Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Belajar dari Dinda : Sesuatu itu Bernama Mauidzah Hasanah

Bagikan, insya Allah jadi amal kebaikan

Ini adalah tulusan tamu dari Ummu Karim, Alumni Rohis SMP 5 Bandung tahun 1995.

Terik mentari siang ini hampir saja mengurungkan langkahku untuk melanjutkan aktivitas siang ini. Anak-anak mulai merajuk tak tahan melawan terik.Namun panasnya terik terkadang lebih sejuk dari panasnya hati.

Sejenak ku buka fbku. Semakin mendekati hari penentuan, semakin banyak barbagai tulisan yang mampir. Berbagai opini, isu hingga doa dan ajakan. Dari yang implisit,eksplisit sampai sarkastic. Ada berbagai karakter orang sedikit banyak mempengaruhi berbagai cara orang mengekspresikan pendapatnya.

Sosmed saat ini menjadi media yg ramai,sebagian menjadikannya tempat share ilmu,sebagian menjadikannya tempat curhat kegalauan hidup, sebagian menjadikannya ajang silaturahmi dan berbagai niatan maupun spirit lainnya. Bahkan sosmed pun bisa mempengaruhi media dalam menyampaikan satu topik/isu yang panas hangat maupun dingin.

Belajar dari path Dinda yang booming sedikit banyak saya mendapatkan banyak ibroh.Saat membaca path Dinda,saya tidak berkomentar banyak. Namun ada sedikit gelisah yang mampir di hati, ada kesedihan yang mencuat.Ya Rabb ternyata kewajiban yang ada lebih banyak dari waktu yang tersedia. Betapa masih banyak PR yang harus dilakukan termasuk merangkul orang-orang seperti Dinda. Menyayanginya dan bersama-sama mempelajari kembali islam (jika Dinda adalah seorang muslimah).

Saya mempelajari bahwa membaca sms,sosmed tidak boleh sambil menjudge bahwa orang itu marah atau bagaimana, biasa saja.Karena kadang rangakai kalimat bisa bermakna ambigu.

Namun belajar dari Dinda saya mencoba melihat dari kaca mata yang berbeda. Andai Dinda seorang yang hidupnya damai, selalu tilawah ODOJ(One Day One Juz), terwarnai oleh islam, mungkin dia akan menulis “Astagfirullah ya Rabb,cape banget hari ini. Begitu banyak deadline, lelah, penat. Maaaf ya pada bumil yang tadi minta kursiku. Tapi aku juga lagi cape banget. Semoga pemerintah lebih care dengan penyediaan kursi bagi ibu hamil dan saudara-saudaraku yang membutuhkannya”.

Mungkin pathnya tidak akan langsung diupload dan terlupakan begitu saja karena statusnya sangat biasa.Namun karena Dinda memulainya dgn kata “benciiiii” maka menjadi sasaran empuk untuk dibully banyak orang dan media. Membaca tulisan Dinda saya justru melihat sosok yang hidupnya keras, di kota yang juga ssngat keras, bisa jadi kurang kasih sayang, kurang perhatian, kurang teladan dan pembinaan dari orang tuanya tentang kasih sayang,empati, dan cinta. Dia seolah harus berjuang keras untuk meraih itu, untuk mendapatkan penghargaan (meski bs jadi pandangan ini tidak tepat).

Dan saya membayangkan Dinda menulis dalam kondisi yang sangat penat, lelah dan emosional. Hingga menuai komentar berbagai pihak yang luar biasa menyeramkan, bahkan ada yang mendoakan semoga Dinda tidak punya anak. Astagfirullah… Komentar-komemtar yang juga lahir dari perasaan emosional.

Jika saja salah satu teman pathnya ada yang mengatakan “Linda sayangku yang dimuliakan dan dsayangi Allah. Aku faham betul kelelahanmu. Semoga setiap lelah yang dirasakan dan setiap tetes keringat menjadi pahala di yaumil akhir kelak. Sayangku bagaimanapun lelahnya diri kita semoga kita selalu bisa bermanfaat bagi orang lain…bla bla bla…. Maaf ya Dinda sayang, semoga jika kita berbaik hati pada ibu hamil hari ini, kelak saat kita hamil ada banyak yang juga sayang pada kita.”

Jika saja ada yang mau menasihatinya dengan kasih sayang tentu dia akan mau berlapang dada menyadari kekhilafannya sebelum statusnya jadi konsumsi banyak orang. Jika empati mulai hilang dikalangan ABG, maka sesunggunya PR dakwah sekolah dakwah kampus masih sangat banyak. Dan juga bercermin bahwa terkadang sayapun masih menjadi Dinda.

Belajar dari Dinda, saya pun belajar mengenal memahami berbagai karakter.Karater sahabat-sahabat saya, teman-teman kader saya, juga saudara-saudara yang belum menyukai saya secara personal maupun visi yang saya bawa.

Jika ust Hasan Al banna dalam Risalah Pergerak berkata “Betapa besar harapan saya bahwa umat memahami fikroh ini”. Maka sungguh interpretasi tiap orang bisa jadi berbeda.

Maka marilah lebih bijak menyikapi sosmed. Mengambil segala hal baik yang bisa kita dapatkand dan meninggalkan segala hal yang belum baik. Semoga kita dapat terus belajar memperbaiki diri dan menikmati perjalanan di dunia maya dengan berbagai karakteristik sahabat-sahabat kita. Sungguh hidup memang akan terasa indah dengan mauidzah hasanah (nasihat yg baik ). Namun dunia tidak akan seru jika semua orang sama. Wallahualam

Leave a reply