Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Bagaimana Menyeimbangkan Amanah Dakwah dan Akademis

2015-10-29_08-54-54

Setiap dua minggu sekali, kami menyelenggarakan kuliah whatsapp di ruang maya. Di edisi perdana ini kami hadirkan aktivis dakwah sekolah nan sarat akan prestasi. Salah satunya adalah meraih predikat Cum Laude saat wisuda Dokter Universitas Unpad. Siapa dia? yuk, liat Biodatanya.

Biodatanya

  • Nama lengkap : Amila Hanifan M
  • TTL : Tanjung Pandan, 5 Oktober 1992
  • Asal LDS Itsar : Rohani 554
  • Pendidikan:
  • SDN Moh Toha 3
  • SMP 5 Bandung
  • SMA 5 Bandung
  • FK UNPAD 2010
  • Aktivitas saat ini :
  • Membantu penelitian dosen, sambil menunggu magang thn depan.
  • Pengalaman2 akademis, dll :
  • – 10 besar nasional literature review Liga Medika FK UI 2012
  • – 30 besar literature review International Indonesian BioMedical Student Conggress (INAMSC) 2013
  • – peserta Indonesian Medical Olympiade 2013
  • – 6 besar nasional Lomba Kedokteran Indonesia FK Unsri 2014
  • – 10 besar Essai Ilmiah Nasional Scientific Research Festival FK Usu 2013
  • – Finalis Poster Ilmiah Takeda Symposium, Osaka, Jepang 2015
  • – Finalis Poster Ilmiah Confrence of Indenesian Student Affair in South Korea (CISAK), Daejeon, Korea Selatan 2015

Materi :

Assalamualaikum, temen-teman dm itsar 🙂
Tema malam ini sharing mengenai amanah dakwah dan akademik..

Dengan kondisi temen-teman dm yg sedang sekolah atau kuliah, apalagi mempersiapkan tugas akhir, tuntutan dalam bidang akademik akan semakin terasa.

Dalam kondisi memegang posisi dm, kita dihadapkan dalam 2 pilihan akademik atau amanah dakwah..

Sebenernya 2 hal ini tergantung kita menyikapinya.. dalam prosesnya kita tidak harus memilih diantara 2 hal ini, karena dua-duanya adalah hal yang bisa kita jalankan secara bersamaan..

Kalau di Q.S Muhammad : 7 (ayat yang cukup populer)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedu­dukanmu.” (Q.s. Muhammad: 7)

Buat saya, ayat ini yang sering meyakinkan diri sendiri untuk menyeimbangkan  amanah dakwah dan  kondisi akademik 🙂
Sehubungan dengan ayat ini, kita sharing pelaksanaan prakteknya di lapangan aja, gimana?

Kasus pertama misalnya, dalam hal rapat lds (dakwah -red) dan ujian.. apa harus memilih salah satu atau bisa keduanya jalan?
Apa ada sharing dulu pengalaman-pengalaman kayak gini?

M Fadli:
Bisa kedua nya jalan sih teh. kalo ada rapat lds, saya biasanya fokus rapat dulu terus kadang suka curi-curi waktu di angkot saat perjalanan pulang buat belajar ujian.
M Fadli:
Teh, kalau misalkan kita dihadapkan sama pilihan, dlm wktu yg sama ada jdwl kuliah sama dtg ke lds, bagaimana shrsnya kita menyikapinya? Ambil jatah dr kampus trs ke lds, atau sebaliknya teh?

Jawab:

Ya, kadang suka mikir gitu juga.

Beberapa tips buat hal kayak tadi :
1. Ukur kemampuan diri dan tahu cara belajar paling efektif. Kita paling tahu kemampuan kita untuk memahami suatu mata pelajaran, perlu 1 hari, 1 minggu, beserta cara belajarnya, audio, visual, atau kinestetik. Tentukan cara belajar paling cepat paham. Dan tahu alokasi untuk memahami pelajaran itu. Setiap orang akan beda-beda. Misalnya saya orang audio, jadi saya akan fokus belajar kalau dengerin orang ngomong atau guru/dosen jelasin, fokus saat itu untuk belajar, sehingga saat ulangan, saya lebih mudah merecall ingatan.

