Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

AL-Walaa’ Wa Al-Baraa’ (Loyalitas dan Pengingkaran) [Materi Tarbiyah] [DOC + PDF]

Sinopsis

Kalimat Laa ilaaha illa Allaah terdiri dari 3 jenis huruf (alif, lam dan ha) serta empat kata (Laat ilaha, ilia, Allah SWT) tetapi mengandung pengertian yang mencakup seluruh ajaran Islam. Keberadaan kata ini adalah walaa’ terhadap Allah SWT dan baraa’ terhadap selain Allah SWT. Bagi muslim sikap ini merupakan sikap hidup yang inti dan warisan para nabi. Penyimpangan dari sikap ini tergolong dosa besar yang tidak diampuni (syirik). Dengan sikap walaa> dan baraa’ seorang mukmin akan selalu mengarahkan dirinya kepada Allah SWT di setiap perbuatannya. Untuk memahami walaa’ dan baraa>ini kita perlu mengkaji unsur- unsur kalimatnya, seperti laa, ilaaha, iUa dan sebagainya. Kalimat Muhammad Rasulullah merupakan bagian kedua dari syahaadatain. Di dalamnya terkandung suatu pengakuan tentang kerasulan Muhammad SAW. Artinya dalam rangka mengamalkan walaa’ dan baraa’ yang terkandung di dalam Laa ilaaha iUa AUaah maka mesti mengikuti petunjuk dan jejak langkah Muhammad SAW. Beliau mendapatkan pengesahan Ilahi untuk menunjukkan kebenaran dan melaksanakannya. Maka beliau merupakan teladan pelaksanaan walaa»dan baraa’.

1. Laa Ilaaha Illaa Allah (Tidak Ada Ilah Selain Allah)

A. Laa (Tidak Ada – Penolakan)

Kata penolakan yang mengandung pengertian menolak semua unsur yang ada di belakang kata tersebut. Inti dakwah para Nabi adalah mengingkari sembahan selain Allah SWT dan hanya menerima Allah SWT saja sebagai satu-satunya sembahan. Penolakan terhadap segala sesuatu yang bukan dari Allah.

Dalil

  • •    Q. 16:36. Dan Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat  (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

B. Ilaaha (Sembahan – Yang Ditolak)

Sembahan yaitu kata yang ditolak oleh laa tadi, yaitu segala bentuk sembahan yang batil. Dua kata ini mengandung pengertian baraa* (berlepas diri). Bahaya menyimpang dari Tauhid akan mengancam kehidupan manusia apabila manusia tidak menolak sembahan selain dari Allah. Syirik merupakan dosa yang tidak diampuni dan akan membawa kita ke neraka. Dosa-dosa manusia diakibatkan kelalaian memahami makna tauhid, karena sembahan yang disembahnya bukan Allah.

Dalil

  • •    Q. 4:48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, barangsiapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besan
    •    Q. 4:116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
    •    Hadits. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata," Rasulullah SAW bersabda," tidak ada hamba yang mengucapkan "Tidak ada tuhan melainkan Allah" kemudian ia meninggal dengan meyakini bacaan itu kecuali dia masuk surga, saya berkata, walaupun dia berzina dan mencuri?, Nabi menjawab,"Walaupun dia berzina dan mencuri" Beliau mengatakannya tiga kali. Dan pada kali yang keempat, beliau berkata, "Meskipun Abu Dzar tidak menyetujui." Ahmad berkata,"Maka Abu Dzar pergi, sambil menyeret kainnya dan berkata,"meskipun Abu Dzar tidak setuju," Abu Dzar menceritakan hal itu di kemudian hari, lalu berkata,"Walaupun Abu Dzar tidak setuju" (HR Ahmad).
  • •    Q. 47:19. Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan
    tempat tinggalmu.

C. lila (Kecuali – Peneguhan)

Kata pengecualian yang berarti meneguhkan dan menguatkan kata di belakangnya sebagai satu-satunya yang tidak ditolak.  Peneguhan bahwa Allah sebagai satu-satunya dah yang disembah sangat diperlukan untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah.

Dalil

  • •    Q. 7:59,65,73. Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selainNya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Aad saudara mereka Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dariNya. Maka mengapakah kamu tidak bertakwa kepadaNya?" Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih".

