Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

7 Krtiteria Seseorang Layak Menjadi Ketua Rohis

Pada saat saya dulu sma, saat kenaikan ke kelas 2 DKM pasti mengadakan yang namanya Mubes DKM. Tujuannya mempertimbangkan laporan pertanggungjawaban pengurus periode lalu dan memilih ketua DKM yang baru.

Kegiatan berlangsung khidmat karena terjadi estafeta perjuangan dakwah akan diteruskan oleh angkatan yang lebih muda.

Semua menaruh harapan bahwa ketua suksesir akan membawa kondisi DKM menjadi lebih baik lagi dan membawa kemajuan dakwah lebih siginifikan lagi.

Disini saya akan berbagi 7 kriteria yang menentukan seseorang itu layak jadi ketua Rohis atau tidak.

1. Memahami dakwah

Kalau kumpulan orang sholeh bikin kursus cara baca Al-qur’an itu namanya TPA yaitu taman pendidikan Al-Quran. Kalau kumpulan orang sholeh mengelola zakat dan daging qurban maka itu namanya lembaga zakat dan panitia idul adha. Tapi kalau sekumpulan orang sholeh melakukan kegiatan dakwah di sekolah dan mengajak teman-teman mereka ke jalan kebaikan dengan beragam macam kebaikan itu baru namanya Rohis.

Ketua Rohis harus dan wajib memahami dakwah serta dinamika yang menyertainya. Dia juga harus faham bahwa dakwah dilakukan berjamaah sesuai dengan kaidah dan fiqh dakwah yang dijelaskan dalam Al-qur’an dan hadits. Peran kepemimpinan menuntutnya untuk bisa dan terampil berkomunikasi dengan bawahan serta mengenali berbagai cara pandang dan problem mereka.

2. Memahami diri.

Siapa bilang ketua Rohis harus tanpa cela? Kita manusia, bukan dewa.

Sejak awal Ketua Rohis harus sudah menyadari dan menyampaikan ke rekan-rekannya berbagai hal tentang dirinya terutama kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Jadi gini, mengaku diri punya banyak kelebihan itu gampaaang… tapi menjelaskan kekurangan diri itu yang susaaah…..

Setiap kekurangan yang dimiliki ikhtiarkan untuk diperbaiki di kemudian hari. Rekan seperjuangan bisa mengisi kekurangan yang dimiliki ketua seiring ketua terus memperbaiki diri. Nabi Musa dan Harun adalah contoh yang baik bagaimana keduanya saling bahu membahu dalam berdakwah.

3. Punya perhatian yang utuh

Bawahan tidak bisa bergerak apa-apa tanpa arahan dari ketua, tapi ketua yang tidak peduli dan memperhatikan bawahannya akan buat bangunan organisasi makin amburadul.

Ketua yang pasif dan tidak mau berusaha melakukan pendekatan pada anggota dan memperhatikan anggota akan merapuhkan organisasi. Bawahan jadi hilang semangat, dan setengah-setengah dalam bekerja. Bukan tidak mungkin akan timbul konflikdi dalam tubuh pengurus.

4. Teladan yang baik

Hal ini harus ada di jiwa setiap pemimpin manapun sebab akan menjadi kiblat dari pergerakan seluruh anggota.

Calon ketua yang memiliki riwayat pacaran, atau kriminal lebih baik tidak diloloskan kepada kandidat ketua Rohis, mengingat hal itu bisa menjadi contoh buruk pada bawahan.

Sebaliknya, calon ketua yang memiliki catatan ibadah yang baik, akhlak dan tsaqafah islami yang baik sebaiknya dijadikan kandidat kuat.

5. Pandangan yang tajam

Ini termasuk bagian dari seni kepemimpinan. Seorang ketua harus bisa membaca dan meraba masa depan. Cara mewujudkannya memang abstrak, tiap orang dianugrahi kemampuan berbeda-beda dalam hal membaca masa depan.

Tapi membaca masa depan saja tidak cukup, ketua harus bisa menceritakan masa depan rohis yang dia lihat dengan piawai kepada seluruh bawahan – bawahannya. Disini dituntut kemampuan dialektika dan deskripsi secara totalitas. Dengan begitu bisa terasa, bahwa ketua dan bawahan sedang bergerak menuju tujuan yang sama.

6. Kemauan yang kuat

Banyaknya tantangan dan hambatan yang akan dihadapi ketua rohis, menjadikan ketua rohis harus memiliki kemauan yang sekuat baja. Banyaknya permasalahan klasik rohis seperti interaksi ikhwan akhwat, harokah, isu terorisme, dan kaderisasi mendesak rohis untuk serius mengangkat ketua yang tahan banting dan terus maju mengejar visi organisasi.

7. Optimisme

Optimisme ketua bisa dilihat dari pandangan matanya dan intonasi ketika dia berbicara. Makanya uji orasi dan presentasi program kerja wajib dilakukan untuk mengetahui seberapa besar optimisme seorang calon ketua rohis.

Tambahan: 8. Karismatik

Tidak ada yang tahu bagaimana membentuk pribadi yang karismatik. Tapi, kalau kamu menemukannya ada di antara kandidat calon ketua Rohis, dia bisa jadi the chosen one.

Karena karismatik itu seperti kekuatan magis yang bisa “menyihir” bawahan untuk bekerja totalitas dan kooperatif untuk setiap kebijakan yang ditetapkan ketua.

Adakah pengalamanmu mendapat ketua seperti itu? Kendala apa saja yang kamu dapati ketika ingin memilih seorang ketua rohis baru?