2. Manajemen waktu. Ketika kita komitmen untuk mengerjakan dua hal tadi, amanah dakwah dan belajar, berarti kita berusaha mengalokasikan waktu kita untuk belajar di awal-awal waktu, jadi gak mepet, biar beres rapat lds, kita mengingat-ingat hal-hal yang udah dipelajari sebelumnya (review-review), gak belajar dari awal. Bikin jadwal belajar. Kalau temen-temen ada yang ikut les, gak usah khawatir, imbangin dengan waktu belajar yang sama dengan mereka. Belajar gak harus lama, tapi efektif dengan cara yang kita suka.

3. Berdoa sebelum belajar. Minta sama Allah untuk memudahkan ilmu-ilmu-Nya masuk ke otak kita :)🙏

4. Evaluasi amal yaumi
Ilmu ibarat cahaya, dan cahaya akan lebih mudah masuk melalui kaca yang bening. Kalau ibaratnya hati, ilmu akan lebih mudah masuk jika hati kita bersih, amalan yaumi stabil. Disini amanah dakwah, dimentor, ngementor akan menjaga kita berada dalam lingkungan orang-orang shaleh untuk deket sama Allah.

5. Pertolongan Allah.
kalau dari cerita-cerita, banyak proses ujian dan akademik yang Allah permudah.. bukti dari Q.S. Muhammad : 7.

Sedikit cerita, setiap semester saya dan teman2 angkatan selalu menghadapi ujian lisan yg cukup menegangkan..hehe

Dengan amanah dakwah, rapat2 dll, waktu yang ada untuk mempelajari bahan materi yg banyak dirasa tidak cukup. Tapi ketika ujian, saya dan teman-teman ldf (dakwah kampus), sering mendapatkan kasus-kasus ujian lisan yang kami kuasai, sehingga bisa lulus dari ujian lisan itu. Khususnya saya pernah berdoa untuk dapat 1 kasus yang saya kuasai, dan Alhamduliah ternyata saat ujian sama dapat kasus itu. Kalau dibilang dari sisi waktu belajar mungkin tidak sebanyak teman-teman yang tidak terlibat dalam amanah. Tapi pertolongan Allah sangat banyak:)

6. Terakhir, kalau ternyata hasilnya gak sesuai harapan jangan putus asa.
Mungkin kita tau nilai yang dikasih manusia untuk hasil ujian itu, tapi kita gak pernah tau nilai pahala yang Allah kasih dari setiap proses belajar kita untuk menghadapi ujian itu. Allah menilai setiap proses kita, bukan hanya hasil. Bisa jadi Allah memberi kita nilai proses belajar yang lebih tinggi dari nilai hasil ujian dari guru/dosen..

Irfan Syamil:
Teh, kalau misalkan kita dihadapkan sama pilihan, dlm wktu yg sama ada jdwl kuliah sama dtg ke lds, bagaimana shrsnya kita menyikapinya? Ambil jatah dr kampus trs ke lds, atau sebaliknya teh?

Jawab
Kalau saya, pertimbangkan hal yang masih bisa didelegasikan.. kalau d ldsnya masih ada alumni lain yang bisa hadir dan menggantikan, coba didelegasikan dulu..
Sebisa mungkin g ambil jatah absensi, khawatir ada hal2 diluar dugaan yang membuat kita gbsa masuk, misal sakit yang perlu dirawar di rs..

