Jalan Mayang Asih Cijambe, Bandung Indonesia
+62 856-2426-2945

10 Bekal Dakwah Pemuda Islam

ISLAM bukanlah agama yang bersifat individual, atau hanya untuk orang-orang tertentu saja. Setiap Muslim memiliki kewajiban untuk menyebarkan diin. Apalagi jika sasarannya adalah pemuda, maka siapapun mulai dari pemula, aktivis, asatidz, semua memiliki peran yang amat penting. Terlebih kamu. Ya, kamu, juga harus berusaha membantu temanmu lebih dekat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Tentu saja, mengenai hal ini, kamu memiliki banyak rintangan, mulai dari pertanyaan mengapa kamu harus memakai hijab, dibilang sombong ketika tidak “salaman” dengan sepupu, disebut “sok alim” saat mengajak teman ke masjid, dicap “teroris” karena memanjangkan jenggot, dan daftar seperti itu akan terus berlanjut!

Bisa saja, Allah memang telah menempatkan mereka pada situasi yang mana tidak ada orang lain yang akan mengisinya. Yang mana mereka dapat berkomunikasi dengan baik, memahami masalah atau kondisi yang mereka alami, ditambah adanya wawasan Islam yang cukup.

Kepada siapa temanmu; mereka yang sering menghabiskan waktu bermain game daripada mendengarkan taushiyah di masjid atau teman sekelasmu yang namanya saja yang Islam tapi tahunya cuma “Muslim tidak makan babi” mau mendengarkan nasihat?

Seorang Imam Masjid besar yang bakalan kaget begitu melihat gaya berpakaian atau gaya bicaranya. Atau kepada kamu yang tumbuh besar bersamanya, tinggal di lingkungan yang sama, bercanda dengan mereka, atau berjumpa dengan mereka setiap hari di sekolah/kampus?

Jawabannya jelas: Kamu!

Jangan panik. Inilah beberapa tips bekal dakwah dan nasihat yang insyaa Allah akan membantu kamu.

1. Niat yang tulus dan ikhlas

Semua kegiatan yang kita kerjakan sebaiknya dan seharusnya hanya untuk Allah dan karenaNya. Oleh karena itu, tentu saja kegiatan dakwah tidak boleh ada rasa sombong apalagi menggurui. Menganggap dirimu adalah guru dan orang lain harus merasa beruntung karena kamu sudah menyelamatkan mereka dari jalan yang sesat. Ingatlah, bahwa petunjuk itu hanya dari Allah semata.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu sayangi, tetapi Allah member petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [QS. Al-Qasas: 56]

Berdo’alah agar tertanam keikhlasan setiap kali berdakwah, dan ingat pula bahwa Allah kuasa menjauhkanmu dari petunjuk (wal ‘iyadzu billah min dzalik)

2. Amalkan apa yang kamu sampaikan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” [QS: As-Shaff [61]: 2]

Tidak mengamalkan apa yang kamu sampaikan kepada orang lain adalah kesalahan, dan sudah bisa dipastikan kamu akan kehilangan wibawa dari siapapun, baik tua maupun muda, sekali mereka mengetahui hal tersebut. Jadi jangan lakukan itu.

3. Gunakan Qur’an, Hadits, dan Shirah Nabawi sebagai tuntunan dakwah

Baca dan pahami ayat-ayat Quraniyyah yang menjelaskan bagaimana para Nabi menyampaikan kebenaran kepada kaum mereka.

Baca Shirah Nabi Muhammad, terutama pada bagian bagaimana beliau membawa Islam kepada ummatnya yang berbeda-beda baik latar belakang, ras, gender, maupun umur, terkhusus pemuda. Jika terlalu berat atau kamu tidak memiliki waktu yang cukup, cobalah membeli buku panduan dakwah praktis.

4. Berbicaralah kepada mereka seakan-akan kamu tidak mengenal mereka

Jangan menilai seseorang terlalu cepat. Hanya karena dia memakai jilbab pendek, melilit leher, penuh warna, lantas menganggap bahwa dia tidak bisa diajak bicara tentang Islam hanya karena ia terlihat sombong. Padahal ia memang belum tahu wajibnya menutup aurat sesuai yang telah diatur di dalam Al-Qur’an. Atau temanmu yang tidak pernah kamu lihat ikut shalat Jum’at, lalu men-cap ia sebagai Muslim yang buruk. Karena bisa saja, mungkin, ia benar-benar belum pernah mempelajari Islam dan tidak tahu pentingnya shalat Jum’at bagi laki-laki.

5. Tersenyumlah

Tahukah kamu bahwa Rasulullah sangat suka tersenyum? Tapi sayangnya banyak ummat Muslim malah mengamalkan hal sebaliknya. Lebih sering terlihat merengut dan cemberut. Harapannya agar terlihat serius.

Tersenyum dan bersikap ramah adalah bagian dari akhlaq Nabi, yang mana harus kita amalkan dalam keseharian hidup kita. Jika kita ingin mendekatkan seseorang kepada Islam, maka kita musti membuat diri kita mudah didekati. Dan tersenyum adalah kuncinya.

Tapi catat, bahwa bersikap ramah bukan berarti “genit” kepada lawan jenis. Ada aturan dalam Islam bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan saling berinteraksi yang mana hal tersebut selayaknya dihormati. Sebagai contoh, dakwah bukanlah alasan untuk berlama-lama mengobrol dengan lawan jenis. Usahakan bagaimana lahan dakwah kamu sesama laki-laki atau sebaliknya.

