Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

Manusia dan Emosi Dasar bernama Cinta

Bagikan, insya Allah jadi amal kebaikan

Sobat Muda, kita-kita yang muda pasti seger kalau diajak ngomong cinta. Buktinya begitu banyak lagu, cerpen, dan film bertemakan cinta. Kalau kita lihat pelaku maupun konsumennya, ya orang muda juga. Tetapi apa iya cinta hanya milik orang muda? Atau apa iya makna cinta sebatas hubungan emosi dua makhluk berlawanan jenis? Bagaimana kita mendefinisikan cinta kasih seorang ibu dengan anaknya, hubungan sesama teman, bahkan cinta Allah kepada makhluk-Nya atau sebaliknya? yuk kita bahas…

love photo

Ketika dilahirkan, manusia bukanlah makhluk yang ‘tidak bisa apa-apa dan tidak punya apa-apa’. Kamu akan takjub melihat bayi yang baru saja lahir dapat menangis keras. Beberapa saat kemudian ia akan mencari puting susu ibunya. Begitu menemukannya, dengan lahap si bayi menyusu sampai merasa kenyang. Selang beberapa hari, ia akan mengenali ibunya dan mampu menjalin komunikasi. Ia dapat tersenyum ketika mendapat sentuhan lembut. Si bayi pun akan terkejut dan takut kalau diperlakukan kasar. Itulah yang dinamakan dengan emosi (baca: perasaan) berupa naluri yang diberikan Allah pada setiap manusia.

Ternyata urusan emosi bukan melulu milik manusia. Seekor induk kuda pun tak segan-segan menyepak musuh yang hendak menyakiti anaknya. Emosi yang mendorong perilaku seperti ini namanya instlng.

Untuk mengembangkan emosi manusia membutuhkan stimulus. Itu dapat dipenuhi dengan komunikasi yang baik. Memang pada awalnya orangtua terutama ibu yang dituntut untuk banyak memberi perhatian dan cinta kasih

Tangki emosi (kebutuhan akan cinta kasih) manusia akan sangat memengaruhi kehidupannya secara keseluruhan. Tangki emosi yang penuh dan terjaga kondisinya, membuat manusia bahagia. Kebahagiaan menumbuhkan rasa percaya diri. Inilah modal kesuksesan hidup. Sebaliknya, adalah sebuah siksaan dan penderitaan ketika tangki itu dibiarkan kosong atau bocor.

Coba perhatikan kisah nyata ini :

Cerita
Di California pada tahun 1 970-an, seorang ibu melarikan diri dari rumahnya. la membawa serta anak gadisnya, 13 tahun. Mereka meminta bantuan kepada petugas kesejahteraan sosial. Petugas melihat gadis ini tidak normal. Badannya bungkuk, kurus kering, kotor dan menyedihkan. la tak henti-hentinya meludah dan sama sekali tidak berbicara. Hanya diam membisu. la tidak bereaksi dan kepandaiannya tak berbeda dengan anak usia satu tahun. Setelah diselidiki, ternyata gadis ini melewati masa kecilnya di “neraka” ayahnya. la diikat ketat di kursi dan dikurung dengan kurungan besi. Jika menangis, sang ayah akan memukulinya. Kakak laki-lakinya terkadang memberinya makan, tanpa bicara. Pembicaraan antara ibu dan kakak laki-laki itu pun dengan bisik-bisik. saking takutnya terhadap sang ayah.

Mungkin kisah di atas merupakan contoh paling ekstrem (dari manusia yang tidak mengenal cinta. la tidak diberikan kesempatan mengenal dan mengekspresikan emosi dengan lambang-lambang. la tidak mampu berkomunikasi.

Dari buku Lets Talk About Love – Sygma