Akademik juga amanah dari ortu..hehe
bisa jadi sikon yang berbeda, misal dalam amanah dakwah kampus, ada delegasi buat aksi atau forum mahasiswa nasional dan hal itu akan ngambil jatah absensi kita karena jadi gak masuk kuliah. Bisa jadi keputusan kita adalah tetep ikut jadi delegasi aksi/forum nasional itu jika keberadaan kita disana bagian dari amanah dakwah. Kondisi disini resmi izin gak kuliah, dan ngambil jatah tidak hadir. 😁

Syifa Bunga:
teh, ku mau tanya. jikalau misalnya kita udah coba ngejadwal dan manajemen waktu antara da’wah dan akademik. kita udah nge list nih di kalender harian, kapan belajar dan kapan da’wah. tapi kadang2 jadwal yg kita udah bikin kan ga akan 100% tepat kan ya, teh? gimana sih teh caranya biar konsisten dan disiplin dengan jadwal yg udah dibuat?

Jawab :

iya dlm prakteknya bisa tdk terlaksana 100%,
Caranya bisa dengan punya partner reminder atau belajar bareng, jadi ada yang ngingetin jadwal yang udah dibuat.

Bikin jadwalnya cadangan, kalau ternyata ada yang gak jalan, back up dengan plan baru di waktu lain. Mentok-mentoknya dengan mengurangi waktu tidur 😁..
*padahal arsi kalau bikin tugas suka begadang ya?

M Fadli:
Teh saya sering denger dari temen-temen kalo jadi orang yg ambisius itu gak baik, bener gak sih teh? Terus gimana sih seharusnya sikap kita dalam menghadapi suatu kompetisi?
M Fadli:
Dari penjelasn diatas dapet satu pertanyaan lagi, gimana caranya biar bisa punya partner reminder ???

Jawab:

sebelumnya kita bedakan antara ambisi dan ambisius..
Ambisi adalah keinginan yang dapat memotivasi kita untuk terus berusaha mencapai tujuan. Kalau di Islam, maksudnya mengarahkan hawa nafsu ke arah yang baik agar kita semangat mencapai hal itu.
Ambisi ini yang perlu kita miliki. Kalau gak berambisi bisa jadi target kita lempeng-lempeng(lurus -red) aja, segitu-gitu aja, gak akan naik.

Contoh kalau dakwah, ambisi ldsnya dapat anggota baru yang banyak pas mos. Ada target misalnya 50 orang.

Dengan ambisi ini, usaha kita buat rekrutmen akan lebih gencar.
Kalau buat akademik, ambisi bikin target nilai bukan cuma lulus, tapi bisa dapat 80.. (untuk pelajaran-pelajaran yang disukai atau dikuasai)
Sementara ambisius, ke arah ambisi yang jadi tidak terkontrol, bisa jadi menghalalkan segala cara untuk mencapai target.

Misal dengan cara-cara yang tidak Allah sukai. Mau dapat nilai UN bagus, tapi beli kunci jawaban 😦
Kesimpulan : ambisi perlu kita miliki, tapi jangan sampai melewati batas-batas nilai yang Allah tentukan.

Kompetisi bagus untuk mengukur kemampuan kita diantara yang lain. Menyikapi kompetisi, kita tidak harus menjadi yang terbaik, tetapi kita selalu berusaha memberikan usaha terbaik.

Kalau usahanya baik, Allah akan menilai kita bisa mendapat hasil yang baik juga atau tidak..

partner reminder, bisa dengan temen-teman alumni lain satu lds, temen liqo, atau temen sekolah/kampus dgn amanah yang sama..
Saling tukeran jadwal, nanti sharing 1 minggu sekali, jadwalnya terlaksana atau engga..

Faza Lisan:
teh, sekarang kan faza udah kelas 12, temen-temen di kelas juga mendadak jadi ambis semua, dan gak jarang yang ngelepas eskul nya dengan alasan “eskul gak ngejamin gue diterima kuliah”, nah, kadang faza juga suka khawatir sama akademis faza di sekolah, dan itu bikin faza akhir-akhir ini lebih mentingin akademis faza sendiri, dan bahkan sering kali faza gak ngementor karena ada kelas, pr atau kepentingan sekolah. ditambah ortu yang selalu bilang “kamu kan udah kelas 12, fokus dulu aja sampai lulus dan kuliah”. faza tau itu egois banget, tapi kadang suka ada rasa ‘pembenaran’ dan pewajaran gitu, teh. 😭 mau tanya, gimana caranya menghilangkan ego faza sendiri? *afwan jadi curhat

Jawab :

Iya, faza, saya pernah merasakan hal yang sama waktu kelas 12.. hehe
Pertama yakinkan diri sendiri dulu untuk menjaga keduanya tetep seimbang. Kalau denger cerita faza, faza pengennya tetep ngementor kah?

