Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

#21 Tingkatkan Kredibilitas Murobbi : Jangan Mau Dibayar

“Kalau bukan karena murid, guru tidak akan mendapatkan pahala. Oleh karena itu, janganlah Anda meminta upah kecuali dari Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah mengisahkan Nuh as, “Wahai kaumku. Aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanya dari Allah” (QS. 11 : 29) (Imam Al Ghazali).

Murobbi beda dengan penceramah (ustadz). Jika murobbi berperan sebagai pembina (orang tua, sahabat, guru, dan pemimpin) bagi mad’u, penceramah lebih berperan sebagai guru (ustadz) saja. Hubungan murobbi dengan mad’u sangat dekat dan berlangsung lama. Sebaliknya hubungan penceramah dengan mad’u jauh, bahkan mungkin tidak saling mengenal, dan sifatnya sementara. Karena itu, penceramah boleh mendapat honor ceramah. Sebaliknya, murobbi tidak boleh! Mengapa? Jika murobbi menerima bayaran (honor) dari mad’u dapat dipastikan sikapnya akan sulit obyektif dan sulit bersikap asertif kepada mad’u. Jika mad’u berbuat salah, ia akan sulit bersikap tegas karena kuatir mad’u tersinggung dan “mogok” membayar. Sebaliknya, mad’u juga akan meremehkan murobbi karena merasa membayarnya. Jika ditegur murobbi, mungkin ia berkata (dalam hati), “urusan apa Anda menegur saya. Bukankah kamu saya yang bayar?”.

Jika murobbi dibayar, hubungan murobbi sebagai qiyadah (pemimpin dakwah) dan mad’u sebagai jundi (tentara dakwah) juga akan sulit terealisir. Karena hubungan mereka bukan berdasarkan kesadaran dan keikhlasan untuk mengikat diri dalam amal jamai’ (aktivitas bersama), tapi berdasarkan pamrih (membayar dan dibayar).

Serial Tulisan #MurobbiSukses terbaru:

Leave a reply