 

D. Allah SWT

Kata yang dikecualikan oleh illa adalah Allah. Lafzul jalalah (Allah SWT) sebagai yang dikecualikan dan sekaligus yang diteguhkan dari ilah yang lainnya. Beberapa contoh dakwah para nabi yang memerintahkan pengabdian kepada Allah SWT dan menolak ilah-ilah yang lain. Allah SWT saja yang diteguhkan sebagai satu-satunya ilah yang disembah dan diabdi.

Dalil

  • •    Hadits. Ikatan yang paling kuat dari pada iman adalah mencintai karena Allah SWT dan membenci karena Allah SWT.
    •    Hadits. Barangsiapa yang mencintai karena Allah SWT, membenci karena Allah SWT, memberi karena Allah SWT dan melarang karena Allah SWT, maka ia telah mencapai kesempurnaan Iman.

2. Al-Baraa’ (Pengingkaran)

Merupakan hasil kalimat Laa ilaaha illa yang artinya membebaskan atau melepaskan diri dari segala bentuk sembahan. Pembebasan ini berarti: mengingkari, memisahkan diri, membenci, memusuhi dan memerangi. Keempat perkara ini ditunjukkan pada segala ilah selain Allah SWT semata yang berupa sistem, konsep maupun pelaksana.

Contoh sikap baraa yang diperlihatkan Nabi Ibrahim AS dan pengikutnya terhadap kaumnya, mengandung unsur mengingkari, memisahkan diri, membenci dan memusuhi kepada sesuatu yang bukan dari Allah.

Sikap baraa’ berarti melepaskan diri seperti yang dilakukan oleh Rasul terhadap orang-orang kafir dan musyrik. Sikap baraa adalah membenci kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan serta melepaskan diri dari segala bentuk kejahatan, kemaksiatan dan kemusyrikan.

Sikap baraa dapat diartikan juga memerangi dan memusuhi meskipun terhadap familinya yang durhaka kepada Allah. Contohnya Abu Ubaidah membunuh ayahnya, Umar bin Khattab membunuh bapak saudaranya, sedangkan Abu Bakar hampir membunuh putranya yang masih musyrik. Semua ini berlangsung di  medan perang.

Nabi Ibrahim menyatakan permusuhan terhadap berhala-berhala sembahan kaumnya. Bahkan menebas setiap leher patung-patung yang disembah oleh kaumnya.

Dalil

  • •    Hadits. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali bahwa Rasululah membaiatnya untuk "Memberi nasihat kepada setiap msulim dan Baraa> (berlepas diri) dari orang kafir."
  •   •    Q. 60:4. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali".
  • •    Q. 9:1. (Inilah pernyataan) pemutusan perhubungan daripada Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).
  • •    Q- 47:7. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Aliah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
  •   •    Q. 58:22. Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasulnya, sekalipun orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukanNya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.
  • •    Q. 26:77. Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.

3, Al-Hadam (Penghancuran)

Sikap bara’ dengan segala akibatnya melahirkan upaya menghancurkan segala bentuk pengabdian terhadap tandingan-tandingan maupun sekutu-sekutu  selain Allah SWT, apakah terhadap diri, keluarga maupun masyarakat.

Nabi Ibrahim berupaya menghancurkan berhala-berhala yang membodohi masyarakatnya pada masa itu. Cara tersebut sesuai pada masa itu tetapi pada masa Rasulullah tidak sesuai, sedangkan Rasul SAW menghancurkan akidah berhala dan fikrah yang menyimpang terlebih dahulu bukan menghancurkan berhala secara fisik. Se telah fathu Mekkah, kemudian 360 berhala di sekitar Kakbah dihancurkan oleh Rasul.

Dalil

  • •    Q. 21:57-58. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

4. AL-Walaa’ (Loyalitas)

Kalimat Illa Allah SWT berarti pengukuhan terhadap wilayatullah (kepemimpinan Allah SWT). Artinya: selalu mentaati, selalu mendekatkan diri, mencintai sepenuh hati, dan membela, mendukung dan menolong. Semua ini ditujukan kepada Allah SWT dan segala yang diizinkan Allah SWT seperti Rasul dan orang yang beriman.