6. Berinisiatif dan bergaul dengan mereka

Ambil langkah inisiatif dan ajak seseorang yang ingin kamu dakwahi untuk makan siang bersama, atau buat janji main futsal, atau undang ia berbuka puasa bersama.

Berbagi kesulitan dan kesedihan. Bantu mereka mengerjakan tugas, mendiskusikan masalah-masalah umum, menjadi pendengar setia bagi masalah pribadinya dan yang terpenting: menjaga rahasianya. Semua orang tidak suka pengadu dan pengkhianat. Kecuali jika masalahnya benar-benar serius (misal temanmu ingin bunuh diri atau mengkonsumsi obat-obatan), maka kamu harus memberitahu orang dewasa atau konsultasi dengan orang yang tepat.

7. Tunjukkan pada mereka bahwa Islam agama yang relevan sepanjang masa

Anak muda banyak yang berpikir kalau Islam itu terlalu kuno dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Buktikan kalau statement itu salah. Tunjukkan bahwa Islam itu tentang kaitannya kepada pencipta yaitu Allah, yang mana setiap manusia dapat melakukannya, di mana saja dan kapan saja.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” [QS: Qaf: 16]

Sampaikan padanya bahwa Allah melihat dan mendengar semuanya. Selalu ingatkan temanmu untuk meminta kepada Allah saat ujian atau menghadapi masalah dengan orang tua dan saudara di rumah. Juga tunjukkan bahwa dalam Islam, pemuda juga mempunyai bagian: Islam membuatmu fokus dan memberikan jawaban tentang siapa dirimu dan ke mana kamu akan pergi, yang mana budaya remaja saat ini kebanyakan tanpa arah dan tujuan yang jelas.

8. Ajak mereka untuk menjadi relawan

Jika kamu sudah masuk atau aktif di suatu komunitas, cari bantuan dari temanmu. Mintalah mereka untuk ikut berpartisipasi dalam suatu event atau ide untuk rencana kegiatan sekolahmu. Keterlibatan ini membuat mereka merasa menjadi bagian dari komunitas Muslim dan mempererat persahabatan kalian. Pastikan untuk berterimakasih atas kontribusi mereka.

9. Tanyakan 5 pertanyaan dasar kepada mereka

Selagi persahabatan kalian semakin berkembang, kamu akan menyadari topik yang kalian diskusikan akan semakin serius. Mungkin kalian akan membicarakan tentang tujuan dan rencana masa depan. Coba berikan empat pertanyaan berikut agar pembicaraan kalian bisa mengalir kepada topik tentang Allah dan Islam.

-Ke mana aku pergi dalam kehidupan ini dan apa yang akan membuatku benar-benar bahagia baik secara materi dan ruhani?
-Untuk apa aku hidup di dunia ini?
-Apa yang aku percayai?
-Kepada siapa aku harus bersyukur?
-Apakah aku bisa di sini sampai hari ini tanpa bantuan dari siapapun?

10. Tekankan pentingnya shalat 5 waktu lebih dari hal-hal duniawi lainnya

Hubungan utama antara manusia dan Allah, setiap harinya, dicapai dari shalat lima waktu. Jangan memaksa amalan-amalan lain hingga temanmu mulai mengerjakan dengan sungguh-sungguh shalat lima waktu. Tegaskan bahwa shalat adalah hubungan atau perantara langsung antara dia dan Allah.

Jika mereka mengalami masalah, beritahu mereka untuk berdo’a dan shalat. Jika memungkinkan, saat kalian sedang bersama dan tiba waktu shalat, ajak ia shalat berjama’ah. Jika temanmu mulai mau shalat, barulah kamu mengenalkan ia dengan ajaran-ajaran Islam yang lain, seperti bagaimana berpakaian yang benar sesuai tuntunan Islam, berhenti berkata-kata kotor, atau memperlakukan orangtua dengan hormat.

11. Bantulah mereka untuk menanamkan kepercayaan terhadap orang dewasa

Orang dewasa seringkali dianggap remeh oleh kebanyak anak remaja. Tugasmu sebagai pemuda Muslim adalah bagaimana bisa mengubah cara pandang ini. Hal yang kamu lakukan hanyalah ini: saat seorang Muslim mengerjakan sesuatu yang baik (misal seperti seseorang yang menyumbang uang untuk kepentingan orang banyak, seorang ustadz menyampaikan ceramah yang menarik, atau seorang ayah yang mengurus keluarganya dengan baik), masukkan mereka ke dalam percakapan bersama teman-temanmu dan angkatlah orang dewasa ke dalam topik. Melakukan ini secara terus menerus, harapannya akan menjadikan temanmu memandang kedua orang tua mereka dengan lebih hormat dari sebelumnya.

12. Dukung terus mereka, terlebih saat mereka mulai beramal

Ingatlah, hanya karena seseorang sudah mulai mengamalkan Islam dengan istiqamah, bukan berarti semuanya akan baik-baik saja seterusnya. Pasti akan ada saat-saat sulit, dan rintangan lainnya. Atau ketika muncul keraguan yang mana akan mengikis aqidah dan keimanan mereka. Selalulah ada untuk mereka dan yakinkan mereka.

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling nasehat-menasehati untuk mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati untuk bersabar.” QS. Al-‘Ashr : 2-3).*

oleh: Choirunisa Chaffinch,

Penulis pengajar di STIS Hidayatullah Putri Balikpapan – Hidayatullah.com