Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

#MahasiswaBaru : 6 Karakter Penting Mahasiswa Baru

Bagikan, insya Allah jadi amal kebaikan

Apa sih gunanya kuliah? Mencari gelar? Mengisi waktu luang daripada bengong di rumah? Atau jangan-jangan malah untuk mencari jodoh? Terlepas dari apapun yang kita ingin peroleh dari kuliah, masa kuliah sebenarnya adalah masa yang sangat berharga. Di saat-saat inilah kita bisa meraih hal-hal yang dapat menjadi investasi di masa yang akan datang.

Tak sedikit orang yang berpikir bahwa inti kuliah adalah mendapatkan nilai setinggi-tingginya. Itu tidak sepenuhnya salah. Tapi pada kenyataannya, bagus tidaknya nilai akademik seseorang itu bukanlah faktor utama yang menentukan kesuksesan seseorang nantinya. Buktinya, tidak sedikit sarjana yang menganggur. Bukan karena mereka kurang pintar, namun justru karena hal-hal lain, seperti tidak bisa bekerja dalam tim, manajemen emosi yang kurang baik, dan sebagainya.

Kita perlu tahu apa yang harus dipersiapkan untuk hidup nantinya. Entah itu mau bekerja, mau kuliah sampai s3, atau untuk berwirausaha, ada sejumlah karakter yang penting untuk dimiliki.

Karakter- karakter itu adalah :

  • Etis
  • Proaktif
  • Kooperatif
  • Komunikatif
  • Gigih
  • Cerdas

Etis

Meraih sukses dengan cara licik amat berbeda dengan sukses yang etis. Etis artinya kita tidak hanya mengerjakan sesuatu dengan “benar”, namun juga dengan “baik”. “Benar” adalah sekadar tidak melanggar peraturan. Tapi “baik”, artinya juga kita berusaha sebisa mungkin menguntungkan sebanyak mungkin orang dan menghindarkan kerugian sebisa mungkin. Dan sebagai catatan, sesuatu yang benar itu belum tentu baik. Pusing? OK, kita gunakan contoh lagi. Misalnya, kamu tidak datang di suatu ujian praktikum. Alasannya, kamu tertidur karena mengerjakan tugas mata kuliah lain yang memang sangat menyita waktu dan harus dikumpulkan pada hari itu juga. Asisten langsung memberi nilai nol tanpa memberimu kesempatan menjelaskan. Asisten itu tidak melanggar peraturan mana pun. Tapi kan kita merasa tidak enak bukan? Itu artinya, si asisten berbuat “benar” tapi tidak “baik”. Tentu akan lain ceritanya kalau ia mau mendengarkan alasanmu. Yah, walaupun belum tentu berarti dia akan memberi ujian praktikum pengganti, tapi akan terasa lebih etis kalau segala sesuatunya bisa dibicarakan terlebih dulu.

Termasuk dalam berbuat etis, adalah jujur, mencari win-win solution (solusi yang sebisa mungkin menguntungkan banyak pihak) dan seabrek sifat-sifat baik lainnya. Mengapa etis menjadi penting? Etis berkaitan dengan kredibilitas kita. Mana ada sih yang mau bekerja sama dengan orang yang kita tahu sering melakukan kecurangan? Percayalah, berbuat etis akan menjadi investasi jangka panjang kita karena orang cenderung tidak keberatan bekerja sama dan menolong orang yang mereka percaya memiliki niat baik.

Proaktif

Pada dasarnya di dunia ini ada dua tipe manusia : proaktif dan reaktif. Berusahalah termasuk ke dalam golongan yang proaktif. Proaktif artinya berani bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan yang sudah dibuat. Kalau menghadapi masalah, orang proaktif akan berusaha mencari solusi, dan bukan berlarut-larut dalam kesedihan dan menganggap diri mereka adalah korban keadaan. Masih kurang jelas? OK, perhatikan contoh kasus berikut. Kasus : Seorang dosen yang terkenal killer tiba-tiba memberi nilai 0 untuk ujian tengah semestermu karena menganggap kamu mencontek. Padahal, kamu tidak pernah merasa melakukan kecurangan.

Sikap reaktif:

  • Kesal setengah mati dan malas-malasan dalam kuliah
  • Menceritakan hal-hal buruk tentang dosen itu pada teman-teman
  • Merasa yakin si dosen memang sudah sebal padamu sejak awal

Sikap proaktif:

  • Berusaha menemui sang dosen, meminta penjelasan dan mengklarifikasi permasalahannya
  • Tetap berusaha mengikuti perkuliahan dengan sungguh-sungguh.

Kooperatif

Pernahkah kamu ikut kerja kelompok mengerjakan tugas dan ada teman yang tidak mengerjakan apa- apa? Atau pernah tidak kamu bertemu dengan teman yang sangat pintar namun cenderung memaksakan pendapatnya setiap kali bekerja kelompok?