Iman terhadap kalimat suci ini (laa ilaaha iUa ABaah) berarti bersedia mendengar dan taat untuk menjalankan segala perintahNya. Jaminan Allah SWT terhadap yang menjadi wali (kekasih) Allah SWT karena selalu dekat kepada Nya. Allah akan senantiasa melindungi hambaNya yang
menjadikan Allah sebagai Wali.

Walaa’ kepada Allah SWT menjadikan Allah SWT sangat dicintai, lihat Q. 9:24-Hanya Allah, Rasul dan orang yang beriman berhak dijadikan tempat loyalitas. Apabila kecintaan kita terhadap dunia melebihi dari kecintaan kepada Allah, Rasul dan orang yang beriman maka Allah akan turunkan azab kepadanya. Sebagai bukti orang-orang mukmin dari sikap walaa> yang dilakukannya adalah selalu siap mendukung atau menolong dinullah.

Dalil

  • •    Q. 5:7. Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjianNya yang telah diikatNya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati". Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati(mu).
  • •    Q. 2:285. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Aliah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan); "Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".
  • •    Q. 10:61,62. Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuahmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). Ingadah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
  • •    Q. 2:165. Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan- tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaanNya (niscaya mereka menyesal).
  • •    Q. 61:14. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.
  • •    Hadits. Dari Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah bersabda,"Di antara hamba-hamba Allah itu ada sejumlah hamba yang membuat para nabi dan syuhada iri kepada mereka." Beliau ditanya,"Ya Rasulullah siapakah mereka itu? mungkin kami dapat mencintainya. Beliau bersabda," mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Allah bukan karena harta dan keturunan. Wajah mereka bagaikan cahaya. Mereka berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya. Mereka tidak merasa takut saat orang-orang takut, dan mereka tidak bersedih tatkala orang-orang sedih. Kemudian Beliau membaca ayat, "Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Diriwayatkan dari Al-Bazzar bahwa Ibnu Abbas, Berkata, "Seseorang bertanya, ya Rasulullah siapakah para wali Allah itu? Beliau menjawab, "Ialah orang-orang yang apabila di lihat maka teringat kepada Allah."

5. Al-Binaa. (Membangun)

Sikap walaa’ beserta segala akibatnya merupakan sikap mukmin membangun hubungan yang kuat dengan Allah SWT, Rasul dan orang-orang mukmin. Juga berarti membangun sistem dan aktifitas Islam yang menyeluruh pada diri, keluarga, maupun masyarakat. Ciri mukmin adalah senantiasa menegakkan agama Allah SWT dengan sikap
membangun dan membina alam serta manusia di sekitarnya.

Posisi kekhilafahan Allah SWT diperuntukkan bagi manusia yang membangun dinullah. Khalifah bersifat membangun alam dan memeliharanya agar damai, aman dan tenteram. Khalifah juga membangun manusia serta mahkluk lainnya.

Jihad di jalan Allah SWT dengan sebenarnya jihad adalah upaya yang tepat membangun dinullah. Membangun Islam adalah aktifitas mulia yang merupakan bagian dari aktifitas dakwah Islam.

Dalil

  • •    Q. 22:41. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Aliahlah kembali segala urusan.
  • •    Q. 24:55. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang- orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
  • •    Q. 22:78. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar- benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orangtuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik penolong.
    •    Hadits. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ubay bin Ka'ab, dia berkata, Rasulullah SAW bersabdda, "Gembirakanlah umat ini dengan kemuliaan, ketinggian, agama, kemenangan, dan kekokohan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka yang beramal akhirat untuk meraih dunia, maka dia tidak akan memperoleh bagian di akhirat."

6. Al-Ikhlaash

Keikhlasan yaitu pengabdian yang murni hanya dapat dicapai dengan sikap baraa* terhadap selain Allah SWT dan memberikan tualaa* sepenuhnya kepada Allah SWT. Mukmin diperintah berlaku ikhlas dalam melakukan ibadah. Ikhlas beribadah berarti menjalankan perintah Allah dengan sepenuh hati sekaligus mengingkari semua yang datang selain dari Allah. Sikap ikhlas adalah inti ajaran Islam dan pengertian dari Laa ilaaha iUa Allaah. Ikhlas berarti memurnikan niat ibadah kita dan memurnikan amalan yang kita lakukan.

