Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Buku “Pelajar Berkarakter” Dinilai Belum Penuhi Prinsip Equality

TRAINER Yayasan Al Kahfi yang diwakili oleh Wasvita Sari dan Evy Widya  Pratama Sari di SMA 28, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (3/9) mengklarifikasi tentang pro-kontra buku “Pelajar Jakarta Berkarakter”.

“Buku ini hanya mendiskripsikan pemikiran Barat ini, lalu kita mengkritiknya. Permasalahan ini sebetulnya sudah selesai terjawab, dan sudah kami sampaikan dalam jumpa pers kemarin, Rabu (2/9) di sekretariat Yayasan Al Kahfi, Pasar Minggu, Jakarta Selatan,” kata Evy.

Evy mengatakan, saat ini Kerjasama Yayasan Al Kahfi dengan Diknas sudah berlangsung setahun yang lalu. Dan sudah 35 sekolah se-DKI Jakarta yang mengikuti training Emotional Spritual Achievement (ESA) ini, salah satunya adalah SMA 28.

“Buku ini memang bukan untuk siswa, tapi modul yang diorientasikan untuk para guru, wali kelas, trainer, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. Buku ini juga tidak dijual untuk umum, dan digandakan untuk siswa. Saat ini kami masih bekerjasama dengan Diknas,” ungkap Evy.

Ada dua buku modul yang sudah diterbitkan oleh Yayasan Al Kahfi terkait Training ESA. Buku-buku modul tersebut memuat materi tentang motivasi dan tujuan hidup, cita-cita serta kepemimpinan. Buku ini menjadi pegangan buat para guru. Sedangkan yang menyampaikan training dari Yayasan Al Kahfi yang sebelumnya juga harus mengikuti diklat terlebih dulu. Sekolah melakukan bisa melakukan kontrol, termasuk guru agama ikut memantau dalam training tersebut.

“Selama ini apa yang kami sampaikan mendapatkan respon yang positif. Bukunya tidak bermasalah. Yang bermasalah adalah orang yang menyebarkan opini itu. Orang itu hanya men-screenshoot halaman 10. Seharusnya bantahan atau jawaban kami juga di-share, bahwa kami tidak setuju dengan pemikiran Barat tersebut.””

Buku modul dan training yang dilakukan Yayasan Al Kahfi, kata Wasvita, justru mengajarkan agar kita tidak ekstrim dalam beragama. Kita menjelaskan, bagaimana para pendidik dan pelajar membangun Indonesia. Bukan hanya ibadah saja.

“Dasar buku atau training ini adalah untuk upaya radikalisai di kalangan remaja atau pelajar. Terlebih dua tahu lalu, tingkat tawuran sangat tinggi. Diknas butuh mitra untuk membekali anak remaja agar tidak tawuran seperti itu,”tandas Wasvita.

Buku Dinilai Belum Penuhi Prinsip Equality

Sementara itu, Mustafa B Nahrawardaya dari Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah mengaku mendapat keluhan masyarakat, orangtua dan siswa terhadap buku ini.

Sebagian sudah saya baca. Saya menilai, buku ini belum melengkapi prinsip equality(keseimbangan) dan keadilan. Mengingat, beberapa peneliti sebelumnya, selalu menjadikan pelajar Islam menjadi objek penelitiannya. Seolah, penyebab tawuran, radikalisme agama, terorisme, bermula dari rohis atau pelajar Islam. Sedangkan pelajar yang non muslim belum pernah diteliti,” ungkap Mustafa di SMA 28 Jakarta, Kamis (3/9/2015).

Dikatakan Mustafa, tawuran itu bukan hanya dilakukan pelajar Islam. Selama ini, Barat kerap menuduh umat Islam itu teroris, dengan menyebut ayat-ayat dalam Al Qur’an.

“Saya meminta agar buku ini direvisi dengan prinsip equality informasi tadi, sehingga  pelajar Islam tidakdown mentalnya. Kita ingin membangun  karakter pelajar, bukan malah men-down mentalnya. Tawuran dan radikalisme jangan melulu dilekatkan pada siswa Islam.” (Desastian/Islampos)

Related Posts