka 2+2 itu sama dengan 4. Mereka ingin memprotes sang guru, namun ketakutan karena galak sekali guru itu. Kecuali satu anak. Dia dengan lantang berkata bahwa 2+2 sama dengan 4! Sementara anak yang lain memilih diam atau mengikuti perintah sang guru pemarah itu.

Sang guru akhirnya naik pitam mendapat perlawanan dari si anak pemberani. Dia panggil kakak kelas yang menurut guru itu “hebat”. Ditanya dia berapa jumlah 2+2 itu. Dia jawab “5” yang disambut dengan senyuman si guru bebal itu.

Tapi sang anak tak gentar. Dia yakin bahwa 2+2 sama dengan 4. Dia teriakkan dengan keras ” 2+2 = 4 !” Yang membuat si guru kembali bersungut.

Tak ada cara lain. Si guru mengancam akan menembak anak pemberani itu jika tak mau mengakui penjumlahan “aneh” si guru. Ditanya sekali lagi, “berapa 2+2?”

Meski lidah sang anak semakin kaku namun tidak dengan matanya, tajam dan seolah mengumpulkan kekuatan. Selaksa kata meluncur dari lidahnya, ” 4″.

Dorrrrr!!!!

Kejadian di kelas saat itu tak mengenakkan bagi seluruh murid yang hadir. Sebab salah satu teman mereka meregang nyawa karena terus berkata “2+2 =4”.

Kalau ingin nonton videonya ini dia :

Game Simulasi Mengenai Keimanan

Nah, dari film di atas saya jadi kepikiran umtuk membuat game sederhana untuk menanmkan peran keimanan dalam hidup kita. Caranya seperti ini.

1. Letakkan sebuah barang (misal spidol) di tengah halaqah. Minta peserta halaqah memperhatikan barang tersebut.

2. Kalau sudah minta mereka menutup mata.

3. Sembunyikan barang tersebut jauh – jauh.

4. Minta peserta membuka matanya. Tanyakan : ada yang aneh?

5. Jika mereka berkata barangnya hilang, maka intimidasi mereka. Katakan bahwa barangnya ada dan tidak hilang. Mereka mungkin akan bersikukuh bahwa spidolnya hilang, maka naikkan level intimidasinya. Ancam mereka dengan sesuatu. Intimidasi satu persatu. Debatlah mereka. Katakan bahwa barangnya ada. Jaga situasi seperti ini selama beberapa menit.

6. Jika permainan tampak klimaks, saatnya “menyerah”. Tunjukkan spidol yang telah kuta sembunyikan.

Refleksi

Tanyakan pada mereka, mengapa mereka mau mempertahankan jawaban mereka, meski diintimidasi sedemikian rupa? Apa salahnya berbohong asalkan mereka tidak diintimidasi?
Pada akhirnya jelaskan betapa nikmatnya hidup berlandaskan sebuah keyakinan, Sebuah “keimanan”. Hidup bisa saja “cari aman” dengan takluk pada intimidasi orang lain. Namun, hati kita akan selalu menolak jika bertentangan dengan keyakinan. Ketika kita mencoba membohongi diri sendiri sebenarnya kita memilih jalan hidup yang tidak tenang karena jiwa kita senantiasa bergejolak.

Oleh karena itu bersyukurlah menjadi pribadi mukmin, yaitu pribadi yang memiliki keyakinan penuh akan eksistensi Allah dan janji Allah bagi orang yang beriman, yaitu surga yang indah sekali..

Leave a reply