Dalil

  • •    Hadits. Dari Amirul Mukminin, Abi Hafsh Umar Bin Al-Khattab RA berkata," aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Bahwasanya segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrah menuju ridha Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrah karena dunia (harta atau kemegahan dunia) atau karena seorang wanita yang akan dikawininya maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya" (Bukhari-Muslim)
  • •    Q. 98:5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
  • •    Q. 39:11,14. Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama.
  • •    Hadits. Dari Abu Sa'id sa'ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri RA, Nabi SAW bersabda,"Sebelum kalian, ada seorang laki-laki membunuh 99 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk sekitar tentang seorang yang alim, maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (pendeta Bani Israil). Setelah menandatanginya, ia menceritakan bahwa ia telah membunuh 99 orang, kemudian ia bertanya: Apakah ia bisa bertobat? ternyata pendeta itu menjawab: Tidak. Maka pendeta itupun dibunuh sehingga genaplah jumlahnya 100. Kemudian ia bertanya lagi tentang seorang yang paling alim di atas bumi ini. Ia ditunjukkan kepada seorang laki-laki alim. Setelah  menghadap ia bercerita bahwa dirinya telah membunuh 100 jiwa dan bertanya bisakah saya bertobat ? orang alim itu menjawab: Ya, siapakah yang akan menghalangi orang bertobat? Pergilah kamu ke kota ini (menunjukkan ciri-ciri kota yang dimaksud), sebab disana terdapat orang-orang yang menyembah Allah Taala. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan kembali ke kota mu karena kotamu kota yang jelek! lelaki itu pun berangkat, ketika menempuh separuh perjalanan, maut menghampirinya. Kemudian timbullah perselisihan antara malaikat rahmat dengan malaikat adzab, siapakah yang paling berhak membawa rohnya. Malaikat rahmat beralasan bahwa: orang ini datang dalam keadaan bertobat, lagipula menghadapkan hatinya kepada Allah. Sedangkan malaikat adzab (bertugas menyiksa hamba Allah yang berdosa) beralasan: orang ini tidak pernah melakukan amal baik. Kemudian Allah SWT mengutus malaikat yang menyerupai manusia mendatangi keduanya untuk menyelesaikan masalah itu dan berkata ukurlah jarak kota tempat ia meninggal antara kota asal dengan kota tujuan. Manakah lebih dekat maka itulah bagiannya. Para malaikat itu lalu mengukur ternyata mereka mendapati si pembunuh meninggal dekat dengan kota tujuan, maka malaikat rahmatlah yang berhak membawa roh orang tersebut. (HRBukhari -Muslim)

7. Muhammad Rasuulullah

Konsep walaa’ dan baraa’  ditentukan dalam beberapa bentuk yaitu Allah SWT sebagai sumber {mashdar), rasul sebagai cara (kayfiyah) dan mukmin sebagai pelaksana (tanfudz).

A. Allah SWT sebagai Sumber (Mashdar)

Allah SWT sebagai sumber wcdaa*, dimana loyalitas mutlak hanya milik Allah SWT dan loyalitas lainnya mesti dengan izin Allah SWT. Allah SWT, Rasul dan orang-orang mukmin adalah wali orang yang beriman yang
akan membawa kepada jalan yang benar serta menjauhi dari kesesatan dan godaan syaitan. Ketaatan diberikan hanya kepada Allah SWT, Rasul dan Ulil Amn dari kalangan mukmin. Selain daripada itu, ketaatan tidak dibenarkan kepada selain Allah karena akan membawa manusia kepada kesesatan. Orang-orang yang memberikan walaa’  kepada Allah SWT, Rasul dan orang-orang mukmin adalah Hizbtdlah (golongan Allah SWT), lihat pula Q. 58.22, Selain golongan ini adalah Hizbus sycuthan yang senantiasa membawa kepada kezaliman.

Dalil   

  • •    Q. 5:55-56. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang- orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, RasulNya dan orang- orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama)
    Allah itulah yang pasti menang.
  • •    Q. 4:59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amn di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
  • •    Hadits. Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah bahwa beliau bersabda,"Barang siapa mentaatiku, maka dia mentaati Allah. Barangsiapa mendurhakaiku, maka dia mendurhakai Allah. Barangsiapa mentaati amirku, berarti dia mentaatiku. Barangsiapa yang mendurhakai amirku, berarti dia mendurhakai aku"
  • •    Q. 5:56. Dan barangsiapa mengambil Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.