Bekerja sama dengan orang lain tidaklah sederhana. Bahkan kadang tugas yang bisa kita selesaikan sendiri dalam waktu singkat, penyelesaiannya berlarut-Iarut karena anggota tim saling berdebat. Tapi bisa juga dengan kerja sama tersebut, pekerjaan kita menjadi lebih ringan dan mudah diselesaikan.

Dalam dunia nyata, kita akan sangat sering dituntut untuk bekerja sama. Sudah banyak kisah lulusan kampus terkenal yang ditolak lamarannya oleh perusahaan karena hasil tes menunjukkan ia tidak bisa bekerja sama dengan baik. Kerja sama tidak hanya penting bagi mereka yang ingin bekerja di perusahaan. Wirausaha pun membutuhkan kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Nyaris tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak memerlukan kerja sama. Pakaian kita saja dibikinkan oleh orang lain kan? Bukan menenun kain sendiri kan?

Jelas, amat penting bagi kita untuk belajar bersinergi dengan orang lain; yakni memanfaatkan perbedaan untuk menemukan cara yang lebih baik dalam menyelesaikan pemasalahan.

Komunikatif

Pada umumnya, orang yang kita hadapi tidak mempunyai kemampuan telepati. Jadi, mereka tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran kita. Maka, diperlukan komunikasi untuk menyampaikan pendapat juga untuk mengerti apa yang diinginkan oleh orang lain.

Komunikasi adalah kebutuhan mutlak dalam setiap sisi kehidupan. Profesi apapun, pasti membutuhkan komunikasi dengan orang lain. Kalau asal cuap- cuap memang mudah. Tapi tidaklah mudah untuk berkomunikasi dengan baik. Jangan-jangan orang tiba- tiba mengantuk kalau kita mulai menjelaskan sesuatu. Atau jangan-jangan banyak yang sakit hati dan salah paham kalau kita berkata-kata.
Selain pemilihan kata yang singkat, padat dan jelas, yang tak kalah penting dalam berkomunikasi adalah rasa percaya diri. Masih merasa malu kalau harus berbicara di depan orang? Itu wajar kok. Tapi sesungguhnya kepercayaan diri itu bisa ditumbuhkan dengan latihan. Lebih lengkap mengenai ini akan dibahas pada bab-bab selanjutnya. Sebagai catatan, kemampuan berkomunikasi yang dimaksud di sini bukan hanya komunikasi verbal saja lho, namun juga dalam bentuk tertulis. Di bangku perkuliahan saja kebanyakan soal-soal ujian berbentuk esai. Nantinya juga harus menulis tugas akhir. Sedang dalam dunia kerja, tak jarang seseorang harus membuat laporan. Jadi, kemampuan menulis juga tak kalah pentingnya.
Gigih

Dalam hidup, kita pasti mengalami kebosanan, kegagalan dan kesedihan sewaktu-waktu. Itu wajar. Yang berbahaya adalah bila kita tenggelam dalam semua emosi negatif itu dan menjadi tidak produktif. Orang yang sukses adalah orang yang bisa segera bangkit ketika jatuh dan yang bisa konsisten berjuang tanpa mengalah pada kebosanan dan kemalasan. Dan kuliah adalah saat-saat yang tepat untuk menanamkan kegigihan. Betapa tidak? Dalam perkuliahan kamu akan menemui hal-hal yang kamu sukai, dan juga hal-hal yang tidak kamu sukai. Ada kuliah-kuliah yang menarik, namun akan ada juga kuliah yang amat membuatmu sebal. Tapi semua itu harus dijalani. Tinggal pilih saja, mau menjalaninya asal-asalan atau sungguh-sungguh.

Cerdas

Kecerdasan memang bukan satu-satunya unsur untuk sukses dalam hidup. Tapi memang ia salah satu elemen yang dibutuhkan. Ada jenis-jenis pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berpikir analitis yang tinggi. Ada yang menuntut kreativitas dan inovasi. Dalam hal ini, indeks prestasi (IP) memang sedikit banyak bisa memberi gambaran tentang kecerdasan seseorang. Namun tentu saja tidak mutlak begitu.

Tapi asal tahu saja, nanti di dunia “nyata”, apa yang kita pelajar! di kelas ternyata tidak bisa begitu saja diterapkan. Malah banyak pengetahuan yang harus kita pelajari sendiri. Dan untuk bisa belajar dengan cepat dan efektif, dibutuhkan strategi dan kecerdasan. Makanya, mencontek itu tidak baik. Mencontek akan mematikan daya berpikir analitis dan kreativitas kita. Lebih baik memanfaatkan setumpuk ujian dan tugas itu sebagai ajang melatih kecerdasan dan menumbuhkan rasa percaya diri.

Kuy cekidot seri tulisan #MahasiswaBaru terbaru :

Sumber

Leave a reply