Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Bolehkah Shalat Tanpa Melepas Alas Kaki di Acara Hiking?

Seringkali kita temui kesulitan melakukan shalat di acara kemping atau hiking dikarenakan kondisi alam yang tidak memungkinkan kita melepas sepatu. Pada kondisi ini apakah kita dibolehkan shalat tanpa melepas sepatu?

Boleh, berdasarkan dalil:

  1. Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Muslimah, ia berkata,” Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra,” Apakah Rasulullah shalat menggunakan sepatunya?” Anas menjawab,”Ya”
  2. Menurut Abdulla bin Umar, Rasulullah saw pernah menyuruh shalat memakai terompah untuk membedakan dengan kebiasaan orang-orang yahudi.

Harus diperhatikan pula, bahwa hal itu-shalat tanpa melepas sepatu- bisa dilakukan jika memang keadaan menuntut (seperti sedang mukhayyam,hiking,dll) dengan syarat sepatunya harus bersih dari najis. Jika ada najis di sepatunya, maka sepatu itu harus dibersihkan sengan cara mengosok-gosokkannya ke tanah.

Bagaimana kalau shalat di masjid menggunakan alas kaki(sepatu,sandal) padahal justru di masjid dilarang memal\kai alas kaki?tentu dsaja masjid-masjid zaman sekarang didesain untuk dipqakai shalat tanpa alas kaki, sehingga di masjid-masjid tersebut beralaskan keramik, bahkan di dala masjid-masjid disediakan alas berupa karpet. Ha ini dilakukan untuk kenyamanan shalat yang dilakuykan sehingga shalat di masjid-masjid semacam itu tidak perlu menggunakan alas kaki karena malah bisa jadi mengotori masjid tersebut.

Dibolehkannya menyapu sepatu(khuff) berdasarkan sunnah yang diterima ddari Rasulullah SAW.

Berkata Nawawi :”Orang –orang yang diakui kehliannya telah ijma’ dibolehkannya menyapu sepatu baik dalam perjalanan ,aupun ketika menetap disebabkan suatu kepentingan ataupun bukan –bahkan juga bagi perempuan yang mnetap serts pada waktu seseorang tidak bepergian”

Dari Al Mughirah bin Syu’bah berkata,”Aku bersama Nabi SAW (dalam sebuah perjalanan) lalu aku berwudhu. Aku ingin membuka sepatunya namun beliau berkata,”Tidak usah, sebab aku memasukkan kedua kakiki dalam keadaan suci”Lalu beliau hanya mengusap kedua sepatunya”(HR. Muttafaq ‘alaih)

Sekian hadits terkuat lainnya yang dapat dikemukakan sebagai alasan dalam menyapu sepatu ini, adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim serta Abu Dawud dan Tirmidzi dari Hamman An Nakh’I ra:

”Bahwa Jarir bin Abdullah buang air kecil, kemudian berwudhu dan menyapu kedua sepatunya. Orang-orang pun menanyakan kepadanya”Anda melakukan ini, padahal tadi buang air kecil?” Ujarnya”Memang, saya lihat Rasulullah SAAW buang air kecil, lalu berwudhu dan menyapu kedua sepatunya ””

Berkata Ibrahim” Hadits ini mengherankan mereka, karena masuk islamnya Jarir ialah sesuadah turunnya surat Al Maidah, artinya Jarir sudah masuk Islam seetelah turunnya ayat mengenai wudhu yang menyatakan wajibnya membasuh kedua kaki. Dengan demikian, haditsya itu menyatakan maksud ayat ialah bahwa wajib membasuh sepatu itu hanyalah bagi orang yang tidak bersepatu, sedangkan bagi orang yang bersepatu hanya dieajibkan mengusap atau menyapu. Disyariatkannya pula bolehnya menyapu kaus kaki ( Lihat fiqh Sunnah bab Wudhu)

Bolehnya menyapu sepatu dengan catatan keduanya dipasang daslam keadaan suci (diriwayatkan oleh Imam al Humaidi). Sedangkan tempat yang disyariatkan dalam menyepu itu ialah punggung atau bagian atas sepatu, berdasarkan hadits Mughirah ra. Ia berkata”Saya lihat Rasulullah SAW  menyapu punggung sepatu ”dan dai Ali Ra. Katanya”Seandainya agama itu hasil pikiran, tentulah bagian bawah sepatu lebih pantas disapu daripada bagian atasnya. Wsungguh telah saya lihat Rasulullah SAW menyepu pada bagian atas dari sepatunya (HR. Abu Dawud dan Daruquthni)”

Syarat bolehnya melakukan khuff

Adapun Syarat diperbolehkannya melakukan khuff (mengusap sepatu)adalah:

1. Berwudhu sebelum memakainya

Sebelum memaiai sepatu, harus suci dari hadats kecil dan besar. Sebagian ulama mensyaratkan berwudhu, tapi mazhab syafi’i membolehkan bertayamum dalam membersihkan dari hadats kecilnya

2. Sepatu harus suci dan menutupi telapak kaki sampai mata kaki

Menurut jumhur ulama, bila sepatu kena najis, maka tidak sah. Dalam pandangan mazhab  hanafi, jika sepatunya terbuat dari kulit bangkai yang belum disamak maka tidak sah. Sedang menurut mazhab hambali dan maliki jika sepatunya terbuat dari kulit bangkai baik yang sudah disamak maupun belum tetap tidak sah

3. Sepatu tidak bolong

Menurut mazhab hambali dan syafi’i (Qaul Jadid) jika sepatunya bolong meski sedikit maka tidak sah. Sedangkan menurut mazhab Hanafi dan Maliki jika bolongnya sedikit diperbolehkan tetapi jika bolongnya besar maka tidak sah

4. Sepatu tidak tembus air

Menurut mazhab Maliki, jika sepatu terbuat dari bahan yang tembus air maka tidak sah, tapi jumhur ulama menyatakan tetap sah.

Cara Melakukan Khuff

Adapun cara melakukan khuff afalah:

Basahi tangan dengan air, minimal 3 jari lalu mulai dari bagian atas dan depan sepatu. Tangan yang basah ditempelkan ke sepatu lalu digeser ke arah belakang di bagian atas sepatu sekali saja. Tidak sah bila yang diusap bagian bawah atau samping atau belakang sepatu. Serta tidak disunnahkan dilakukan beberapa kali.

Leave a reply