B. Rasul sebagai Cara (Kayfiah)

Pelaksanaan walaa' terhadap Allah SWT dan baraa’ kepada selain Allah SWT mengikuti cara Rasul. Nabi SAW telah memberikan gambaran yang jelas tentang walaa’ kepada Islam dalam sirah Nabi SAW • Orang-orang beriman wajib mengajak orang kafir kepada jalan Islam dengan dakwah secara hikmah dan pengajaran yang baik. Apabila mereka menolak, kemudian menghalangi jalan dakwah maka mereka boleh diperangi sampai mereka mengakui ketinggian kalimat Allah SWT. Islam memberikan kebolehan bergaul dengan orang kafir dengan batas-batas tertentu, misalnya dalam bermuamalah. Asbabun Nuzul ayat ini berkaitan dengan Asma binti Abu Bakar yang tidak mengizinkan ibunya masuk rumahnya sebelum mendapat izin dari Rasulullah, lihat pula

Dalil

  • •    Q. 31:15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

C.    Mukmin sebagai Pelaksana (Tanfiidz)

Pelaksana walaa’ dan baraa’ adalah orang mukmin yang telah diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah. Dalam pelaksanaan baraa>, Rasulullah memisahkan manusia atas muslim dan kafit Hizballah dengan Hizbus Syaithan. Orang-orang mukmin adalah mereka yang mengimani Laa ilaaha iUa Allaah dan Muhammad Rasulullah sedangkan orang kafir adalah mereka yang mengingkari salah satu dari dua kalimat syahadat atau kedua-duanya. •    Hubungan kekeluargaan seperti ayah, ibu, anak tetap diakui selama bukan dalam kemusyrikan atau maksiat terhadap Allah SWT. Dengan demikian pelaksanaan walaa’ dan baraa’ telah ditentukan caranya. Kita hanya mengikut apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.

Dalil

 

  • •    Q. 60:7-9. Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  • •    Hadits. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Asma binti Abu Bakar RA, berkata, Ibuku datang berkunjung, sedangkan ia masih dalam keadaan musyrik namun berada dalam ikatan perjanjian dengan Quraisy. Lalu aku datang kepada nabi dan bertanya,"Ya Rasulullah, ibuku datang dan ia sangat ingin bertemu denganku. Apakah aku boleh menemuinya ?, Rasulullah menjawab,"Ya, temuilah ibumu." (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim).

     

     

    Skema

    image

Ringkasan Dalil

•    Laa ilaaha illa Allaah:

  • •    Laa adalah perkataan penolakan
    •    Ilaaha adalah yang ditolak
    •    lUaa (melainkan) adalah ungkapan pengukuhan (itsbat)
    •    Allah SWT adalah yang dikukuhkan (diitsbatkan)

•    Al-Baraa* (melepaskan diri) (Q. 60:4, 7:59,65, 73,85):

  • •    Mengingkari
    •    Membenci
    •    Memusuhi
    •    Memutus hubungan
    •    Menghancurkan

•    Al-Walaa* (loyalitas) (Q. 7:196,5:55, 4:59, 5:7, 47:7,2:165, 3:31) adalah:

  • •    Taat
    •    Mendekati
    •    Membela
    •    Mencintai
    •    Membangun

•    Al-Hadam iva AI-Binaa, (Menghancurkan dan membangun) adalah makna Ikhlas (Q. 98:5,39:11,14).

  • •    Muhammadu Rasulullah — Konsep Al-Walaa* dan Al-Baraa>:
    •    Allah SWT adalah sumber nilainya (Q. 2:147, 7:2)
    •    Rasul adalah contoh pelaksanaannya (Q. 33:21, 59:7)
    •    Orang mukmin adalah pelaksananya (Q. 33:36, 35:32)
    •    Hadits. Al-hafizh Abu Al-qasim ath-Thabrani meriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Semuanya termasuk ke dalam umat"

•    Kayfiyah (cara) membina dan menghancurkan adalah dengan ittibaa' (Q. 3:31)

Download DOC + PDF

Like atau Follow Itsar untuk mendownload

[l2g]

doc icon

 DOWNLOAD

pdf icon

 DOWNLOAD

 

[/l2g]

Sumber : Kepribadian Muslim (Dr. Irwan Prayitno)

Related Posts

Leave a reply