Faza Lisan:
Iya, teh. Kadang suka sedih kalau absen ngementor adik adik.. 😭

Jawab :

Kalau kita yakin masih pengen ngementor, usahakan banget untuk bisa ngementor. Kalau ada PR, cari waktu lain agar PRnya udah selesai sebelum ngementor. Kalau beneran kita niat insya Allah bisa. Dan bantu Allah kasih jalan
Pas kuliah, saya suka bingung juga ngatur jadwal ngementor, dengan kondisi bulak balik jatinangor-bandung. Awalnya gak yakin. Tapi Allah mempermudah jalan untuk bisa ngementor. Bahkan pernah ada kelas yang tiba-tiba batal, terus jadinya bisa ke Bandung.

Walaupun konsekuensinya kita akan ngeluangin waktu lebih untuk belajar. Pas temen-temen kita udah waktunya tidur, kita akan ngeganti waktu 3 jam yang dipake ngementor, dengan 3 jam di waktu lain untuk belajar.
Tapi insya Allah ngeliat adik-adik yang semangat belajar Islam, melihat perubahan mereka, akan ngebayar cape kita yang tadi.. bahkan adik-adik yang bisa jadi moodbooster untuk semangat belajar pas udah pulang ke rumah

Waktu kelas 12, awalnya agak kesulitan juga untuk ngatur waktu. Tapi waktu itu saya lagi megang adik-adik kelas 9 smp. Kondisi mereka sama kayak saya, tuntutan akademiknya tinggi. Dan kemungkinan lepas mentoring juga besar karena jika mereka memilih belajar. Jadi mau gak mau, saya “maksain” harus menstabilkan mentoring adik-adik, takut mereka lepas pas sma.
Ketika dijalani, alhamdulillah Allah kasih jalan.

Sambil mengejar temen-temen yang ikut les.
Dan pas UN, ada soal-soal yang saya gabisa, akhirnya saya ada yang menebak, atau menemukan jawaban di detik-detik terakhir.
Terus alhamdulillah banget ternyata tebakannya benar, Allah kasih nilai 10 di 3 mata pelajaran UN
.
Secara logika saya ngerasa gak mungkin. Dan cuma bisa bilang, ini mah Allah yang ngerjain UNnya dan doa dari adik2 yang dimentor 🙂
Untuk orang tua, komunikasikan dulu, perlihatkan wajah senang kalau kita udah ngementor, jadi orang tua tau kalau kita senang menjalani hal itu, bukan dianggap jadi beban..

Dan tetep buktikan kestabilan akademik dengan nilai-nilai yang ada, semoga akhirnya orang tua juga paham..
Wajar kalau ortu khwatir karena mereka sayang sama kita dan pengen hasil yang terbaik untuk anak-anaknya
Semangat fazaa

Kesimpulan materi

Mengutip Q.S. Ali Imran : 159

“.. kemudian apabila engkau telah berazam, maka bertawakalah pada Allah. Sungguh Allah mencintai orang2 yang bertawakal.”(Q.s. Ali Imran : 159)
Semangat untuk terus berada di jalan ini dengan tetap menjaga akademik. 🙂

Kita akan memetik hal yang dilakukan saat ini.
Belajar baik untuk prestasi akademik yang baik.
Semoga bisa mencapai surga dan ridha Allah dengan terus beramal jamai dalam amanah2 dakwah

Alhamdulillaah…

Narsum : Amila Hanifan (Rohani 554)
Moderator : Rini Inggriani (KRM Miftahul Huda)